Jawa Pos Radar Madiun - Honda Civic Nouva dan Estilo, Toyota Corolla, Mitsubishi Lancer hingga Galant masih terus mendapat tempat di kalangan pencinta otomotif.
Mobil Jepang 90-an yang pernah dianggap sekadar kendaraan lawas kini kian banyak dijumpai di berbagai tongkrongan, event otomotif, hingga garasi para enthusiast.
Ada yang direstorasi hingga mendekati kondisi orisinal, dibangun dengan konsep period correct, mengadopsi kultur JDM, atau dimodifikasi bergaya tuner era 1990-an.
Menariknya, demam tersebut tidak hanya melanda mereka yang pernah mengalami langsung era 90-an. Generasi muda yang bahkan lahir setelah periode itu berlalu ikut tertarik memburu mobil-mobil tersebut.
Mengapa bisa demikian?
Jawabannya ternyata bukan semata-mata soal mobil. Ada kultur otomotif dari era 90-an yang kembali hidup dan menemukan generasi penggemar baru.
Ketika Mobil Masih Sederhana dan Modifikasi Terasa Personal
Era 90-an memiliki cerita tersendiri dalam perkembangan dunia otomotif. Mobil relatif lebih sederhana dan modifikasi menjadi sarana pemilik menampilkan karakter maupun identitasnya.
Inspirasi ketika itu bukan berasal dari Instagram, TikTok, atau YouTube. Majalah, poster, film, video balap, game, serta komunitas menjadi rujukan utama.
Kultur tersebut berkembang pesat di Jepang dan Amerika Serikat sebelum menyebar ke berbagai negara. Jejaknya kemudian ikut memengaruhi perkembangan kultur mobil 90-an di Indonesia.
Karena itu, ketika melihat Civic lawas menggunakan velg bergaya klasik atau Mitsubishi Lancer dibangun dengan konsep street tuner, yang muncul bukan hanya mobil tua.
Ada representasi kultur otomotif lama yang dihidupkan kembali dengan interpretasi generasi sekarang.
Baca Juga: Gerhana Matahari Total: Momen Langka Kembali Terjadi di Belahan Bumi Utara
Berawal dari Mobil Harian yang Punya Potensi
Honda Civic, Toyota Supra, Nissan Skyline, Mitsubishi Lancer hingga Subaru Impreza mempunyai cerita panjang dalam perkembangan kultur tuner.
Sebagian mobil Jepang ketika itu menarik bagi kalangan muda karena relatif terjangkau, ringan, dan memiliki potensi untuk dikembangkan.
Mobil yang awalnya digunakan sebagai kendaraan harian mulai mendapat sentuhan pada mesin, suspensi, velg hingga eksterior. Eksperimen tersebut perlahan melahirkan kultur tuner yang kemudian berkembang menjadi salah satu bagian penting dunia modifikasi.
Keunikan lainnya, pemilik dapat membangun mobil sesuai selera. Ada yang berorientasi performa, mengejar tampilan, atau mengombinasikan keduanya.
Jauh sebelum media sosial hadir, majalah otomotif menjadi salah satu sumber referensi utama enthusiast.
Media otomotif Jepang seperti Option memperlihatkan beragam mobil dengan modifikasi mesin, suspensi, kaki-kaki, aerodinamika hingga penggunaan komponen aftermarket.
Video otomotif seperti Best Motoring juga ikut memperkenalkan performa mobil Jepang melalui pengujian dan pertarungan di sirkuit.
Pengaruh kultur tersebut kemudian menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia, majalah, tabloid otomotif, poster hingga komunitas menjadi sumber inspirasi bagi anak muda dalam membangun mobil.
Apa yang dilihat di media kemudian diterjemahkan ke mobil masing-masing sesuai kemampuan dan selera pemilik.
Dari banyak mobil Jepang, Honda Civic 90-an menjadi salah satu contoh paling mudah untuk melihat perkembangan kultur tersebut.
