Jawa Pos Radar Madiun - Perdana Menteri Israel dan Presiden Iran secara terpisah mengonfirmasi penghentian operasi militer menyusul rentetan aksi saling serang terbaru.
Kesepakatan tidak tertulis ini memberikan secercah harapan di tengah kekhawatiran pecahnya perang terbuka berskala besar di kawasan Timur Tengah.
Berikut adalah rincian kesepakatan penghentian serangan militer beserta ancaman lanjutan yang masih membayangi hubungan kedua negara:
Baca Juga: Menanti Pembuktian Garuda Lawan Mozambik, Momentum John Herdman Uji Kedalaman Skuad
1. Pernyataan Tegas Perdana Menteri Israel
Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa situasi pertempuran di garis depan saat ini telah terkendali setelah pasukannya menyerang rezim Teheran.
Ia menegaskan bahwa serangan dari pihak musuh telah sepenuhnya berhenti setelah Israel melancarkan aksi balasan yang terukur.
Meski demikian, Netanyahu memperingatkan bahwa Israel tidak segan membalas dengan kekuatan penuh jika Iran berani kembali meluncurkan serangan.
2. Sikap Serupa dari Pemerintah Iran
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa negaranya juga telah menahan diri dari serangan militer lanjutan terhadap Israel.
Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran selalu membuka pintu diplomasi di meja perundingan namun pantang mundur menghadapi segala bentuk ancaman.
Menurutnya, diplomasi dan kekuatan pertahanan militer adalah dua elemen penting penyokong kekuatan nasional Iran yang tidak bisa dipisahkan.
3. Ancaman Keras Terkait Agresi di Lebanon
Markas Besar Khatam Al-Anbiya menyatakan serangan rudal Iran sebelumnya murni merupakan respons atas agresi brutal Israel di kawasan Beirut dan Lebanon Selatan.
Militer Iran secara resmi mengumumkan berakhirnya operasi mereka namun memberikan batas merah yang tegas terkait intervensi di wilayah Lebanon.
Pasukan Iran mengancam akan meluncurkan serangan balasan yang jauh lebih menghancurkan apabila Israel kembali memborbardir wilayah selatan negara tetangga tersebut.
4. Komunikasi Gelap dan Upaya Peredaman
Di tengah memanasnya retorika publik, media Israel melaporkan adanya pertukaran pesan rahasia antara Tel Aviv, Washington, dan Teheran.
Pesan tersebut memuat jaminan kuat bahwa Israel tidak akan melanjutkan agresi militer selama Iran bersedia menghentikan serangan roketnya.
Langkah komunikasi di balik layar ini dinilai sebagai upaya pragmatis untuk meredakan ketegangan yang berpotensi memicu konflik regional masif.
5. Intervensi dan Seruan dari Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menyoroti eskalasi krisis ini dan menyerukan penghentian kontak senjata secara instan.
Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Trump mendesak kedua negara agar segera menyudahi permusuhan demi menjaga stabilitas kawasan.
Baca Juga: Saham Big Bank Berguguran, Asing Lepas BBCA Ratusan Miliar di Tengah Anjloknya Rupiah
Perhatian dunia kini terpusat pada komitmen kedua negara karena jalur perdagangan global dan harga energi dunia sangat bergantung pada situasi perdamaian ini.
Kesimpulannya, penghentian sementara aksi militer ini memberikan sedikit napas lega meskipun sikap saling mengancam membuktikan bahwa situasi masih sangat rapuh. Kedewasaan politik dan upaya diplomasi tingkat tinggi sangat dibutuhkan untuk mencegah Timur Tengah kembali terperosok ke dalam jurang peperangan berdarah. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura