PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Coretan tak beraturan sekalipun memiliki makna bagi pekerja seni. Apalagi bagi Alfi Na’imatu Safa’ati, seorang pelukis beraliran abstrak. Dia juga suka memilih warna-warna mencolok hingga lukisannya condong ke karya kontemporer. Sedari masih duduk di bangku SMA, Alfi sudah bergabung dalam grup WhatsApp (WA) sejumlah seniman di Jawa Timur. ‘’Dari situ saya mengenal lukisan abstrak,’’ kata Alfi, Jumat (3/12).
Perempuan yang kini berusia 23 tahun itu sengaja meng-upload lukisannya. Para senior di grup WA memberikan koreksi hingga karya Alfi kian hari semakin menemukan bentuknya. Dia nyaris setiap hari melukis untuk memenuhi feed (beranda) Instagram miliknya. Sebelum ke gaya abstrak dan kontemporer, Alfi sempat melukis wajah manusia atau tokoh-tokoh kartun. ‘’Belajar juga dari internet, saya banyak meniru karya pelukis luar negeri,’’ ungkapnya.
Tantangan datang ke Alfi ketika ada pemesan yang meminta lukisan abstrak dengan pola tertentu. Warga Kelurahan Patihan Kidul, Siman, Ponorogo, itu tak menolaknya. Kendati tak beraturan, lukisan abstrak memiliki makna yang dapat terungkap melalui pilihan warna. ‘’Makna yang ditangkap masing-masing orang bisa berbeda,’’ ujarnya.
Alfi biasa menggunakan kapi plastik khusus plamir untuk menyapukan cat minyak di atas kanvas. Dia biasa melukis di kamar. Putri pasangan Asmuri-Sujarwati itu memilih waktu pagi untuk melakukan aktivitas kreatifnya. Tujuan awalnya ingin sekadar berkarya, namun Alfi juga mengangankan lukisannya terkenal. ‘’Saya harus rajin mem-posting karya agar dikenal,’’ ucap Alfi yang mengidolakan Cathrin Machin, pelukis asal Australia, itu.
Pun, lukisan abstrak karya Alfi mengundang peminat dari hasil posting-an. Harga yang dipatok relatif, bergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Dia juga kerap mem-posting lukisan abstrak ukuran 30x40 sentimeter dan 60x80 sentimeter. Setiap bulan selalu saja ada peminat lukisan abstrak itu. ‘’Satu lukisan saya selesaikan dalam tiga hari,’’ akunya.
Alfi sejak kecil sudah senang menggambar. Selalu tak ketinggalan mengikuti lomba tingkat TK atau SD. Pernah pula meraih juara lomba tingkat kabupaten ketika SMP. Sewaktu kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Ponorogo, banyak temannya memesan lukisan sebagai kado ulang tahun. ‘’Saya buka akun e-commerce sekalian. Melukis sudah menjadi pilihan saya, bekerja sesuai hobi,’’ tuturnya. (tr2/hw/c1)
Editor : Hengky Ristanto