Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

AS Turun Tangan! Siap Fasilitasi Perdamaian Kamboja–Thailand usai Konflik Perbatasan Tewaskan 96 Orang dan Paksa Hampir 1 Juta Warga Mengungsi

Sukma Maharani Putri • Jumat, 26 Desember 2025 | 23:43 WIB

 

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio

Jawa Pos Radar Madiun - Amerika Serikat menyatakan kesiapan penuh untuk memfasilitasi pembicaraan damai antara Kamboja dan Thailand, menyusul konflik perbatasan yang terus memburuk dan menelan puluhan korban jiwa.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet pada 25 Desember.

Dalam pembicaraan tersebut, Rubio mengungkapkan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan di wilayah perbatasan kedua negara.

Ia juga menyampaikan pesan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menginginkan agar perdamaian segera terwujud demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil.

Rubio menekankan pentingnya pelaksanaan penuh Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur, yang sebelumnya telah disepakati oleh Kamboja dan Thailand dalam forum ASEAN.

Menurutnya, perjanjian tersebut menjadi fondasi utama untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan Asia Tenggara.

Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa Washington siap berperan aktif sebagai mediator, memfasilitasi dialog dan mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan.

Komitmen ini muncul di tengah situasi keamanan yang kian mengkhawatirkan, terutama di wilayah perbatasan yang menjadi titik bentrokan utama.

Seperti diketahui, Kamboja dan Thailand sempat menandatangani kesepakatan damai pada Oktober lalu saat KTT ASEAN di Kuala Lumpur.

Namun, implementasi perjanjian tersebut tertunda setelah insiden ledakan ranjau darat di kawasan perbatasan yang melukai sejumlah tentara Thailand, memicu kembali ketegangan bersenjata.

Perdana Menteri Hun Manet mengonfirmasi bahwa dirinya dan Marco Rubio membahas perkembangan gencatan senjata serta mekanisme implementasi kesepakatan damai.

Ia menegaskan bahwa Kamboja tetap berkomitmen pada perjanjian Bangkok–Phnom Penh dan berharap penyelesaian sengketa dapat ditempuh melalui jalur damai dan berkelanjutan.

Percakapan diplomatik tersebut berlangsung sehari setelah Thailand dan Kamboja menggelar perundingan militer pertama pada 24 Desember di Provinsi Chanthaburi, Thailand.

Pertemuan ini menjadi dialog militer perdana sejak konflik kembali memanas di awal Desember.

Sejak bentrokan kembali pecah pada 8 Desember, korban jiwa terus bertambah.

Otoritas Thailand melaporkan 23 tentara dan 1 warga sipil tewas, sementara 41 warga sipil lainnya meninggal akibat dampak konflik.

Di pihak Kamboja, 31 warga sipil dilaporkan tewas, menurut data Kementerian Dalam Negeri setempat.

Tak hanya memakan korban jiwa, konflik ini juga memicu krisis kemanusiaan berskala besar.

Hampir 1 juta orang terpaksa mengungsi dari wilayah perbatasan di kedua negara demi menyelamatkan diri dari kekerasan yang belum mereda.

Kamboja dan Thailand dijadwalkan melanjutkan negosiasi militer lanjutan dalam waktu dekat.

Keterlibatan Amerika Serikat diharapkan mampu menekan eskalasi konflik, mempercepat tercapainya perdamaian, dan menghentikan penderitaan warga sipil yang terus menjadi korban. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Forum ASEAN #bangkok #amerika serikat #Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio #Kamboja dan Thailand #phnom penh