Jawa Pos Radar Madiun - Perusahaan teknologi raksasa dunia, Qualcomm, dilaporkan berencana menaikkan harga produk prosesornya pada akhir musim panas tahun ini.
Laporan dari Bloomberg yang dikutip oleh Engadget pada Sabtu (25/7) menyebutkan bahwa langkah ini diyakini bakal memicu potensi lonjakan harga smartphone di pasaran.
Perusahaan multinasional yang bermarkas di Amerika Serikat tersebut dikabarkan telah mengirimkan surat edaran resmi kepada para pelanggannya.
Surat tersebut dikirimkan dengan tujuan untuk menginformasikan kepada para klien mengenai rencana perubahan harga produk dalam waktu dekat.
Qualcomm secara spesifik bermaksud menerapkan tarif baru yang lebih tinggi untuk seluruh produk yang dikirim setelah 1 September 2026.
Baca Juga: Sidang Korupsi Tanah Kas Desa Jenangan Ponorogo, Hakim Soroti Peran Sujarno Belum Jadi Tersangka
Krisis Rantai Pasok dan Biaya Komponen
Dalam pemberitahuan resminya, Qualcomm menjelaskan bahwa perusahaan tidak lagi sanggup menanggung beban biaya komponen yang semakin tinggi dari pihak pemasok.
Perusahaan juga menyampaikan kepada klien bahwa mereka sedang berusaha keras untuk mendapatkan suplai komponen alternatif dari sumber-sumber baru.
Sebagai informasi, cip rancangan Qualcomm selama ini sebagian besar diproduksi secara massal oleh perusahaan semikonduktor TSMC.
Sayangnya, TSMC saat ini diketahui sedang mengalami kendala rantai pasokan global yang cukup parah.
Sama seperti banyak perusahaan teknologi lainnya, Qualcomm turut merasakan dampak langsung dari kekurangan pasokan memori dan komponen inti.
Kelangkaan komponen ini sebagian besar diakibatkan oleh lonjakan permintaan raksasa untuk keperluan pembangunan pusat data kecerdasan artifisial (AI).
Baca Juga: Tampang Sangar GWM Ora 5 Varian Sport dan GT, Harganya Cuma Rp 158 Jutaan?
Dampak Penjualan dan Harga Perangkat
Selain harus menanggung ongkos produksi yang membengkak, perusahaan tersebut juga dilaporkan mengalami penurunan volume penjualan akhir-akhir ini.
Berdasarkan laporan Bloomberg, penjualan Qualcomm tahun ini ikut menurun karena kliennya tidak sanggup memproduksi perangkat sesuai target akibat krisis pasokan.
Meskipun dihadapkan pada tren yang sulit, perusahaan tercatat masih mampu membukukan pendapatan di atas perkiraan untuk kuartal kedua tahun 2026.
Rencana kenaikan harga prosesor Qualcomm ini dipastikan akan memberikan efek domino pada harga eceran berbagai merek perangkat.
Hal ini tidak lepas dari status Qualcomm sebagai salah satu produsen prosesor ponsel pintar terbesar di dunia yang mendominasi pasar Android.
Sebagian besar pabrikan smartphone sangat bergantung pada cip unggulan Qualcomm untuk menjadi otak dari perangkat flagship mereka.
Sejumlah perangkat populer yang sangat mengandalkan prosesor Qualcomm antara lain lini ponsel lipat Samsung, termasuk seri Galaxy Z Fold 8 Ultra, Fold 8, dan Flip 8.
Tidak hanya sebatas smartphone, cip buatan perusahaan itu juga menjadi dapur pacu krusial bagi PC Microsoft CoPilot+ serta perangkat pintar seperti kacamata Ray-Ban Meta. (naz)
Editor : Mizan AhsaniSumber : Endgadget, bloomberg, Radar Madiun