Jawa Pos Radar Madiun - Nama Ganefo kembali ramai dibicarakan di tengah sorotan dunia terhadap Indonesia yang menolak atlet Israel dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025.
Keputusan itu membuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengecam keras Indonesia dan mengancam pembatasan tuan rumah ajang olahraga global.
Bagi Indonesia, tekanan seperti ini bukanlah hal baru. Situasi serupa pernah terjadi pada era Presiden Soekarno di awal 1960-an.
Ketika Indonesia dihukum IOC karena menolak partisipasi atlet Israel dan Taiwan dalam Asian Games IV Jakarta 1962.
Kala itu, keputusan tersebut didasari sikap politik luar negeri Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan Israel atas Palestina.
Namun, keputusan idealis itu berujung hukuman.
Pada Februari 1963, IOC mencabut keanggotaan Indonesia karena dianggap mencampurkan politik dengan olahraga.
Menteri Olahraga saat itu, Maladi, menilai sikap IOC tidak adil dan penuh standar ganda.
Ia mencontohkan, Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara Barat juga pernah menolak keikutsertaan negara lain dalam Olimpiade, namun tidak pernah dijatuhi sanksi.
Mendengar kabar tersebut, Presiden Soekarno murka.
Ia menilai olahraga dunia telah dikuasai oleh kepentingan politik Barat.
Sebagai bentuk perlawanan, ia mendirikan ajang tandingan: Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yang dimaknai sebagai pesta olahraga negara-negara baru yang menolak imperialisme dan kolonialisme.
Ganefo: Ajang Olahraga Sekaligus Manifesto Politik Dunia Ketiga
Ganefo pertama digelar di Jakarta pada 10–22 November 1963, diikuti oleh 10 negara dari Asia, Afrika, hingga Eropa Timur.
Soekarno menegaskan bahwa Ganefo bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi simbol solidaritas bangsa-bangsa tertindas melawan dominasi Barat.
Kesuksesan penyelenggaraan Ganefo I membuat dunia terkejut.
Indonesia tampil sebagai tuan rumah yang berwibawa dan solid.
Namun, edisi berikutnya tak seberuntung itu.
Ganefo II yang direncanakan di Kairo tahun 1967 akhirnya dipindah ke Phnom Penh, Kamboja, karena konflik politik di Mesir.
Sementara Ganefo III sempat akan digelar di Beijing, lalu dialihkan ke Pyongyang, Korea Utara, tetapi tak pernah terlaksana.
Lambat laun, Ganefo tinggal kenangan.
Warisan Ganefo: Nyali Indonesia Menantang Dunia
Meski tak lagi ada, semangat Ganefo masih menjadi simbol keberanian Indonesia untuk berdiri tegak di atas prinsipnya sendiri.
Kini, ketika IOC kembali menekan Indonesia karena menolak atlet Israel, publik seakan diingatkan kembali pada masa Soekarno.
Masa ketika bangsa ini berani berkata “tidak” terhadap standar ganda dunia.
Sejarah Ganefo mengajarkan bahwa bagi Indonesia, olahraga bukan sekadar soal medali, tetapi juga soal harga diri, keadilan, dan kemerdekaan. (fin)
Editor : AA Arsyadani