Jawa Pos Radar Madiun - Jaksa Paris Laure Beccuau mengumumkan perkembangan terbaru kasus perampokan besar di Museum Louvre, Paris.
Dua orang tambahan resmi didakwa atas dugaan keterlibatan dalam pencurian koleksi perhiasan kerajaan yang terjadi hampir dua pekan lalu.
Dua tersangka baru tersebut adalah seorang pria berusia 37 tahun dan seorang wanita berusia 38 tahun.
Menurut Beccuau, pria itu diduga menjadi bagian dari komplotan utama pencurian dan menghadapi tuduhan pencurian terorganisasi serta konspirasi kriminal.
Sementara itu, sang wanita didakwa terlibat dalam kejahatan tersebut.
“Keduanya telah ditahan dan membantah tuduhan itu,” ujar Beccuau dalam keterangan resminya pada Sabtu (1/11).
Sebelumnya, lima orang ditangkap pada Rabu (29/10) malam waktu setempat.
Dari jumlah tersebut, tiga orang telah dibebaskan tanpa dakwaan setelah pemeriksaan awal.
Dengan tambahan dua tersangka baru, jumlah total terdakwa resmi kini menjadi empat orang, dua di antaranya telah mengakui sebagian keterlibatan mereka.
Barang curian berupa koleksi perhiasan kerajaan senilai 88 juta euro atau sekitar Rp 1,7 triliun masih belum ditemukan.
Otoritas Prancis menduga perhiasan tersebut telah dipecah dan dijual secara ilegal di luar negeri.
“Ada beberapa hipotesis mengenai barang-barang tersebut, termasuk bahwa barang-barang itu telah dijual ke luar negeri. Namun, saya tetap yakin kami akan menemukannya,” ujar Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez dalam wawancara dengan Le Parisien, Sabtu (1/11).
Sementara itu, Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati menyoroti lemahnya sistem keamanan Louvre selama lebih dari dua dekade terakhir.
Ia menyebut telah terjadi “sikap menyepelekan yang bersifat struktural dan kronis terhadap risiko penyusupan dan pencurian”.
Pemerintah pun menyiapkan rencana darurat penguatan keamanan sebelum akhir tahun, termasuk pemasangan penghalang antipenyusupan dan pembaruan sistem alarm serta pengawasan video.
Direktur Museum Louvre, Laurence des Cars, sempat mengajukan pengunduran diri pascakejadian, namun pemerintah menolak pengajuan tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan dunia karena melibatkan salah satu museum paling bergengsi di dunia serta nilai koleksi yang sangat fantastis.
Penyelidikan masih berlanjut untuk menemukan perhiasan dan mengungkap jaringan pencurian internasional yang diduga terlibat. (fin)
Editor : AA Arsyadani