Jawa Pos Radar Madiun - Jet tempur Chengdu J-10C buatan China kini menjadi sorotan dunia setelah dilaporkan terlibat dalam konflik udara terbaru antara India dan Pakistan.
Dikenal dengan julukan “Vigorous Dragon”, pesawat tempur generasi ketiga ini bukan hanya simbol kekuatan udara militer China, tetapi juga menjadi ujung tombak pertahanan udara Pakistan melalui varian ekspor J-10CE.
Jet ini dilengkapi dengan radar canggih AESA (Active Electronically Scanned Array) yang mampu melacak hingga 15 target dan menyerang enam di antaranya secara bersamaan.
Dalam dunia modern tempur udara, kemampuan ini menjadikan J-10C sebagai pesaing serius bagi jet Rafale buatan Prancis yang digunakan oleh Angkatan Udara India.
Performa dan Persenjataan J-10C yang Bikin Ngeri
Secara teknis, J-10C dapat melesat hingga kecepatan Mach 1.8 dan menempuh jarak operasional mencapai 3.400 kilometer berkat tambahan tangki bahan bakar eksternal.
Jantung kekuatannya ditopang oleh mesin WS-10B buatan dalam negeri China, yang memungkinkan manuver ekstrem dengan fitur thrust vectoring.
Urusan senjata? Jet ini siap tempur habis-habisan. Persenjataannya meliputi rudal udara-ke-udara PL-15 dengan jangkauan hingga 300 km, rudal serang darat KD-88, serta bom berpemandu presisi.
Dengan 11 hardpoint, J-10 bisa membawa beban hingga 6.000 kg termasuk senjata dan bahan bakar tambahan.
Pakistan dan J-10CE: Strategi Menang Lawan Rafale
Pakistan memanfaatkan varian J-10CE untuk memperkuat posisi mereka di udara, khususnya menghadapi ancaman dari India.
Dalam insiden udara yang terjadi pada akhir April 2025, jet Rafale India yang membawa bom presisi Spice 2000 diklaim berhasil dijatuhkan oleh J-10 milik Pakistan, meski belum ada konfirmasi independen yang bisa memverifikasi klaim tersebut.
Sebelumnya, J-10 juga dilibatkan dalam operasi terhadap kelompok separatis di Iran, menegaskan perannya sebagai pesawat serang serba bisa dan tak hanya terbatas pada dogfight.
Desain, Stealth, dan Dominasi Udara
Dengan konfigurasi canard-delta wing, J-10C dirancang untuk kelincahan maksimal. Ini membuatnya unggul dalam pertempuran jarak dekat.
Fitur semi-stealth dan material komposit turut menyamarkan pesawat dari radar lawan, memperkecil kemungkinan terdeteksi sebelum menyerang.
Bahkan laporan pada 2024 menyebut, J-10C mengungguli Eurofighter Typhoon dalam latihan dengan skor 9:0.
Meskipun belum dikonfirmasi, kabar ini memperkuat citra J-10 sebagai jet multiperan yang sangat berbahaya.
Jet Tempur China, Investasi Global yang Menggoda
Keberhasilan J-10C di pasar ekspor, khususnya di Pakistan, menunjukkan potensi besarnya dalam kompetisi global melawan produk Barat seperti F-16 atau Rafale.
Saham Chengdu Aircraft Company dilaporkan melonjak lebih dari 30% usai keberhasilan operasional J-10C di kawasan konflik.
Menurut pakar pertahanan David Jordan dari King’s College London, J-10C bisa disandingkan dengan F-16 versi terbaru, namun dengan keunggulan pada sistem rudal jarak jauh yang membuatnya unggul dalam skenario tertentu.
J-10C, Game Changer Udara dari Timur
Chengdu J-10C bukan sekadar pesawat tempur. Ia adalah simbol kebangkitan teknologi militer China dan alat strategis yang kini menjadi perhatian dunia.
Dengan kemampuannya mengimbangi bahkan mengungguli jet-jet tempur Barat, serta keberhasilannya di langit Pakistan, J-10C telah menunjukkan bahwa dominasi udara tak lagi dimonopoli oleh Barat. (ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira