Jawa Pos Radar Madiun – Geopolitik global masih terus memanas.
Setelah Amerika Serikat (AS) melakukan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, rumor bahwa Paman Sam akan mencaplok Greenland semakin kencang berembus.
Tak ingin wilayahnya menjadi sasaran agresi berikutnya, Denmark bergerak cepat.
Didukung enam negara kekuatan utama Eropa, mereka mengeluarkan pernyataan keras untuk menghadang ambisi Presiden Donald Trump.
Tujuh negara anggota NATO di antaranya Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris suara mendesak AS untuk menghormati kedaulatan, integritas teritorial, dan keutuhan perbatasan di kawasan Arktik.
Greenland Milik Rakyatnya, Bukan Untuk Dijual
Para pemimpin Eropa tersebut menegaskan bahwa masa depan Greenland tidak bisa ditentukan oleh kekuatan asing, melainkan mutlak di tangan Kopenhagen dan rakyat Greenland sendiri.
"Greenland milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan soal urusan Denmark dan Greenland," bunyi pernyataan bersama tujuh negara tersebut.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, bahkan secara spesifik mendesak Washington untuk menghentikan ancaman terhadap sekutu historisnya dan menolak mentah-mentah gagasan pengambilalihan paksa.
Bayang-Bayang Skenario Venezuela
Kekhawatiran Eropa bukan tanpa alasan. Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan hasratnya untuk mengambil alih Greenland, wilayah semi-otonom di bawah Kerajaan Denmark yang berpenduduk sekitar 57.000 jiwa.
Alasan Trump selalu sama, yakni kepentingan keamanan nasional dan posisi strategis.
Namun, pasca-operasi AS di Venezuela, retorika Trump kini dianggap sebagai ancaman nyata oleh sekutu-sekutunya di Eropa.
Dalam pernyataan bersamanya, ketujuh negara NATO tersebut menekankan bahwa keamanan Arktik harus tetap menjadi prioritas utama Eropa.
Mereka mengingatkan bahwa stabilitas kawasan harus dicapai secara kolektif dengan menjunjung tinggi prinsip Piagam PBB.
"Keamanan di Arktik harus dicapai secara kolektif bersama sekutu NATO, termasuk Amerika Serikat dengan menjunjung tinggi prinsip Piagam PBB tentang kedaulatan," tegas para pemimpin tersebut.
Meski situasi memanas, Eropa tetap mengakui AS sebagai "mitra penting" dan sekutu NATO, merujuk pada perjanjian pertahanan antara Kerajaan Denmark dan AS tahun 1951 yang masih berlaku hingga kini. (naz)
Editor : Mizan Ahsani