Jawa Pos Radar Madiun - Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik kritis di tengah upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Itu setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran di daerah Dahiyeh, Beirut selatan, serta sejumlah wilayah lain di Lebanon Rabu (8/4).
Serangan ini tercatat sebagai yang terbesar sejak pecahnya konflik antara Israel dan kelompok pejuang Hizbullah pada awal Maret lalu.
Gempuran Masif di Tengah Upaya Diplomatik
Tentara Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 lokasi hanya dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan. Dampak dari agresi ini dilaporkan sangat mematikan.
Wilayah target mencakup Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, hingga wilayah selatan Lebanon yang berbatasan langsung dengan Israel.
Sedikitnya 254 orang tewas. Sebanyak 92 korban berasal dari Beirut.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyebut situasi ini sebagai "eskalasi berbahaya" yang secara sengaja menargetkan warga sipil di berbagai titik strategis.
Baca Juga: Korupsi APBDes Bandar Pacitan Disidik, Kerugian Negara Capai Rp 239 Juta
Paradoks Gencatan Senjata AS-Iran
Serangan masif Israel ini terjadi hanya selang sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran pada Selasa malam (7/4).
Kesepakatan ini dimaksudkan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari lalu.
Sebagai tindak lanjut dari gencatan senjata tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pada Rabu bahwa Teheran akan segera membuka kembali Selat Hormuz.
Jalur perairan ini sangat vital karena menangani sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Pembukaan ini diharapkan dapat meredakan krisis energi global yang sempat memicu lonjakan harga bahan bakar.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, mendesak Amerika Serikat untuk bertindak lebih tegas.
Menurutnya, tidak logis jika gencatan senjata AS-Iran tidak mencakup penghentian serangan Israel ke Lebanon. Liga Arab menuntut Washington memaksa Israel agar segera menghentikan agresinya.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyatakan bahwa pemerintahnya kini meningkatkan upaya diplomatik secara intensif.
Lebanon berharap momentum gencatan senjata sementara AS-Iran dapat ditarik menjadi kesepakatan gencatan senjata permanen antara Israel dan Lebanon. (naz)
Editor : Mizan Ahsani