Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Dilema Menjadi Jurnalis di Gaza: Meliput atau Menolong Korban?

Mizan Ahsani • Selasa, 16 Januari 2024 | 01:30 WIB
DUKA MENDALAM: Foto warga Palestina yang tewas di Gaza selama konflik berdarah Hamas dengan Israel. (ANTARA)
DUKA MENDALAM: Foto warga Palestina yang tewas di Gaza selama konflik berdarah Hamas dengan Israel. (ANTARA)

Jawa Pos Radar Madiun - Serba dilematis. Menjadi seorang jurnalis atau pewarta di daerah konflik tidaklah mudah. Tugas meliput bisa membuat pikiran dan hati berkecamuk.

Antara menjalankan tugas sebagai jurnalis, atau mengedepankan sikap-sikap kemanusiaan.

Hal itu dirasakan jurnalis yang bertugas meliput konflik di Gaza.

Mustafa Hassouna, jurnalis foto Anadolu Agency, mengungkapkan perasaannya campur aduk saat sampai di Gaza yang diserang Israel sebelum bantuan pertama datang.

Dia menghadapi dilema antara menjalankan profesi atau menolong korban.

"Anda melihat orang-orang terluka, terpotong-potong, dan hancur. Ada pula orang-orang yang masih hidup meminta bantuan kepada Anda," sebutnya, dikutip dari ANTARA.

"Saat itulah Anda berada dalam dilema, antara terus bertugas atau membantu mereka tanpa menunggu pertolongan pertama," sambung Hassouna.

Dia mempertaruhkan nyawanya demi mengabadikan penderitaan rakyat Palestina yang terkena serangan Israel di Gaza selama tiga bulan.

Di tengah pemboman yang tiada henti, dia kadang dihadapkan kepada dilema, apakah mesti terus menjalankan profesinya atau menolong sesamanya. 

Saat menyaksikan rumah-rumah hancur, Hassouna justru terkenang istri dan anak-anaknya sendiri.

Apa yang membuatnya tetap tegar menjalankan profesinya adalah keinginannya untuk mengungkapkan peristiwa yang terjadi di Gaza agar diketahui oleh seluruh dunia.

Tentu, dengan segala kerumitannya.

Hassouna mengungkapkan kondisi kerja jurnalis di Gaza dalam diskusi yang diadakan dalam sebuah lokakarya Anadolu pada 10 Januari untuk memperingati Hari Pers di sana.

Hassouna mengungkapkan bahwa perang di Gaza sangat berbeda dengan lima perang lain yang pernah diliputnya sejak 2012.

"Sebagai wartawan, saya juga bisa mengatakan dari sudut pandang profesional Anda menghadapi tentara Israel, dan agresivitas tentara Israel tidak ada batasnya," beber Hassouna.

"Anda menghadapi tentara dan negara itu. Tak adanya batasan dalam agresi ini membuat Anda luar biasa cemas, sekalipun Anda wartawan," imbuhnya. 

Hassouna menyatakan bahwa menjadi jurnalis yang bertugas di Gaza sangat berbeda dengan kondisi ketika bertugas di negara lain.

"Rekan-rekan saya banyak yang menjadi sasaran. Beban akibat situasi ini semakin bertambah karena Anda bisa menjadi sasaran kapan pun," ungkap pewarta media asal Turkiye itu.

Menurut Hassouna, banyak tantangan berat yang harus dihadapi saat berpindah dari satu masalah ke masalah lainnya.

Dia mengungkapkan masalahnya bukan finansial karena kalaupun ada uang, tetap tak bisa digunakan.

"Kadang tidak ada bahan bakar ataupun kendaraan. Seringkali, tidak ada listrik atau internet. Ketika tidak ada listrik dan internet, kami fokus ke tempat di mana terdengar suara," bebernya.

Hassouna lalu membeberkan kesulitan yang dihadapinya saat harus mengirimkan berita karena tidak ada internet dan listrik.

Wartawan bahkan harus mempertaruhkan nyawa pada saat-saat tertentu.

"Kami kadang-kadang harus menggunakan kartu SIM Israel agar berita bisa terkirim. Namun, kartu SIM Israel tak berfungsi di Gaza."

"Kami pun mesti pergi ke perbatasan, padahal daerah perbatasan adalah zona paling berbahaya dan kami bisa menjadi sasaran tembak tentara Israel kapan saja," kata dia.

Hassouna menambahkan ada kemungkinan wartawan menjadi sasaran saat terjadi baku tembak.

"Israel tak hanya merampas hak dan hak istimewa yang mungkin dimiliki seorang wartawan, tetapi juga hak asasi manusia yang paling mendasar," ungkapnya. (antara/naz)

Editor : Mizan Ahsani
#berita #meliput #gaza #palestina #israel #jurnalis