Jawa Pos Radar Madiun - Dunia memandangi lemari trofi dan stadion Manchester City, podium Formula 1, dan arena UFC yang disponsori penuh kemewahan.
Namun di balik gemerlap itu, ada kenyataan getir. Bahwa uang yang sama dari Uni Emirat Arab (UEA) yang menghidupi olahraga global juga ditengarai membiayai kekerasan di Darfur.
Sheikh Mansour, pemilik Manchester City, menjadi simbol kekuasaan ekonomi baru Timur Tengah yang menembus batas olahraga dunia.
Bersama maskapai seperti Emirates dan Etihad Airlines, kerajaan uang ini mendanai segalanya. Mulai dari Liga Inggris, UFC, hingga turnamen sepak bola internasional.
Di permukaan, ini tampak seperti diplomasi budaya yang elegan. Namun pada saat yang sama, pemerintahan yang sama dituduh menjadi biang keladi kelaparan sistematis, eksekusi massal, dan kekerasan terhadap anak serta perempuan di Darfur, Sudan.
Sementara Dunia Berpesta, Darfur Membara
Media internasional ramai-ramai menyorot situasi terkini di Sudan.
Bukti terbaru dari citra satelit menunjukkan pemandangan memilukan.
Gambar yang diambil antara Senin (3/11) hingga Selasa (4/11) memperlihatkan deretan panjang jasad dan kerumunan pengungsi di bekas rumah sakit anak-anak di Al-Fashir.
Awalnya tampak garis panjang objek gelap yang diyakini sebagai warga sipil.
Sehari kemudian, objek putih baru muncul di area yang sama. Itu diduga tumpukan jenazah yang telah dibungkus.
Seiring waktu, citra berikutnya menunjukkan peningkatan area pemakaman darurat dan tanda-tanda aktivitas penguburan massal.
Milisi RSF (Rapid Support Forces) hingga kini belum memberikan tanggapan terhadap laporan tersebut.
Arjan Hehenkamp, pemimpin krisis Darfur dari International Rescue Committee (IRC), menyebut hanya sekitar 5.000 orang yang berhasil melarikan diri dari El-Fashir ke Tawila.
“Itu hanya setetes air,” ujarnya dalam panggilan video, mengutip NBC News. “Sangat mengganggu bahwa begitu sedikit yang bisa selamat.”
Sebagian besar pengungsi adalah perempuan dan anak-anak, kata Justine Muzik Piquemal dari Solidarités International.
“Sepanjang jalan, para perempuan diperkosa,” ujarnya. “Mereka berjalan di padang pasir untuk menghindari milisi. Mereka tak membawa apa-apa.”
Kenapa UEA Dikaitkan dengan Sudan?
Menurut sejumlah laporan investigasi media internasional, kepentingan UEA di Sudan bukanlah kemanusiaan, melainkan strategis dan eksploitatif.
Negeri Teluk itu melihat Sudan sebagai lahan subur untuk ekspansi ekonomi dan geopolitik, dengan kekayaan emas, tanah pertanian luas, dan posisi penting di jalur perdagangan Laut Merah.
Di tengah perang saudara yang menghancurkan Darfur dan El-Fashir, UEA disebut menggunakan kelompok paramiliter RSF sebagai alat kendali.
Melalui sang komandan Mohammed Hamdan Dagalo atau “Hemedti”, UEA diduga membiayai operasi militer untuk menguasai wilayah kaya sumber daya, sambil menekan kelompok yang menentang dominasi ekonomi mereka.
Belakangan beredar foto presiden UFC dengan Tahnoon bin Zayed di Abu Dhabi untuk mengumumkan kerja sama global baru.
Di saat yang sama, anak-anak di Sudan dikubur di bawah reruntuhan rumah sakit.
Sementara kamera global berfokus pada perayaan dan turnamen olahraga berkelas dunia, tragedi kemanusiaan di Afrika berlangsung tanpa sorotan yang sepadan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani