Jawa Pos Radar Madiun - Jalur urat nadi energi dunia, Selat Hormuz, kini berada dalam ancaman serius.
Parlemen Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan mewajibkan setiap kapal melintas untuk membayar biaya masuk dan pajak kepada Teheran.
Langkah provokatif ini muncul di tengah eskalasi berdarah di kawasan tersebut, menyusul serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu yang menewaskan sedikitnya 1.300 orang.
Selat Hormuz Tak Lagi Gratis?
Kantor berita ISNA melaporkan bahwa Iran ingin memungut biaya atas jaminan "jalur aman" bagi pelayaran internasional, transportasi energi, hingga rantai pasok pangan global.
Seorang anggota parlemen Teheran menegaskan bahwa negara-negara yang menikmati keamanan di selat tersebut sudah sepatutnya menyetor pajak ke kantong Iran.
Padahal, Selat Hormuz merupakan rute vital yang menangani:
-
20 Juta Barel Minyak per Hari (Hampir sepertiga pasokan laut dunia).
-
20 Persen Perdagangan Gas Alam Cair (LNG) secara global.
Baca Juga: Pakar Jepang Ingatkan Bahaya 14 Zona Megathrust RI, Waspada Potensi Gempa M 9,1 di Selatan Jawa
Balasan Iran Atas Serangan AS-Israel
Rencana penarikan pajak ini diyakini sebagai bentuk perlawanan ekonomi setelah Iran secara efektif menutup selat tersebut pasca gugurnya pemimpin mereka dalam serangan 28 Februari.
Ketegangan ini telah mengguncang pasar energi dunia dan memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi global yang tak terkendali.
Baca Juga: HP Pelajar Rp 1 Jutaan vs Rp 2 Jutaan Maret 2026: Mana yang Lebih Worth It untuk Dibeli?
Akankah Harga BBM di Indonesia Naik?
Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana dampaknya ke dompet warga Madiun dan Indonesia pada umumnya?
1. Lonjakan Harga Minyak Dunia
Jika pajak ini diterapkan, biaya operasional kapal tanker akan membengkak. Hal ini otomatis mendorong harga minyak mentah (Crude Oil) terbang ke level tertinggi.
2. Tekanan Subsidi APBN
Indonesia sebagai importir minyak akan sangat terpukul. Jika harga minyak dunia melambung tinggi, beban subsidi BBM di APBN akan membengkak.
3. Potensi Penyesuaian Harga
Menkeu Purbaya sebelumnya sempat menyinggung soal efisiensi.
Jika harga minyak dunia tak terkendali akibat isu Hormuz, penyesuaian harga BBM non-subsidi (Pertamax dkk) tinggal menunggu waktu, bahkan berisiko merembet ke BBM subsidi.
Situasi di Selat Hormuz adalah bom waktu bagi ekonomi global.
Pengenaan pajak atau penutupan jalur ini akan memicu efek domino yang berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan transportasi di dalam negeri. (naz)
Editor : Mizan Ahsani