Jawa Pos Radar Madiun – Sepeda gunung dan sepeda balap sama-sama bisa menjadi pilihan olahraga untuk meningkatkan kebugaran sekaligus membakar kalori.
Namun, jika dilakukan dalam durasi yang sama, mana yang lebih banyak menguras energi?
Secara umum, bersepeda gunung membutuhkan energi lebih besar.
Medan tidak rata, tanjakan, hambatan permukaan, hingga keterlibatan lebih banyak kelompok otot membuat tubuh bekerja lebih keras dibandingkan bersepeda di jalan beraspal.
Bahkan, pesepeda dengan berat badan sekitar 70 kilogram diperkirakan dapat membakar hingga 980 kalori per jam ketika mengendarai sepeda gunung dengan intensitas tinggi atau melewati jalur menanjak.
Meski demikian, bukan berarti road bike kalah telak. Sepeda balap yang dikendarai dengan kecepatan dan intensitas tinggi juga bisa menjadi olahraga pembakar kalori yang efektif.
Baca Juga: Hasil Hull City vs MU: Awal Pahit, Manchester United Kalah 0-2
Sepeda Gunung Libatkan Lebih Banyak Otot
Mengapa sepeda gunung cenderung membutuhkan energi lebih banyak? Salah satu jawabannya terletak pada karakter medan yang dilalui.
Pengendara mountain bike (MTB) harus terus menyesuaikan tubuh ketika menghadapi tanjakan, bebatuan, tanah longgar, lumpur, hingga berbagai rintangan teknis.
Tubuh pun tidak hanya mengandalkan kekuatan kaki untuk mengayuh.
Otot inti, bahu, lengan, hingga tubuh bagian atas ikut bekerja untuk menjaga keseimbangan, mengontrol sepeda, serta meredam benturan.
Ban MTB yang lebih lebar serta permukaan off-road juga menciptakan hambatan gulir lebih besar dibandingkan jalan beraspal.
Konsekuensinya, pengendara membutuhkan tenaga lebih banyak untuk mempertahankan laju.
Jalur teknis turut membuat intensitas latihan berubah-ubah.
Pada satu bagian pengendara mungkin mengayuh stabil, tetapi beberapa saat kemudian harus mengeluarkan tenaga eksplosif untuk menaklukkan tanjakan atau melewati rintangan.
Kondisi tersebut membuat detak jantung lebih sering meningkat dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan bersepeda gunung efektif untuk membakar kalori.
Bisa Tembus 980 Kalori dalam Satu Jam
Berdasarkan metode MET yang digunakan Compendium of Physical Activities, pesepeda berbobot 70 kg diperkirakan membakar sekitar 595 kalori per jam saat melakukan mountain biking intensitas ringan.
Jumlahnya meningkat signifikan ketika intensitas bersepeda semakin tinggi. Bersepeda gunung dengan intensitas berat atau melalui jalur menanjak memiliki nilai 14 MET.
Dengan berat badan yang sama, energi yang dikeluarkan diperkirakan mencapai 980 kalori per jam.
Sebagai perbandingan, mengendarai sepeda balap dengan intensitas sedang memiliki nilai sekitar 8 MET atau setara estimasi 560 kalori per jam bagi pesepeda berbobot 70 kilogram.
Ketika road bike dikendarai lebih agresif pada kecepatan sekitar 14–16 mph atau 22,5–25,7 kilometer per jam, nilainya meningkat menjadi sekitar 10 MET.
Estimasi energi yang dibakar pun mencapai 700 kalori per jam.
Artinya, perbedaan kalori bersepeda tidak semata-mata ditentukan jenis sepeda. Intensitas kayuhan memegang peranan besar.
Baca Juga: Oknum PPPK Ngawi Tersangkut Kasus Pencabulan, BKPSDM Bentuk Tim Pemeriksa
Sepeda Balap Bisa Mengejar Pembakaran Kalori MTB
Meski sepeda gunung unggul dalam aktivitas tipikal, road bike memiliki karakter latihan berbeda. Jalan yang relatif mulus memungkinkan pengendara terus mengayuh tanpa sering terganggu rintangan teknis.
Pesepeda dapat mempertahankan tenaga dan ritme kayuhan dalam durasi lebih panjang. Karakter tersebut efektif untuk melatih daya tahan kardiovaskular sekaligus menjaga pembakaran energi tetap konsisten.
Kecepatan kemudian menjadi faktor penting. Semakin cepat sepeda melaju, semakin besar hambatan udara yang harus dilawan pengendara.
Karena itu, mengendarai sepeda balap dengan kecepatan tinggi membutuhkan tenaga jauh lebih besar.
Pada intensitas tertentu, road biking bahkan dapat menyamai atau melampaui jumlah kalori yang dibakar ketika mengendarai MTB dengan santai.
Jadi, Mana yang Lebih Efektif?
Jika membandingkan aktivitas tipikal dalam durasi yang sama, bersepeda gunung cenderung unggul untuk membakar kalori.
Keterlibatan lebih banyak kelompok otot, hambatan permukaan, serta perubahan intensitas menjadi penyebabnya.
Namun, angka 595, 700, ataupun 980 kalori bukan patokan yang berlaku untuk semua orang.
Kalori bersepeda dapat berbeda berdasarkan berat badan, kondisi fisik, medan, kecepatan, cuaca, intensitas, hingga lamanya aktivitas.
Pilihan antara sepeda gunung dan sepeda balap pun sebaiknya tidak hanya ditentukan berdasarkan jumlah kalori yang dibakar.
Sepeda gunung cocok bagi mereka yang menyukai medan dinamis sekaligus ingin melatih kekuatan, keseimbangan, koordinasi, dan daya tahan.
Sementara sepeda balap menawarkan pengalaman berbeda bagi pesepeda yang menyukai kecepatan dan perjalanan panjang dengan ritme kayuhan lebih stabil.
Pada akhirnya, keduanya sama-sama memberikan manfaat kebugaran. Pilihan terbaik adalah jenis bersepeda yang sesuai kemampuan, medan favorit, dan bisa dilakukan secara aman serta konsisten. (naz)
Editor : Mizan AhsaniSumber : Polygon