Jawa Pos Radar Madiun - Mesir kembali membuka lembaran baru dalam sejarah peradaban kuno.
Pemerintah Mesir secara resmi memulai proses perakitan ulang kapal matahari kedua milik Raja Khufu di Grand Egyptian Museum (GEM) yang baru dibuka untuk publik.
Proyek ambisius ini dimulai Selasa (23/12) dan diperkirakan akan berlangsung selama empat tahun ke depan.
Yang membuat proyek ini istimewa, seluruh proses restorasi dilakukan secara terbuka dan dapat disaksikan langsung oleh para pengunjung museum.
Langkah ini menjadikan GEM bukan hanya ruang pamer artefak, tetapi juga laboratorium hidup pelestarian sejarah dunia.
Menteri Pariwisata dan Kepurbakalaan Mesir, Sherif Fathy, menjelaskan bahwa perakitan ulang kapal matahari tersebut merupakan puncak dari rangkaian panjang upaya konservasi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.
Setiap bagian kapal telah melalui proses dokumentasi detail, termasuk pemindaian tiga dimensi (3D) untuk memastikan akurasi restorasi.
Ia menegaskan bahwa kapal matahari ini memiliki nilai yang jauh melampaui sekadar artefak arkeologi, melainkan simbol penting warisan peradaban manusia.
Kapal Matahari Berusia 4.500 Tahun
Kapal matahari kedua Raja Khufu pertama kali ditemukan pada 1954, terkubur di dekat Piramida Agung Giza, yang diyakini sebagai makam sang firaun legendaris.
Saat ditemukan, kapal tersebut tidak dalam kondisi utuh, melainkan terurai menjadi sekitar 1.650 fragmen kayu, dengan panjang kapal mencapai kurang lebih 42 meter.
Artefak ini dipercaya memiliki fungsi spiritual, digunakan untuk mengantar Raja Khufu dalam perjalanan simbolik menuju alam baka bersama dewa matahari Ra, sesuai kepercayaan Mesir Kuno.
Baca Juga: Rapor Pemain Pinjaman Juventus: Nico Gonzalez Diikat Atleti, Douglas Luiz Bikin Pusing
Restorasi Paling Menantang dalam Sejarah GEM
CEO Grand Egyptian Museum, Ahmed Ghoneim, mengungkapkan bahwa kondisi kapal matahari kedua ini jauh lebih kompleks dibandingkan kapal matahari pertama milik Raja Khufu yang telah lebih dulu dipamerkan.
“Kapal matahari pertama milik Khufu ditemukan dalam kondisi hampir utuh. Sementara kapal kedua, meskipun sedikit lebih kecil, ditemukan dalam keadaan yang sangat rusak,” ujar Ghoneim.
Menurutnya, tantangan teknis inilah yang membuat proses restorasi membutuhkan waktu panjang dan keahlian tingkat tinggi. Namun justru di situlah nilai edukasi dan daya tarik globalnya berada.
“Restorasi yang dapat disaksikan langsung oleh pengunjung merupakan pengalaman unik yang tidak bisa Anda temukan di museum-museum lain,” pungkasnya.
Dengan proyek ini, Grand Egyptian Museum memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pelestarian sejarah dan arkeologi paling inovatif di dunia. (fin)
Editor : AA Arsyadani