Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Nissan Contek Cara China dan Hasilnya Mengejutkan, Skyline Generasi Baru Lahir Hanya dalam 26 Bulan

Tim Magang Radar Madiun • Kamis, 18 Juni 2026 | 09:51 WIB
Nissan Skyline (autonext.co)
Nissan Skyline (autonext.co)

Jawa Pos Radar Madiun - Dunia otomotif sedang berubah lebih cepat dari sebelumnya dan kali ini, bukan soal siapa yang membuat mobil paling kencang di lintasan.

Yang menentukan siapa yang bertahan adalah seberapa cepat sebuah merek bisa menghadirkan produk baru ke tangan konsumen. 

Nissan, brand legendaris asal Jepang itu, baru saja mengambil langkah yang berani belajar dari China dan hasilnya sudah mulai terlihat nyata.

55 Bulan Jadi 26 Bulan, Bukan Sulap, Tapi Strategi

Angka ini yang paling mengejutkan. Skyline generasi sebelumnya membutuhkan 55 bulan dari meja gambar hingga siap debut.

Skyline generasi berikutnya? Hanya 26 bulan  hampir setengahnya.

Baca Juga: Nebeng Pabrik Nissan, Mitsubishi Disebut Bakal Jual Pikap Baru Berbasis Frontier

Nissan CEO Ivan Espinosa menyebut target perusahaan adalah menghadirkan kendaraan baru ke pasar dalam sekitar 30 bulan.

Dan Skyline baru yang diperkirakan debut musim dingin ini menjadi bukti pertama bahwa target itu bukan sekadar omong kosong.

Bagi pasar Amerika, nama "Skyline" mungkin tidak familiar di diler.

Tapi jangan khawatir mobil yang sama akan hadir dengan badge Infiniti di kapnya. Substansi identik, nama yang berbeda.

Rahasia di Balik Kecepatan: AI dan Pelajaran dari Dongfeng

Bagaimana Nissan bisa memotong waktu pengembangan sedrastis ini?

Jawabannya ada di dua hal, kemitraan dengan China dan adopsi teknologi AI secara masif.

Baca Juga: Emas Melemah ke Rp2,46 Juta per Gram, Investor Mulai Mengincar Peluang Baru

Melalui kolaborasinya dengan Dongfeng di China, 

Nissan menyaksikan langsung bagaimana sedan listrik Dongfeng Nissan N7 berhasil dikembangkan hanya dalam dua tahun,

separuh dari waktu yang biasanya dibutuhkan Nissan secara tradisional.

Espinosa sendiri tidak ragu mengakui hal ini secara terbuka. Menurutnya, AI kini dimanfaatkan di setiap lini mulai dari fase desain,

pengujian, hingga manufaktur. Ia bahkan menyebut China sebagai pihak yang kini menetapkan standar industri masa depan dalam hal teknologi,

daya saing biaya, dan kecepatan pengembangan.

Baca Juga: 49 Tahun Melayang di Luar Angkasa, Voyager 1 Siap Cetak Rekor yang Belum Pernah Dicapai Benda Buatan Manusia Manapun

Pernyataan yang luar biasa khususnya datang dari CEO sebuah brand Jepang yang selama ini dikenal sangat bangga dengan presisi dan warisan rekayasanya sendiri.

Kenapa Nissan Perlu Bergerak Cepat?

Langkah agresif ini bukan tanpa alasan. Nissan sedang dalam tekanan besar.

Penjualan global mereka turun 6 persen menjadi 3,15 juta unit di tahun fiskal terakhir,

sementara penjualan domestik di Jepang bahkan anjlok 13 persen.

Espinosa sendiri mengakui bahwa sebagian masalah berakar dari kerusakan reputasi dan minimnya produk baru yang menarik perhatian.

Belum lagi kabar yang sempat mengejutkan industri beberapa waktu lalu bahwa Nissan sempat menjajaki kemungkinan merger dengan Honda dan Mitsubishi sebelum pembicaraan akhirnya kandas.

Baca Juga: Kebangkitan SUV Legendaris: Nissan Xterra 2026 Siap Meluncur, Tantang Ford Bronco dan Jeep Wrangler

Situasi itu cukup menggambarkan betapa sulitnya posisi Nissan belakangan ini.

Tujuh Peluncuran dalam Setahun, Nissan Balik Menyerang

Tapi Nissan tidak diam meratapi keadaan. Mereka kini melancarkan serangan produk yang sangat agresif,

tujuh peluncuran dalam kurun waktu sekitar satu tahun, mencakup Skyline yang direvitalisasi, SUV dan pikap baru,

hingga yang paling ditunggu-tunggu para enthusiast GT-R generasi berikutnya.

Jika Nissan berhasil menggabungkan kecepatan pengembangan ala China,

dengan dinamika berkendara dan warisan yang selama ini menjadi identitas model-model ikonik seperti Skyline dan GT-R,

mereka mungkin sudah menemukan peta jalan yang tepat untuk kembali ke posisi relevan yang pernah membuat nama mereka begitu disegani di dekade-dekade sebelumnya.

Belajar dari Siapapun, Asalkan Hasilnya Nyata

Ada ironi yang menarik di sini. Industri otomotif Jepang yang selama puluhan tahun menjadi guru bagi dunia dalam hal efisiensi dan kualitas produksi kini,

mengambil pelajaran dari industri yang tidak lama ini masih dianggap sebelah mata.

Tapi itulah dunia yang bergerak. Dan Nissan, setidaknya untuk saat ini, memilih untuk bergerak bersamanya bukan melawannya.

Skyline baru adalah taruhannya. Dan musim dingin ini, kita akan tahu apakah pelajaran itu benar-benar terbayar. (*)

*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Magang Radar Madiun
#nissan skyline #china #nissan