Jawa Pos Radar Madiun – Setiap 11 November, dunia memperingati Hari Jomblo Sedunia atau Singles’ Day.
Momen ini bukan sekadar candaan, tetapi ajakan untuk merayakan diri sendiri dan kebebasan hidup tanpa pasangan.
Perayaan yang lahir dari kreativitas mahasiswa di Tiongkok kini menjelma menjadi simbol global kemandirian dan bahkan festival belanja terbesar di dunia.
Dari Kampus ke Dunia
Seperti dilansir Antara, Hari Jomblo Sedunia bermula di Universitas Nanjing pada awal 1990-an.
Sekelompok mahasiswa tanpa pasangan mencari cara untuk menegaskan bahwa mereka tetap bisa bersenang-senang meski belum berpacaran.
Tanggal 11/11 dipilih karena empat angka satu melambangkan individu yang berdiri sendiri.
Awalnya dikenal sebagai Bachelor’s Day dan hanya dirayakan oleh pria, perayaan ini kemudian berkembang hingga juga dirayakan oleh perempuan.
Lambat laun, tradisi ini dikenal luas sebagai World’s Singles Day dan mulai diadopsi oleh masyarakat di berbagai negara.
Jadi Fenomena Global
Lewat media sosial, tradisi ini menyebar ke berbagai belahan dunia—mulai dari Korea Selatan, Inggris, Belgia, hingga Indonesia.
Kini, Singles Day dirayakan dengan berbagai cara: berkumpul bersama teman, berlibur, memberi hadiah untuk diri sendiri, atau sekadar menikmati waktu pribadi. Pesannya sederhana: bahagia tidak harus menunggu pasangan.
Dari Perayaan ke Festival Belanja Dunia
Makna Hari Jomblo Sedunia berubah drastis sejak tahun 2009, ketika Alibaba Group mengubahnya menjadi ajang promo belanja online besar-besaran.
Acara bertajuk Singles’ Day Sale kini menjadi festival belanja terbesar di dunia, bahkan mengalahkan Black Friday dan Cyber Monday dalam total transaksi tahunan.
Bagi banyak orang, 11 November kini menjadi hari pesta diskon dan simbol kekuatan konsumen muda yang mandiri secara finansial.
Makna Sejati: Self-Love dan Kemandirian
Meski disebut Hari Jomblo, maknanya bukan soal kesepian. Justru, hari ini menegaskan bahwa setiap individu berhak bahagia tanpa bergantung pada hubungan romantis.
Peringatan 11 November mengajak siapa pun untuk:
• Bangga dengan diri sendiri apa adanya.
• Mengapresiasi pencapaian pribadi tanpa validasi orang lain.
• Melepaskan tekanan sosial tentang “harus punya pasangan”.
• Membangun hubungan sehat dengan diri sendiri.
Bagi sebagian orang, ini menjadi momen self-love — cara untuk mengenali diri, merawat batin, dan merayakan kebahagiaan dalam kesendirian.
Editor : Ockta Prana Lagawira