Jangan Asal Duduk saat Gowes, Kenali Posisi Berkendara MTB Sesuai Medan

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 12:03 WIB
MTB jenis enduro dirancang untuk jalur ekstrem dengan turunan curam dan medan berbatu. (Rodalink)
MTB jenis enduro dirancang untuk jalur ekstrem dengan turunan curam dan medan berbatu. (Rodalink)

Jawa Pos Radar Madiun – Mengendalikan sepeda MTB di jalur pegunungan bukan hanya perkara mengayuh dan memegang setang.

Posisi tubuh perlu menyesuaikan karakter medan agar keseimbangan, traksi, dan kontrol terhadap sepeda tetap terjaga.

Jalur yang mulus tentu membutuhkan sikap tubuh berbeda dibandingkan ketika menghadapi bebatuan, akar, tanjakan curam, maupun turunan.

Karena itu, pengendara perlu memahami kapan harus menggunakan posisi neutral, ready atau attack, climbing, hingga descending.

Kemampuan berpindah posisi sesuai kondisi trek juga membantu tubuh bereaksi ketika karakter jalur berubah. Berikut posisi berkendara MTB yang perlu dipahami.

1. Neutral Position untuk Trek yang Lebih Ringan

Neutral position atau posisi netral digunakan ketika melintasi trek mulus, tikungan ringan, dan medan yang relatif mudah. Fokus utamanya adalah menjaga keseimbangan sekaligus membuat tubuh siap bereaksi jika kondisi jalur tiba-tiba berubah.

Dalam posisi ini, kedua pedal sebaiknya dibuat sejajar pada posisi pukul 3 dan 9. Posisi tersebut menciptakan pijakan yang lebih stabil.

Lutut dan siku jangan dikunci. Tekuk sedikit agar tubuh tetap rileks dan lebih leluasa mengikuti gerakan sepeda.

Kepala tetap tegak dengan pandangan diarahkan ke jalur di depan. Berat badan ditempatkan seimbang di antara roda depan dan belakang untuk mempertahankan traksi serta kestabilan.

Pegangan pada setang juga tidak perlu terlalu kuat. Genggaman ringan membantu kemudi tetap nyaman dan terkontrol.

Secara umum, neutral position MTB cocok digunakan ketika melaju santai atau melewati bagian trek yang tidak terlalu teknis.

Baca Juga: Hari Pelanggan Nasional 2026, Yamaha Beri Pelayanan Spesial Konsumen Sekaligus Dengarkan Masukan

2. Attack Position Saat Trek Mulai Menantang

Begitu memasuki jalur berbatu, akar, drop, lompatan, atau medan teknis lainnya, posisi tubuh perlu berubah menjadi ready atau attack position MTB.

Berbeda dari posisi netral, tubuh harus lebih aktif agar mampu menyerap benturan sekaligus menjaga keseimbangan.

Pengendara perlu berdiri dari sadel sehingga sepeda memiliki ruang lebih besar untuk bergerak mengikuti kontur trek. Lutut dan siku ditekuk lebih dalam agar lengan serta kaki dapat berfungsi membantu meredam guncangan.

Dada sedikit direndahkan untuk meningkatkan stabilitas, tetapi hindari memindahkan berat badan terlalu jauh ke depan. Tumit juga sedikit diturunkan untuk mempertahankan pijakan yang stabil pada pedal.

Prinsip penting dalam posisi ini adalah heavy feet, light hands. Sebagian besar berat tubuh ditumpukan melalui kaki, sedangkan tangan tetap ringan ketika memegang setang.

Tubuh juga perlu dijaga tetap rileks. Posisi terlalu kaku justru membuat kemampuan tubuh menyerap benturan berkurang ketika menghadapi bagian trek yang teknis.

3. Climbing Position Saat Melibas Tanjakan

Teknik berbeda kembali dibutuhkan ketika menghadapi tanjakan. Climbing position MTB bertujuan menjaga roda depan agar tidak terangkat tanpa kehilangan traksi pada roda belakang.

Pengendara dapat tetap duduk atau sedikit mengangkat tubuh dari sadel. Tubuh bagian atas kemudian digeser ke depan untuk membantu roda depan tetap menapak sekaligus menjaga kendali arah.

Siku harus tetap rileks dan tidak terkunci. Gerakan mengayuh juga perlu dibuat halus agar tenaga tersalurkan secara konsisten dan traksi roda belakang tetap terjaga.

Ketika tanjakan semakin curam, dada dapat direndahkan untuk menggeser bobot ke depan tanpa mengorbankan keseimbangan.

Kuncinya adalah menemukan titik yang tepat. Duduk terlalu jauh ke belakang dapat membuat roda depan mudah kehilangan arah, sedangkan posisi tubuh terlalu maju berpotensi mengurangi traksi roda belakang.

Baca Juga: Aspar Team Posting Foto Veda Ega Pratama, Kode Duetkan dengan Maximo Quiles Musim Depan?

4. Descending Position untuk Turunan Curam

Ketika trek berubah menjadi turunan, pengendara membutuhkan descending position MTB. Posisi ini dirancang untuk menjaga stabilitas dan kontrol ketika melaju menuruni jalur curam.

Tekniknya bukan sekadar menarik tubuh sejauh mungkin ke belakang. Pendekatan berkendara MTB modern lebih menekankan posisi tubuh yang seimbang dan tetap berada di tengah sepeda.

Tumit diturunkan untuk membantu menciptakan pijakan yang stabil. Tubuh diangkat dari sadel agar sepeda memiliki ruang untuk bergerak mengikuti permukaan trek.

Lengan dan kaki tetap ditekuk sehingga dapat membantu menyerap benturan. Pinggul dapat digeser sedikit ke belakang sembari mempertahankan posisi tubuh tetap seimbang terhadap sepeda.

Pandangan juga harus diarahkan jauh ke depan, bukan terpaku pada roda depan. Dengan begitu, pengendara memiliki waktu lebih banyak untuk membaca dan mengantisipasi rintangan berikutnya.

Tidak Ada Satu Posisi untuk Semua Trek

Satu hal penting yang perlu dipahami, tidak ada satu posisi berkendara MTB yang cocok untuk seluruh kondisi jalur. Posisi tubuh harus berubah mengikuti karakter medan yang sedang dihadapi.

Saat tidak mengayuh, usahakan pedal tetap sejajar dan tubuh rileks. Pandangan juga harus terus diarahkan ke depan untuk membaca perubahan trek.

Lengan dan kaki dapat bekerja layaknya suspensi alami tubuh. Keduanya membantu menyerap benturan sekaligus mempertahankan keseimbangan dan kontrol terhadap sepeda.

Semakin sering berlatih, perpindahan antara neutral, attack, climbing, dan descending position akan terasa semakin natural. Kemampuan itulah yang membantu pengendara menghadapi karakter trek MTB yang lebih beragam dengan kontrol lebih baik. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
sepeda mtb MTB sepeda gunung tips bersepeda