Jawa Pos Radar Madiun - Kabar kembali merebaknya Covid-19 bukan isapan jempol belaka. Berbagai negara mulai melaporkan kenaikan kasus sejak Februari tahun ini.
Belakangan, Badan Kesehatan Dunia alias WHO telah merilis pernyataan resmi terkait wabah yang berawal dari Wuhan, China, ini.
Hal itu disampaikan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama.
Ia membeberkan tujuh imbauan dan segala hal terkait Covid-19 secara global yang diberikan oleh WHO.
"Perlu diketahui bahwa di akhir Mei 2025 ini Covid-19 sudah masuk Diseases Outbreak News (DONs) WHO, yang menggambarkan situasi global," kata Tjandra, mengutip Antara.
Adjunct Professor Griffith University itu mengatakan bahwa secara global memang ada peningkatan kasus Covid-19 sejak pertengahan Februari 2025.
Angka aktivitas SARS-CoV-2 secara global meningkat dengan angka kepositifan tes (test positivity rate) mencapai 11 persen.
Menurutnya, persentase setinggi itu sudah lama tidak terjadi.
"Terakhir bulan Juli 2024," bebernya.
Hal ketiga yang dipaparkan WHO yaitu kenaikan terjadi di tiga regional WHO.
"Yaitu di Mediterania Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat, di mana Indonesia termasuk di dalamnya," ucap Prof Tjandra.
Hal keempat yang diinformasikan oleh WHO yakni sejak awal 2025 varian dari Covid-19 sudah berubah.
Sirkulasi varian LP.8.1 sudah menurun, dan ada peningkatan varian NB.1.8.1 yang oleh WHO digolongkan sebagai Variant Under Monitoring (VUM).
Varian NB.1.8.1 dilaporkan bahwa angkanya sudah mencapai 10.7 persen secara global. "Kita belum dapat informasi tentang varian (NB.1.8.1) ini di negara kita," sebutnya.
WHO menganjurkan agar negara-negara melakukan pendekatan terpadu berbasis risiko untuk menangani virus korona di negaranya.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara periode 2018-2020 itu juga menyampaikan, WHO kembali menekankan pentingnya vaksinasi.
Menurut WHO, vaksin merupakan bagian dari program penanggulangan Covid-19 yang menyeluruh (comprehensive COVID-19 control programmes).
Selain itu, upaya intervensi juga penting dilakukan untuk mencegah penyakit berat dan kematian khususnya pada kelompok risiko tinggi. (naz)
Editor : Mizan Ahsani