Jawa Pos Radar Madiun - Penangkapan sembilan warga negara Indonesia oleh otoritas Israel saat mengikuti ekspedisi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza memicu perhatian publik Indonesia.
Mereka ditangkap saat kapal yang membawa bantuan kemanusiaan berada di perairan internasional menuju Gaza.
Keluarga para relawan dan jurnalis yang ikut dalam misi tersebut kini berharap pemerintah Indonesia segera mengambil langkah diplomatik untuk membebaskan seluruh WNI yang ditahan.
Baca Juga: 6 Nasi Pecel Legendaris dan Terpopuler di Madiun, Sambalnya Bikin Nagih!
Misi Kemanusiaan Menuju Gaza
Global Sumud Flotilla merupakan ekspedisi internasional yang berisi relawan kemanusiaan dari berbagai negara.
Misi utama mereka adalah membawa bantuan untuk warga Palestina di Gaza yang mengalami krisis kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan.
Israel menuding ekspedisi tersebut sebagai bentuk provokasi dan mengaitkannya dengan Hamas. Namun pihak Global Sumud Flotilla membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa misi mereka murni kemanusiaan.
Menurut laporan pusat misi GSF, kapal-kapal mereka dicegat dan diserang di perairan internasional sekitar 250 mil laut dari Gaza.
Kisah Thoudy, Jurnalis Indonesia yang Ditahan Israel
Salah satu WNI yang ditangkap adalah Thoudy Bada Rifanbillahi, jurnalis foto Republika.
Ibundanya, Hany Hanifah Humanisa, mengaku awalnya sempat melarang sang anak ikut berlayar menuju Gaza karena khawatir terhadap keselamatannya.
Namun akhirnya Hany mengizinkan Thoudy karena melihat semangat besar anaknya dalam dunia jurnalistik dan kemanusiaan.
Menurut Hany, Thoudy ingin melihat langsung kondisi di Gaza dan mendokumentasikan situasi nyata di lapangan.
Baca Juga: Wisata Alam Indah dan Edukasi di Pacitan, Surga Tersembunyi yang Bikin Pikiran Tenang
Ia percaya seorang jurnalis harus mengalami sendiri peristiwa yang diliput agar dapat memahami kenyataan secara utuh.
Sebelum ditangkap, Thoudy sempat memberi kabar bahwa kapal mereka sudah berada di perairan internasional dan semakin dekat ke Gaza.
Namun beberapa jam kemudian komunikasi terputus setelah otoritas Israel melakukan penangkapan.
Kini sang ibu hanya berharap anaknya tetap tenang dan segera dipulangkan ke Indonesia dengan selamat.
“Anak Saya Bukan Teroris”
Kisah haru juga datang dari keluarga Andi Angga Prasadewa, relawan kemanusiaan dari Rumah Zakat yang ikut dalam ekspedisi tersebut.
Ibundanya, Sutrawati Kaharuddin, menegaskan bahwa anaknya bukan teroris dan tidak membawa senjata apa pun.
Menurut Sutrawati, Angga hanya membawa bantuan berupa makanan dan obat-obatan untuk warga Palestina di Gaza.
Selama bekerja di lembaga kemanusiaan, Angga diketahui sudah beberapa kali mengirim bantuan ke Gaza melalui jalur darat.
Namun misi kali ini menjadi berbeda karena dilakukan melalui jalur laut bersama Global Sumud Flotilla.
Baca Juga: Cut Meyriska dan Roger Danuarta Pisah Ranjang, Pernyataan Soal Anak Jadi Sorotan
Sebelum berangkat, keluarga sebenarnya sempat khawatir. Namun Angga tetap memilih ikut karena merasa menjalankan panggilan kemanusiaan.
Komunikasi terakhir terjadi ketika Angga memberi tahu keluarganya bahwa ada sesuatu yang menghalangi kapal mereka di laut.
Tak lama setelah itu, kontak terputus sepenuhnya.
Sutrawati kini berharap Presiden Prabowo dan pemerintah Indonesia dapat membantu menyelamatkan seluruh WNI yang ditahan.
Upaya Pembebasan WNI
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan telah mengetahui penangkapan sembilan WNI tersebut dan sedang melakukan langkah diplomatik.
Pemerintah Indonesia disebut telah berkoordinasi dengan perwakilan diplomatik di Mesir, Italia, dan Yordania untuk mengawal proses pembebasan.
Selain itu, berbagai lembaga dan organisasi yang terlibat dalam ekspedisi juga telah menyiapkan tim hukum internasional.
Pimpinan Republika, Andi Muhyiddin, mendesak pemerintah Indonesia menggunakan jalur internasional termasuk forum Board of Peace untuk menekan Israel agar segera membebaskan seluruh peserta misi kemanusiaan.
Indonesia juga mendesak Israel agar menjamin penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza dan tidak menghalangi misi sipil internasional.
Kasus penangkapan sembilan WNI oleh Israel menjadi perhatian besar masyarakat Indonesia karena melibatkan relawan dan jurnalis yang membawa misi kemanusiaan.
Di tengah konflik yang terus berlangsung di Gaza, keluarga para WNI kini hanya berharap orang-orang tercinta mereka dapat segera kembali pulang dengan selamat.
Bagi keluarga mereka, para relawan itu bukan ancaman, melainkan manusia yang datang membawa bantuan dan harapan untuk warga sipil Palestina.
Editor : Nur Wachid