Bobot relatif ringan, karakter mesin yang menarik untuk dikembangkan, serta dukungan komponen aftermarket membuat Civic mendapat tempat di kalangan tuner.
Di Indonesia, Civic Nouva, Genio hingga Estilo memiliki penggemarnya masing-masing.
Mobil-mobil yang dahulu menjadi pemandangan biasa di jalan kini mempunyai daya tarik berbeda. Desain khas 90-an, karakter berkendara, hingga peluang modifikasi membuatnya kembali dicari enthusiast.
Kultur tuner tidak berhenti pada urusan performa. Seiring perkembangannya, tampilan mobil menjadi bagian yang sama pentingnya.
Pilihan velg, ketinggian suspensi, interior, audio hingga detail kecil dapat menunjukkan karakter pemilik.
Fenomena serupa kembali terlihat pada tren mobil Jepang lawas di Indonesia.
Ada pemilik yang mempertahankan OEM look, mengejar period correct, membangun konsep JDM, street racing, hingga sekadar merestorasi kendaraan seperti ketika keluar dari showroom.
Konsepnya boleh berbeda, tetapi terdapat benang merah yang sama: mobil dibangun agar memiliki identitas dan cerita.
Baca Juga: Tenar dan Mahal di Luar Negeri, Beginilah Manfaat Mengonsumsi Kelor
Gran Turismo Memperkenalkan Mobil Jepang ke Generasi PlayStation
Kultur mobil Jepang juga berkembang melampaui dunia nyata. Video game menjadi salah satu pintu masuk bagi generasi baru.
Gran Turismo yang hadir pertama kali pada akhir 1990-an memperkenalkan sederet mobil Jepang kepada pemain di berbagai belahan dunia.
Nissan Skyline GT-R, Mitsubishi Lancer Evolution, Subaru Impreza WRX STI hingga Toyota Supra menjadi mobil impian bagi banyak pemain.
Sebagian orang bahkan mengenal mobil-mobil tersebut pertama kali melalui layar PlayStation, bukan melihatnya langsung di jalan.
Ketika kemampuan finansial mereka tumbuh bertahun-tahun kemudian, mobil yang dahulu hanya bisa dikendarai secara virtual berubah menjadi kendaraan yang ingin dimiliki di dunia nyata.
Popularitas kultur tuner semakin meluas ketika film The Fast and the Furious hadir pada awal 2000-an.
Body kit, velg, turbo, nitrous oxide system (NOS), grafis bodi hingga street racing kemudian semakin dikenal masyarakat umum.
Pengaruhnya turut terasa di Indonesia dan membentuk tren modifikasi pada era tersebut.
Namun, film itu bukan titik awal kultur tuner.
Film Fast & Furious lebih tepat dilihat sebagai salah satu fenomena budaya pop yang membawa kultur otomotif yang sudah berkembang sebelumnya menuju audiens jauh lebih luas.
Kenapa Mobil Jepang 90-an Kembali Digemari?
Puluhan tahun berselang, daya tarik mobil era 90-an justru kembali menguat.
Bagi generasi yang tumbuh pada masa tersebut, mobil-mobil itu menawarkan nostalgia.
Mereka bisa kembali memiliki kendaraan yang dahulu pernah dipakai keluarga, dilihat di majalah, terpampang di poster kamar, atau sekadar menjadi mobil impian.
Sementara bagi generasi yang lebih muda, daya tariknya berbeda. Mobil 90-an menawarkan desain, mekanikal, dan karakter yang tidak selalu ditemukan pada kendaraan modern.
Ditambah lagi pengaruh media sosial membuat referensi modifikasi dari berbagai negara semakin mudah ditemukan.
Tren lama akhirnya bertemu dengan cara baru dalam mencari inspirasi dan membangun komunitas. (naz)
Editor : Mizan Ahsani