Jawa Pos Radar Madiun - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terus memantau kondisi 100 Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Nepal, menyusul kerusuhan besar yang sempat melanda negara tersebut. Saat ini, situasi dilaporkan mulai kondusif.
“Mudah-mudahan kondisi semakin membaik,” ujar Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Judha Nugraha, saat ditemui di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu.
Judha menjelaskan, komunikasi dengan para WNI terus dilakukan secara intensif, sementara bandara internasional di Nepal sudah kembali beroperasi.
Dari 100 WNI, 57 merupakan penduduk tetap di Nepal, sedangkan 43 lainnya hadir sebagai delegasi konferensi dan pertemuan internasional.
“Berdasarkan komunikasi terakhir, tidak ada korban. Namun kami tetap menyiapkan langkah-langkah kontinjensi,” tambah Judha. Kemenlu menegaskan evakuasi akan dilakukan jika kondisi di lapangan membahayakan keselamatan WNI.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menambahkan, koordinasi dengan pemerintah pusat terus berlangsung untuk memastikan keselamatan seluruh WNI, termasuk kemungkinan adanya warga asal Jatim.
“Kami masih menunggu informasi apakah ada WNI dari Jatim, namun semuanya sudah terkoordinasi melalui Kemenlu,” katanya.
Emil juga menegaskan bahwa para WNI yang hadir bukan tenaga kerja migran asal Jatim, melainkan peserta konferensi.
Kerusuhan di Nepal bermula dari protes generasi muda terhadap pemblokiran media sosial dan isu antikorupsi.
Aksi ini menyebabkan jatuhnya korban, termasuk istri mantan Perdana Menteri Nepal, Rajyalaxmi Chitrakar, serta runtuhnya pemerintahan sipil.
Militer mengambil alih kekuasaan menyusul pengunduran diri PM KP Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Poudel. (fin)
Editor : AA Arsyadani