Pengguna Mobil Diesel Harap Bersiap, Mulai 1 Oktober Semua SPBU Jual BBM B50 dari Sawit

Dony Christiandi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 06:52 WIB
Ilustrasi BBM B50, campuran biodiesel dan olahan sawit. (ANTARA)
Ilustrasi BBM B50, campuran biodiesel dan olahan sawit. (ANTARA)

Jawa Pos Radar Madiun - Program ambisius transisi bahan bakar nabati terus digenjot oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pemerintah mematok target agar distribusi biodiesel 50 persen atau B50 bisa merata di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maksimal pada 1 Oktober 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan keseriusan target tersebut di Jakarta pada Senin.

“Target saya adalah 1 Oktober sudah full (tersalurkan) B50 di semua titik (SPBU),” kata Eniya Listiani Dewi.

Baca Juga: Daftar Wakil Indonesia di China Open 2026: Tantangan Fajar/Fikri Pertahankan Gelar 

Masa Transisi dan Evaluasi Akhir Tahun

Program mandatori pencampuran bahan bakar nabati ini sebenarnya telah resmi diluncurkan semenjak 1 Juli lalu.

Proses pelaksanaannya sengaja dirancang secara bertahap dengan memberikan kelonggaran masa transisi selama tiga bulan penuh.

Waktu tersebut diberikan agar tiap perusahaan memiliki ruang untuk menghabiskan sisa stok B40 sekaligus menyesuaikan sistem pencampuran (blending) menjadi B50.

Pemerintah nantinya akan melakukan peninjauan komprehensif pada akhir tahun untuk mengukur tingkat efektivitas distribusi di lapangan.

“Nanti di Desember yang selama empat bulan ini, pertama kita lihat transisi, apakah bisa berjalan dengan baik atau tidak. Apakah semua bisa dalam waktu tiga bulan itu menyelesaikan semua full B50,” ujar Eniya.

Sejauh ini, data terbaru dari Kementerian ESDM mencatat bahwa progres ketersediaan B50 baru menyentuh angka 57 persen dari total SPBU yang ada.

Baca Juga: Progres Sekolah Rakyat Kabupaten Madiun Capai 92 Persen, Target Fungsional 30 Juli

Tekan Emisi dan Hemat Ratusan Triliun

Penerapan B50 secara masif merupakan langkah strategis pemerintah untuk menguatkan ketahanan energi domestik sekaligus memangkas polusi karbon.

Melalui program ini, tingkat emisi gas rumah kaca diprediksi bakal merosot tajam hingga 44,46 juta ton ekuivalen CO2 sepanjang tahun 2026.

Pencapaian ini digadang-gadang akan jauh lebih besar dibandingkan hasil penghematan dari program B40 pada tahun 2025 lalu.

Langkah berani ini sekaligus menorehkan sejarah baru yang membuat Indonesia diakui sebagai negara pionir pertama di dunia dalam penerapan biodiesel 50 persen.

Selain memberikan dampak positif bagi lingkungan, kebijakan ini diyakini sanggup menyelamatkan devisa negara hingga Rp 170 triliun pada tahun ini.

Tidak berhenti di situ, nilai jual minyak kelapa sawit mentah (CPO) dipastikan akan terdongkrak naik diiringi dengan penyerapan tenaga kerja baru bagi sekitar 2,1 juta orang. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
biodiesel b50 sawit diesel BBM