KOREA SELATAN, Jawa Pos Radar Madiun - Gempa berkekuatan 7,6 skala richter di wilayah Noto, Prefektur Ishikawa, Jepang, pada Senin (1/1) kemarin juga berimbas ke negara-negara sekitarnya.
Salah satunya Korea Selatan. Dilansir dari JawaPos.com hari Selasa (2/1), dikabarkan bahwa Korea Selatan langsung mengeluarkan peringatan potensi bencana tsunami, tak lama setelah gempa Jepang terjadi.
Peringatan potensi itu ternyata benar adanya. Tsunami terjadi di lepas pantai timur Korea Selatan, kota pesisir Gangneung, dengan ketinggian gelombang mencapai 39 cm.
Gelombang tinggi itu terjadi hanya berselang dua jam setelah gempa mengguncang Jepang, pada hari Senin (1/1) sore.
Tsunami kemudian kembali terjadi di lepas pantai Mukho di kota pesisir timur Donghae, 182 kilometer timur Seoul, pada hari Senin pukul 20.35 waktu setempat. Konon, gelombang tsunami terjadi setinggi 85 cm.
Selain itu, Administrasi Meteorologi Korea (KMA), juga melaporkan bahwa antara pukul 8 hingga 9 pada Senin malam, terdeteksi beberapa kali tsunami dengan skala yang lebih kecil.
Laporan tersebut berada di kota terdekat Sokcho dan Samcheok, keduanya mengalami gelombang setinggi masing-masing 45 cm dan 33 cm.
Kemudian juga daerah Uljin di sepanjang bagian bawah pantai timur, mengalami gelombang tsunami setinggi 66 cm.
Salah satu pejabat KMA, mengatakan bahwa tsunami dengan skala kecil masih terjadi bahkan hingga hari ini.
Katanya, pada pagi ini, Selasa (2/1) sekitar pukul 08.00 waktu setempat, tsunami kembali terjadi dengan ketinggian 10 cm.
Karenanya, masyarakat di sekitar pesisir pun diimbau untuk waspada terhadap potensi bencana.
“Jika tidak terjadi gempa bumi yang lebih kuat, kemungkinan besar tsunami yang lebih besar dari yang diamati sejauh ini tidak akan terjadi,” kata pejabat tersebut.
Editor : Budhi Prasetya