Jawa Pos Radar Madiun – Lapisan abu vulkanik yang menempel cukup tebal pada kendaraan mengagetkan warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Namun, pemilik mobil disarankan tidak terburu-buru mengambil lap untuk membersihkannya.
Abu tersebut berbeda dengan debu jalanan yang bisa dengan mudah diseka dari permukaan kendaraan. Material vulkanik dapat mengandung partikel keras dan abrasif yang justru berpotensi menggores cat maupun kaca apabila digosok dalam kondisi kering.
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengingatkan pemilik kendaraan agar memperhatikan karakter material tersebut sebelum membersihkan mobil.
“Partikelnya dapat mengandung material mineral dan pecahan vulkanik yang keras serta abrasif. Kalau langsung dilap atau digosok dalam keadaan kering, bisa menimbulkan goresan halus pada clear coat maupun kaca,” kata Yannes kepada ANTARA, Minggu (6/9).
Jangan Perlakukan seperti Debu Biasa
Persoalannya bukan hanya lapisan abu yang membuat kendaraan terlihat kotor.
Gesekan antara partikel vulkanik dan permukaan kendaraan dapat memunculkan goresan halus. Baret tersebut bahkan mungkin baru terlihat jelas setelah mobil selesai dibersihkan.
Karena itu, abu vulkanik di Jabodetabek yang menempel pada kendaraan perlu ditangani dengan cara berbeda dibandingkan debu sehari-hari.
Risiko lainnya muncul ketika abu bertemu dengan air, embun, maupun gerimis.
Jika campuran tersebut dibiarkan menempel dan mengering dalam waktu lama, endapannya berpotensi menciptakan kondisi yang lebih korosif terhadap permukaan kendaraan.
Mobil Sudah Penuh Abu? Jangan Ambil Lap
Lantas, apa yang harus dilakukan ketika mobil terkena abu vulkanik?
Langkah pertama justru tidak membutuhkan lap maupun spons.
Pemilik kendaraan disarankan membilas mobil menggunakan air mengalir dalam jumlah cukup. Guyuran dilakukan mulai dari bagian atas kendaraan kemudian bergerak ke bawah.
Tujuannya agar sebanyak mungkin partikel vulkanik terangkat tanpa terjadi gesekan dengan permukaan cat maupun kaca.
Setelah mayoritas abu berhasil diluruhkan, proses pencucian dapat dilanjutkan menggunakan sampo mobil.
Kendaraan kemudian dibilas kembali. Kain mikrofiber baru digunakan setelah partikel abrasif yang menempel telah dibersihkan.
Dengan urutan tersebut, risiko menyeret butiran abu di sepanjang permukaan kendaraan dapat diminimalkan.
Baca Juga: Sekolah Terapkan PJJ akibat Erupsi Anak Krakatau, Bagaimana Nasib MBG?
Jangan Aktifkan Wiper saat Kaca Masih Kering
Kaca depan menjadi bagian lain yang membutuhkan perhatian.
Ketika kaca masih dipenuhi abu, pengemudi sebaiknya tidak langsung menyalakan wiper.
Karet wiper yang bergerak di atas kaca dapat menyeret partikel keras tersebut. Efeknya tidak jauh berbeda dengan menggosok abu menggunakan lap dalam kondisi kering.
Sebelum pembilasan, wiper sebaiknya diangkat.
Setelah abu pada kaca berhasil disingkirkan, karet wiper juga perlu dibersihkan dalam keadaan basah sebelum digunakan kembali.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari cara membersihkan abu vulkanik dari mobil karena partikel yang tertinggal pada karet berpotensi kembali bergesekan dengan kaca.
Air Sedikit Bukan Solusi
Pemilik kendaraan juga perlu menghindari cara setengah-setengah.
Membasahi abu dengan sedikit air lalu membiarkannya kembali mengering bukan langkah yang dianjurkan.
“Yang perlu dihindari adalah membasahi abu sedikit lalu membiarkannya mengering kembali di permukaan kendaraan. Air dalam jumlah cukup untuk membilas seluruh partikel justru menjadi cara paling aman,” ucap Yannes.
Artinya, air digunakan untuk benar-benar meluruhkan material dari permukaan, bukan sekadar membuat lapisan abu menjadi basah.
Setelah itu, barulah tahapan pencucian kendaraan dilakukan seperti biasa.
Baca Juga: Daftar 16 Tim Negara Lolos Piala Asia U-20 2027: Garuda Muda Singkirkan Juara Bertahan
Car Cover Bisa Melindungi, tapi Ada Syaratnya
Bagi kendaraan yang belum terkena abu, langkah pencegahan bisa dilakukan dengan memarkirkannya di tempat tertutup.
Car cover juga dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan.
Namun, kondisi permukaan mobil perlu diperhatikan sebelum penutup dipasang.
Jika kendaraan sudah dipenuhi abu vulkanik pada kendaraan, jangan memasang atau menggeser car cover secara sembarangan.
Kain penutup yang bergesekan dengan partikel vulkanik berpotensi menyeret material keras di atas cat dan meningkatkan risiko baret.
Karena itu, car cover lebih tepat digunakan pada kendaraan yang permukaannya masih bersih.
Salah Bersihkan, Baret Bisa Muncul Belakangan
Fenomena abu yang menempel pada kendaraan warga Jabodetabek sekaligus menjadi pengingat bahwa material vulkanik tidak dapat diperlakukan layaknya debu jalanan.
Prinsip membersihkannya justru menghindari gesekan sebanyak mungkin pada tahap awal. Jangan langsung mengelap bodi, jangan mengaktifkan wiper ketika kaca masih kering, serta jangan sekadar membasahi abu kemudian membiarkannya kembali mengering.
Gunakan air mengalir dalam jumlah cukup untuk mengangkat endapan terlebih dahulu. Setelah abu luruh, barulah mobil dapat dicuci menggunakan sampo dan kemudian dikeringkan dengan kain mikrofiber.
Sebab, risiko abu vulkanik pada mobil tidak berhenti pada kendaraan yang terlihat kotor. Kesalahan kecil saat membersihkannya bisa meninggalkan goresan yang justru baru tampak setelah seluruh lapisan abu hilang. (naz)
Editor : Mizan Ahsani