Jawa Pos Radar Madiun - Bayangkan suatu hari Anda datang ke kantor dengan mengenakan kacamata pintar, gelang berteknologi AI, atau pin kecil di pakaian yang terus mendengarkan percakapan.
Bukan sekadar aksesori, perangkat tersebut mampu mengenali apa yang dilihat, merekam pembicaraan, hingga memberikan saran berdasarkan aktivitas sehari-hari.
Gambaran yang dulu hanya muncul dalam film fiksi ilmiah kini mulai diwujudkan oleh sejumlah perusahaan teknologi.
Berbagai raksasa teknologi dan startup tengah berlomba mengembangkan perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat "melihat" maupun "mendengar" lingkungan sekitar pengguna.
Mereka meyakini perangkat tersebut akan menjadi generasi baru asisten digital yang jauh lebih personal dibanding smartphone.
Perangkat AI Tak Lagi Sekadar Membantu, tetapi Memahami Aktivitas Pengguna
Sejumlah perusahaan telah memperkenalkan perangkat AI dengan fungsi yang berbeda-beda.
Meta, misalnya, telah menjual jutaan kacamata pintar Ray-Ban AI yang dilengkapi kamera dan mikrofon.
Samsung juga dikabarkan akan meluncurkan smart glasses miliknya dalam waktu dekat.
Baca Juga: Kecelakaan Kerja Berujung Maut, Satu Kelalaian Kecil Berakhir Tragis bagi Seorang Petani
Selain itu, terdapat Amazon Bee Pioneer berupa gelang pintar yang dapat merekam percakapan serta Plaud Notepin S, alat perekam mungil yang bisa disematkan pada pakaian.
Teknologi tersebut memungkinkan AI memperoleh konteks langsung dari kehidupan penggunanya sehingga mampu memberikan rekomendasi yang lebih relevan, bahkan di masa depan diproyeksikan dapat menyelesaikan berbagai tugas secara otomatis.
Pengalaman Menggunakan Wearable AI, Praktis tetapi Tidak Selalu Nyaman
Jurnalis CNN Lisa Eadicicco mencoba menggunakan beberapa perangkat tersebut dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, menghadiri acara sosial, bepergian, hingga berlibur.
Salah satu pengalaman yang dianggap praktis terjadi saat berkunjung ke Lisbon, Portugal.
Menggunakan kacamata pintar Meta, ia cukup mengarahkan pandangan ke sebuah bangunan bersejarah, lalu AI segera mengenali objek tersebut dan memberikan informasi tanpa perlu membuka ponsel.
Perangkat Bee Pioneer juga dinilai membantu ketika menghadiri acara networking.
Setelah memperoleh izin dari lawan bicara untuk merekam percakapan, aplikasi AI bahkan menyarankan kontak yang perlu dihubungi kembali.
Namun dalam banyak kesempatan, perangkat tersebut justru lebih sering tersimpan di tas.
Alasannya sederhana: merekam percakapan teman atau rekan kerja terasa canggung meskipun telah meminta izin terlebih dahulu.
Baca Juga: Mitchel Baker Cetak Brace, Timnas Indonesia Bekuk Kamboja 3-0 di Babak Pertama Piala AFF 2026
AI Bisa Memberikan Saran yang Tidak Selalu Tepat
Kemampuan AI menganalisis percakapan juga memunculkan situasi yang tidak terduga.
Setelah mendengar percakapan mengenai rencana pindah rumah, Bee Pioneer menyarankan pengguna segera memesan jasa pindahan. Saran tersebut dianggap cukup membantu.
Namun AI kemudian menyimpulkan bahwa kepindahan tersebut memicu kecemasan terkait stabilitas hidup dan bahkan menyarankan pengguna memotret sudut favorit rumah lama sebagai kenang-kenangan.
Padahal, menurut pengguna, dirinya sama sekali tidak merasa cemas. Hal itu menunjukkan AI masih berpotensi salah menafsirkan konteks percakapan manusia.
Amazon menjelaskan sistem Bee akan terus belajar dari kebiasaan pengguna. Pengguna juga dapat menandai rekomendasi yang dianggap tidak akurat agar hasil berikutnya menjadi lebih relevan.
Perusahaan Teknologi Optimistis AI Wearable Menjadi Masa Depan
Produsen chip Qualcomm menilai berbagai perangkat seperti pin AI, kalung pintar hingga aksesori lain akan menjadi tren besar berikutnya.
Amazon juga memandang perangkat semacam Bee sebagai pelengkap asisten virtual Alexa karena AI membutuhkan lebih banyak konteks kehidupan pengguna agar mampu menjalankan berbagai tugas secara otomatis.
Sementara itu, CEO Plaud Nathan Xu menilai perangkat perekam AI suatu saat dapat membantu mempercepat pekerjaan sehingga jam kerja menjadi lebih singkat.
OpenAI bahkan mengungkapkan tengah mengembangkan keluarga perangkat keras AI baru.
Presiden OpenAI Greg Brockman menyebut penggunaan keyboard dan mouse suatu saat dapat tergantikan oleh cara interaksi yang lebih alami.
Baca Juga: Demokrat Mulai Panaskan Bursa Wabup Ponorogo, Dua Nama Resmi Muncul
Kekhawatiran Privasi Masih Menjadi Tantangan Besar
Di balik kecanggihannya, berbagai kalangan menilai teknologi tersebut membawa konsekuensi serius terhadap privasi.
Irina Raicu, Direktur Internet Ethics Program di Santa Clara University's Markkula Center for Applied Ethics, menilai perangkat wearable jauh lebih sulit dikenali dibanding ponsel sehingga persoalan persetujuan untuk direkam menjadi semakin rumit.
"So the whole notion of consent is kind of disintegrating."
Kekhawatiran serupa disampaikan Calli Schroeder dari Electronic Privacy Information Center (EPIC).
Menurutnya, perangkat dengan kamera dan mikrofon berpotensi disalahgunakan karena bisa dikenakan secara diam-diam di ruang privat.
"There are some real concerns with how this could be misused in dangerous ways."
Meta sendiri menyatakan telah menambahkan lampu indikator yang akan berkedip saat kamera digunakan untuk mengambil foto maupun video.
Lampu tersebut tidak dapat dimatikan agar orang di sekitar mengetahui ketika proses perekaman berlangsung.
Meski demikian, para pakar menilai indikator kecil pada kacamata, gelang, atau pin belum tentu mudah disadari orang lain.
Masa Depan AI Semakin Dekat
Perkembangan wearable AI menunjukkan bahwa perusahaan teknologi mulai menggeser fokus dari smartphone menuju perangkat yang selalu menemani aktivitas manusia.
Teknologi tersebut memang menawarkan kemudahan melalui asisten digital yang memahami konteks kehidupan penggunanya secara langsung.
Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan besar mengenai batas privasi, persetujuan, hingga keamanan data pribadi.
Perdebatan mengenai manfaat dan risiko perangkat AI wearable kemungkinan akan terus berkembang seiring semakin banyaknya produk serupa yang memasuki pasar global. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : CNN