Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Harga Urea Dunia Naik 2 Kali Lipat, Indonesia Justru Siap Ekspor ke 6 Negara

Ockta Prana Lagawira • Jumat, 3 April 2026 | 21:28 WIB
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan kebutuhan pupuk nasional, khususnya urea, dalam kondisi aman dan siap memenuhi permintaan ekspor. (Antara)
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan kebutuhan pupuk nasional, khususnya urea, dalam kondisi aman dan siap memenuhi permintaan ekspor. (Antara)

Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur perdagangan global, Indonesia justru muncul sebagai penopang stabilitas pasokan pupuk dunia. 

Gangguan di Selat Hormuz membuat distribusi pupuk global tersendat, namun produksi dalam negeri dinilai tetap aman bahkan surplus.

Baca Juga: BLT Kesra 2026 Dihapus! Ini Penjelasan Resmi Pemerintah dan Daftar Bansos Masih Berjalan

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan kebutuhan pupuk nasional, khususnya urea, dalam kondisi aman dan siap memenuhi permintaan ekspor.

"Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapapun dia bayar," kata Sudaryono usai membuka Konferensi Pupuk Asia 2026 di Bali dikutip Antara.

Indonesia Jadi Incaran Impor Pupuk Dunia

Sudaryono mengungkapkan setidaknya enam negara telah menyatakan minat mengimpor pupuk dari Indonesia. Di antaranya India, Brasil, Australia, dan Filipina.

Baca Juga: Bansos PKH dan BNPT April 2026 Mulai Cair Pekan Kedua, Begini Cara Cek Lewat NIK

Lonjakan permintaan ini terjadi seiring terganggunya jalur distribusi global di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi lintasan utama sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi stabilisator pasokan global, terutama karena produksi dalam negeri mencukupi kebutuhan nasional.

"Saat krisis (geopolitik), untuk urusan pupuk itu aman, kebutuhan (dalam negeri) urea bisa kami penuhi," ucapnya.

Harga Urea Global Melonjak Tajam

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menjelaskan konflik di Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap perdagangan pupuk global.

Baca Juga: Gak Perlu Antre BBM Lagi! Ini 6 Rekomendasi Motor Listrik Terbaik 2026 yang Wajib Dilirik

"Kami ingin mengupdate situasi yang hari-hari belakangan ini cukup hot, yaitu konflik di Selat Hormuz yang tidak hanya menutup jalur energi, tapi juga menutup jalur pupuk. 30 persen dari perdagangan pupuk dunia itu melalui Selat Hormuz," kata Rahmad saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Ia memaparkan bahwa sekitar 4 juta ton pupuk melintas setiap bulan melalui jalur tersebut, terdiri dari 1,5 juta ton urea, 1,5 juta ton sulfur, dan sekitar 1 juta ton pupuk jenis lain.

Akibat gangguan distribusi, harga urea global melonjak drastis dari sekitar US$400 menjadi US$800 per ton.

Baca Juga: Rekomendasi Sepeda Listrik Gunung United Bike 2026, Solusi Hemat BBM di Tengah Krisis Energi Global

"Sehingga terjadi gejolak harga urea yang meningkat, sebelum perang itu US$400 dan sekarang sudah mencapai US$800 atau dua kali lipat," ungkap dia.

Pasokan Dalam Negeri Tetap Aman

Di tengah gejolak global, kondisi Indonesia relatif stabil. Rahmad memastikan produksi urea nasional tidak terdampak karena sebagian besar dipenuhi dari dalam negeri.

"Tapi kami bisa meyakinkan di depan bapak-bapak pimpinan dan anggota Komisi XI DPR RI, Insya Allah untuk Indonesia aman, karena urea-nya diproduksi dalam negeri. Bahkan hari ini Indonesia bisa menjadi stabilizer atau bahkan penyelamat ekosistem pangan dunia," tegas Rahmad.

Indonesia memiliki kapasitas produksi urea operasional sekitar 8,8 juta ton per tahun, dari kapasitas terpasang 9,4 juta ton.

Harga Pupuk Subsidi Tetap Terkendali

Selain memastikan pasokan aman, pemerintah juga menjamin harga pupuk bersubsidi tetap stabil di dalam negeri.

Baca Juga: Mau Hemat BBM? Ini Sepeda MTB Polygon Terbaik di Bawah 5 Juta Cocok untuk Pelajar dan Pekerja

"Sehingga Insya Allah pupuk akan aman, HET sudah turun 20 persen, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET akan tetap. Dan kebutuhan pupuk urea baik untuk subsidi maupun non-subsidi di Indonesia, kami dapat yakinkan bisa terselenggara dengan baik," pungkas Rahmad.

Editor : Ockta Prana Lagawira
#harga urea global #krisis energi Timur Tengah #ekspor pupuk Indonesia #stok pupuk nasional #pupuk indonesia