Stigma Gen Z di Dunia Kerja Masih Berlanjut, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Benarkah Gen Z Malas Bekerja? (Pinterest)
Benarkah Gen Z Malas Bekerja? (Pinterest)

Jawa Pos Radar Madiun - Belakangan ini, anggapan bahwa Gen Z malas bekerja semakin sering muncul di media sosial maupun lingkungan profesional.

Banyak perusahaan mengeluhkan karyawan muda yang dinilai kurang loyal, mudah berpindah pekerjaan, hingga dianggap tidak memiliki etos kerja sekuat generasi sebelumnya.

Namun, benarkah masalahnya sesederhana itu?

Berbagai pengamat ketenagakerjaan justru menilai bahwa rendahnya keterlibatan (engagement) Gen Z di tempat kerja bukan semata-mata disebabkan oleh karakter generasinya. Lingkungan kerja, gaya kepemimpinan, hingga perubahan cara pandang terhadap karier juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku generasi ini.

Mengapa Gen Z Sering Dianggap Malas?

Salah satu alasan munculnya stigma tersebut adalah perbedaan ekspektasi antara Gen Z dengan generasi yang lebih senior.

Jika dulu loyalitas diukur dari lamanya seseorang bekerja di satu perusahaan, Gen Z lebih menilai pekerjaan dari peluang berkembang, keseimbangan hidup, dan makna yang mereka rasakan selama bekerja.

Akibatnya, ketika mereka memilih mengundurkan diri karena merasa tidak berkembang atau lingkungan kerja tidak sehat, keputusan tersebut sering diartikan sebagai kurangnya komitmen.

Padahal, bagi banyak pekerja muda, berpindah pekerjaan dianggap sebagai cara mempercepat perkembangan karier dan memperoleh pengalaman baru.

Keterlibatan Karyawan Menjadi Tantangan

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingkat employee engagement di berbagai perusahaan memang masih menjadi tantangan, termasuk pada kelompok pekerja muda.

Karyawan yang merasa tidak dihargai, jarang mendapat umpan balik, atau tidak memahami tujuan pekerjaannya cenderung kehilangan motivasi. Kondisi ini tidak hanya dialami Gen Z, tetapi juga dapat terjadi pada generasi lain.

Karena itu, sejumlah pakar sumber daya manusia menilai perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih terbuka, memberikan kesempatan belajar, serta membangun komunikasi dua arah dengan karyawan.

Gen Z Menginginkan Lingkungan Kerja yang Berbeda

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh bersama perkembangan teknologi digital dan budaya kerja yang lebih fleksibel.

Mereka cenderung menghargai sistem kerja yang memungkinkan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Selain itu, kesempatan mengembangkan keterampilan, mendapatkan mentoring, dan memperoleh jalur karier yang jelas juga menjadi faktor penting dalam mempertahankan motivasi mereka.

Hal tersebut sering kali disalahartikan sebagai sikap "pemilih", padahal lebih mencerminkan perubahan prioritas dalam dunia kerja modern.

Perusahaan Juga Perlu Beradaptasi

Banyak organisasi mulai menyadari bahwa mempertahankan talenta muda tidak cukup hanya dengan menawarkan gaji yang kompetitif.

Budaya kerja yang sehat, komunikasi yang terbuka, penghargaan terhadap kontribusi karyawan, serta kesempatan berkembang menjadi faktor yang semakin menentukan.

Pemimpin yang rutin memberikan arahan, mendengarkan masukan, dan melibatkan anggota tim dalam pengambilan keputusan dinilai mampu meningkatkan keterlibatan karyawan, termasuk dari kalangan Gen Z.

Dengan kata lain, engagement bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga hasil dari bagaimana perusahaan membangun lingkungan kerja yang mendukung.

Gen Z Tidak Malas, Dunia Kerjanya yang Sedang Berubah

Perdebatan mengenai apakah Gen Z malas bekerja kemungkinan masih akan terus berlangsung.

Namun, menyederhanakan persoalan hanya pada karakter generasi tertentu justru dapat menutup peluang untuk memahami perubahan yang sedang terjadi di dunia kerja.

Gen Z memang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap karier, tetapi mereka juga dikenal cepat belajar, akrab dengan teknologi, dan mampu beradaptasi dengan perubahan.

Bagi perusahaan, tantangan terbesar bukan sekadar menarik talenta muda, melainkan menciptakan lingkungan kerja yang mampu membuat mereka bertahan, berkembang, dan berkontribusi secara maksimal.

Dengan memahami kebutuhan kedua belah pihak, stigma mengenai Gen Z sebagai generasi yang malas bekerja dapat bergeser menjadi diskusi yang lebih konstruktif tentang masa depan dunia kerja. (Mahasiswi Magang Universitas Brawijaya, Sabrina Ika Ayu Wardhani)

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : Channel News Asia
dunia kerja Gen Z produktivitas kerja