Jawa Pos Radar Madiun - Gejolak pasar properti di Hong Kong tak hanya menghantam warga biasa.
Para keluarga kaya pun mulai menjual rumah-rumah mewah mereka untuk menutup utang yang menumpuk, seiring penurunan harga rumah dan sewa yang semakin drastis.
Menurut laporan The Straits Times dan Bloomberg, beberapa konglomerat dan investor papan atas Hong Kong mulai melepas aset utama mereka.
Salah satunya adalah Chan Ping Che, pengusaha legendaris yang dikenal sebagai Raja Kaset Hong Kong.
Dia terpaksa menjual vila berpemandangan laut senilai HK$430 juta atau setara Rp 840 miliar untuk menutup utang Rp 700 miliar.
Sementara itu, Jacinto Tong, CEO perusahaan investasi Gale Well Group, juga menjual penthouse miliknya senilai HK$138 juta atau Rp 276 miliar pada April lalu.
Harga Properti Menyentuh Titik Terendah 8 Tahun
Situasi ini merupakan dampak dari suku bunga tinggi berkepanjangan, serta kejatuhan harga properti yang belum juga pulih sejak puncaknya di 2021.
Indeks Centa-City menunjukkan bahwa harga perumahan saat ini 29 persen di bawah harga tertinggi, menjadikan ini penurunan terpanjang dalam sejarah properti Hong Kong.
Bahkan, Colliers International memprediksi harga sewa akan turun hingga 10 persen pada 2025, disebabkan banyaknya ruang perkantoran dan rumah yang kosong.
Efek Domino dari Utang dan Leverage
Christopher So, partner di PricewaterhouseCoopers Hong Kong, memandang situasi di negara tersebut sebagai buah dari kekeliruan investasi.
"Orang sering membeli properti dengan leverage tinggi, berharap mendapat untung saat harga naik. Tapi saat harga turun, kerugiannya juga berlipat," ujarnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada arus kas dan risiko gagal bayar.
Saat pemasukan dari sewa menurun, utang jadi sulit dilunasi, dan para pemilik rumah pun dipaksa menjual aset demi bertahan.
Chan Ping Che, yang dikenal jago berinvestasi di real estate, sebelumnya membeli banyak unit apartemen, toko, dan tempat parkir.
Pada 2017, ia bahkan menghabiskan lebih dari US$5,2 miliar untuk menguasai sebagian besar lantai gedung Center—ikon properti di distrik bisnis Hong Kong.
Namun, pada 2024, ia menjual dua lantai ke DBS Bank senilai HK$1,3 miliar, lebih rendah dari harga beli.
Nasib serupa dialami Ho Shung Pun, pemimpin salah satu klan lokal, yang harus menjual tujuh rumah mewah pada 2024 untuk melunasi pinjaman pribadi.
Sementara itu, Jacinto dan Rita Tong dari Gale Well Group juga melepas aset senilai total HK$2,2 miliar pada 2025.
Dalam unggahan Facebook November 2024, Jacinto menyatakan bahwa menghindari ekuitas negatif jauh lebih penting daripada mencetak untung.
Kini, banyak rumah tangga kaya mengalami ekuitas negatif, yaitu ketika nilai properti mereka lebih kecil dari utang hipotek.
Data pemerintah menyebutkan angkanya melonjak ke level tertinggi sejak 2003.
Meski ada peningkatan transaksi rumah mewah sejak akhir 2024, harga tetap tak bergerak naik.
Penyebabnya, pasar masih dibanjiri aset bermasalah yang dijual murah demi menyelamatkan likuiditas.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa utang dan krisis ekonomi bisa menimpa siapa saja, bahkan mereka yang semula duduk di puncak piramida finansial. (aan/naz)
Editor : Mizan Ahsani