Mitos atau Fakta: Benarkah Bensin Dicampur Minyak Kayu Putih Bisa Tingkatkan Performa Mesin?

Satrio Jati • Dipublikasikan Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:53 WIB
Ilustrasi isi BBM untuk sepeda motor.
Ilustrasi isi BBM untuk sepeda motor.

Jawa Pos Radar Madiun - Klaim bahwa mencampurkan minyak kayu putih ke dalam bensin dapat membuat konsumsi bahan bakar lebih irit tengah ramai diperbincangkan di media sosial.

Berbagai unggahan menyebutkan bahwa racikan tersebut diklaim ampuh meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar kendaraan.

Informasi viral itu kemudian banyak dikaitkan dengan sejumlah penelitian di lingkungan perguruan tinggi mengenai pemanfaatan minyak kayu putih sebagai bioaditif pada bensin.

Lantas, benarkah campuran ini efektif dan aman bagi mesin?

Kandungan Kimia dan Hasil Penelitian

Secara kimiawi, minyak kayu putih tergolong minyak atsiri yang komponen utamanya adalah 1,8-cineole (eucalyptol).

Senyawa ini memiliki kandungan oksigen yang dinilai berpotensi membantu proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar menjadi lebih sempurna di dalam ruang mesin.

Beberapa penelitian akademis seperti dari Jurnal Transmisi Universitas Merdeka (UNMER) Malang, Jurnal Pendidikan Teknik Mesin (JPTM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), serta Utomo dan Arsana (2020) mencatat hasil pengujian berikut:

1. Honda CS1 150 PGM-FI

Penggunaan campuran sekitar 8 persen minyak kayu putih dilaporkan mampu menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 35,78 persen, menaikkan torsi 2,22 persen, meningkatkan daya 2,53 persen, serta menekan emisi gas buang karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC).

2. Honda Supra X 125R

Penambahan takaran sekitar 4 mililiter minyak kayu putih per liter bensin menunjukkan kecenderungan peningkatan performa sekaligus efisiensi BBM.

3. Motor 150 cc

Riset oleh Winoko dan Nugroho (2021) menemukan peningkatan daya mesin saat menggunakan campuran 6 persen. Namun, saat rasio dinaikkan menjadi 9 persen, hasilnya justru menurun (tidak optimal).

Meski menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut diuji secara terbatas dalam kondisi laboratorium dengan durasi pengujian yang relatif singkat.

Baca Juga: Hasil Semifinal Japan Open 2026: Kena Comeback Akane Yamaguchi, Putri KW Gagal ke Final

Ahli Peringatkan Risiko Jangka Panjang

Menanggapi fenomena ini, Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan bahwa penggunaan minyak kayu putih dalam jangka panjang berpotensi membawa risiko.

Karakteristik minyak atsiri tersebut berpotensi mengurangi lubricity atau kemampuan pelumasan bahan bakar jika digunakan terus-menerus.

Hingga saat ini, belum ada studi jangka panjang yang menjamin bahwa campuran ini aman terhadap keawetan komponen sistem bahan bakar maupun mesin kendaraan. 

Prof Tri juga menilai bahwa efek penghematan yang dirasakan masyarakat di jalan raya kemungkinan relatif kecil dan bisa dipengaruhi oleh sugesti atau persepsi pengguna.

Senada dengan hal tersebut, peneliti dari Balai Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS), Muhamad Fuad, mengakui bahwa minyak kayu putih merupakan kandidat bioaditif yang menarik berkat nilai kalor dan kandungan oksigennya.

Namun, pemanfaatannya sebagai aditif komersial masih memerlukan riset lanjutan, khususnya menyangkut stabilitas, kompatibilitas, serta dampaknya terhadap durabilitas mesin.

Mengacu pada penjelasan dari berbagai sumber relevan, menambahkan zat aditif buatan sendiri (termasuk minyak kayu putih) ke dalam BBM sangat tidak direkomendasikan.

Tindakan ini dapat mengubah spesifikasi standar bahan bakar yang telah ditetapkan oleh pihak produsen, sehingga berpotensi merusak kualitas awal BBM.

Dengan demikian, hingga saat ini belum bisa disimpulkan bahwa mencampur bensin dengan minyak kayu putih aman dan pasti irit untuk penggunaan harian, mengingat belum adanya uji ketahanan dalam pemakaian jangka panjang. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
bensin minyak kayu putih BBM irit