IRAN - Iran menyatakan akan tetap memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling sibuk di dunia, sebagai bagian dari respons terhadap konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan tersebut dikaitkan dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dan disiarkan melalui televisi pemerintah Iran.
Pesan tersebut dibacakan oleh pembawa berita tanpa kemunculan langsung Khamenei.
Dalam pesan publik tersebut, Khamenei menegaskan Iran akan “membalas darah” warga Iran yang tewas dalam perang dengan AS dan Israel.
Selat Hormuz Disebut Titik Rentan Musuh
Khamenei menyatakan Iran harus memanfaatkan “tuas kekuatan berupa penutupan Selat Hormuz”, karena kawasan tersebut dinilai menjadi titik di mana posisi musuh sangat rentan.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur strategis perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.
Selain ancaman penutupan jalur pelayaran, Khamenei juga disebut menegaskan bahwa Iran akan terus menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk.
Negara Tetangga Diminta Tutup Pangkalan AS
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran itu, Khamenei juga memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer AS.
"Kami berbagi perbatasan darat atau maritim dengan 15 negara tetangga dan selalu berupaya menjalin hubungan yang hangat dan konstruktif dengan semuanya," ujarnya.
"Negara-negara ini harus memperjelas sikap mereka terhadap para agresor yang menyerang tanah air kami dan para pembunuh rakyat kami."
"Saya menyarankan mereka menutup pangkalan-pangkalan tersebut sesegera mungkin."
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran
Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 8 Maret 2026 setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia pada hari pertama serangan gabungan AS–Israel ke Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menghantam kompleks pemimpin tertinggi Iran. Dalam peristiwa itu, Mojtaba Khamenei kehilangan istri dan seorang putranya.
Ayahnya juga tewas dalam serangan tersebut. Sementara ibunya sempat dilaporkan meninggal, namun media Iran kemudian menyebut bahwa dia masih hidup.
Kantor berita Reuters, mengutip pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami “luka ringan”, meskipun tidak ada rincian lebih lanjut mengenai kondisinya.
Belum Pernah Muncul di Publik
Sejak ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba Khamenei belum pernah tampil di hadapan publik. Tidak ada foto maupun rekaman video dirinya yang dirilis secara resmi.
Televisi pemerintah Iran menyebutnya sebagai “veteran perang Ramadan”, tanpa memberikan konfirmasi lebih lanjut mengenai apakah ia mengalami luka dalam konflik tersebut.
Dalam pesan publik pertamanya, Khamenei bahkan menyebut dirinya mengetahui pengangkatan sebagai pemimpin tertinggi Iran melalui siaran televisi pemerintah.
"Saya mengetahui hasil pemungutan suara Majelis Ahli bersamaan dengan Anda, melalui televisi Republik Islam."
Ia juga menyinggung dugaan “kejahatan terhadap anak-anak, termasuk insiden yang disengaja di sekolah Minab”.
Menurut laporan media Amerika, penyelidik AS meyakini pasukan Amerika secara tidak sengaja menghantam sebuah sekolah di Iran selatan yang berada di dekat pangkalan militer.
Editor : Ockta Prana Lagawira