Jawa Pos Radar Madiun - Harga emas dunia kembali menunjukkan tren pelemahan pada awal pekan ini.
Meski sempat rebound pada penutupan pekan lalu, pergerakan logam mulia ini masih dibayangi tekanan kuat dari faktor makroekonomi global dan sentimen geopolitik.
Baca Juga: 3 Chromebook Samsung Harga Rp 2 Jutaan, Laptop Murah tapi Tangguh untuk Penggunaan Harian
Berdasarkan data Refinitiv pada Senin (30/3/2026) pagi, harga emas diperdagangkan di level US$ 4.481,69 per troy ons, melemah 0,25 persen.
Penurunan ini berbanding terbalik dengan reli pada Jumat (27/3) pekan lalu di mana emas sempat terbang 2,6 persen ke posisi US$ 4.492,48.
Pelemahan laju emas pekan ini utamanya dipicu oleh dua faktor dominan.
Baca Juga: Rekomendasi Laptop Samsung untuk Karyawan, Cocok Buat Kerja dari Mana Saja
Penguatan Dolar AS
Indeks dolar terbang ke level 100,338 pada Senin pagi, menyentuh posisi tertingginya sejak Mei 2025.
Mengingat emas dikonversi dalam dolar AS, penguatan ini membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga memicu pelemahan permintaan.
Lonjakan Yield Obligasi
Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun melesat ke 4,44 persen, rekor tertinggi sejak Juli 2025.
Tingginya yield membuat instrumen obligasi lebih menarik di mata investor dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Baca Juga: Dari Chromebook hingga Galaxy Book Go, Ini 4 Rekomendasi Laptop Samsung Murah untuk Kuliah
Ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran turut memberikan imbas ganda.
Di satu sisi, perang yang berlarut-larut mengerek kekhawatiran atas lonjakan harga energi yang bisa memicu inflasi.
Akibatnya, pasar kini menghapus ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan memangkas suku bunga tahun ini.
Suku bunga yang ditahan tinggi akan terus menjadi sentimen negatif bagi harga emas.
Baca Juga: Tiba di Tokyo, Presiden Prabowo Disambut Penuh Haru Diaspora Indonesia: "Ini Core Memory Tersendiri"
Pekan ini, arah pergerakan pasar juga akan sangat bergantung pada rilis sejumlah data ekonomi krusial dari AS, di antaranya data tenaga kerja ADP, Penjualan Ritel, dan Non-Farm Payrolls (NFP).
Investor diimbau untuk tetap memantau dinamika negosiasi di Timur Tengah serta perkembangan kebijakan moneter global sebelum mengambil keputusan investasi. (*)
*Sayiddil Akbar Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura