Jawa Pos Radar Madiun - Bayangkan hidup di tengah ketidakpastian, ketika rumah, lahan pertanian, bahkan akses menuju sekolah bisa terganggu sewaktu-waktu.
Kondisi seperti itulah yang saat ini dihadapi banyak warga Palestina.
Dalam laporan situasi kemanusiaan terbaru, berbagai tantangan mulai dari meningkatnya kekerasan
hingga pengungsian paksa terus membayangi kehidupan masyarakat di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Kekerasan di Tepi Barat Terus Meningkat
Situasi keamanan di Tepi Barat menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan.
Dalam periode 12 hingga 18 Mei 2026, lebih dari 50 serangan yang melibatkan pemukim Israel tercatat menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan properti.
Baca Juga: Dari Kesetaraan hingga Perlawanan terhadap Pelecehan, Ini Alasan Perempuan Menjadi Feminis
Sepanjang tahun 2026, jumlah serangan serupa telah melampaui 870 kejadian yang tersebar di lebih dari 220 komunitas Palestina.
Rata-rata, enam serangan terjadi setiap hari.
Akibat rangkaian insiden tersebut:
- Lima warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk seorang anak.
- Hampir 60 orang mengalami luka-luka.
- Sejumlah rumah, kendaraan, lahan pertanian, dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
- Gelombang Pengungsian Baru
Meningkatnya ancaman keamanan juga memicu perpindahan penduduk.
Sebanyak 22 keluarga Badui Palestina yang terdiri dari 137 orang, termasuk 81 anak-anak, meninggalkan wilayah Jiljiliya pada 16 Mei setelah mengalami intimidasi dan serangan berulang.
Menariknya, keluarga-keluarga tersebut sebelumnya juga telah mengungsi dari tiga komunitas berbeda pada 2023 akibat kekerasan serupa.
Ancaman Penggusuran Membayangi Ratusan Warga
Kekhawatiran lain muncul dari rencana pelaksanaan perintah pembongkaran bangunan di kawasan Khan al Ahmar, wilayah Yerusalem Timur.
Komunitas ini merupakan bagian dari sekitar 18 komunitas Badui dan penggembala yang dihuni sekitar 4.000 warga Palestina.
Organisasi kemanusiaan menilai langkah tersebut berpotensi memperbesar risiko pengusiran paksa dan semakin memecah wilayah Palestina di Tepi Barat.
Baca Juga: SATRIA-1: Satelit Raksasa yang Diam-Diam Mengubah Wajah Internet Indonesia di Wilayah 3T
Pembongkaran Bangunan Terus Berlanjut
Dalam periode pelaporan terbaru, otoritas Israel membongkar: 4 rumah warga,
20 bangunan yang berkaitan dengan pertanian dan mata pencaharian masyarakat.
Akibatnya, 26 warga Palestina kehilangan tempat tinggal, termasuk sembilan anak-anak.
Sejak awal 2026, sekitar 400 bangunan telah dibongkar di Area C Tepi Barat karena dianggap tidak memiliki izin pembangunan.
Pembatasan Pergerakan Ganggu Aktivitas Warga
Selain kekerasan, warga Palestina juga menghadapi berbagai pembatasan mobilitas.
Lebih dari 40 operasi penggerebekan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Tepi Barat selama periode pelaporan. Operasi tersebut mencakup:
- Penggeledahan rumah.
- Penahanan massal.
- Evakuasi sementara warga dari rumah mereka.
- Penutupan akses jalan dan desa.
Di Desa Burin, wilayah Nablus, seluruh akses masuk desa sempat ditutup hampir 19 jam.
Kondisi ini menghambat aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan dasar masyarakat.
Sementara itu, sekitar 100 pelajar yang hendak menuju sekolah di wilayah Hebron dilaporkan mengalami keterlambatan berulang akibat pemeriksaan ketat di pos pemeriksaan.
Baca Juga: Toy Story 5 Hadir dengan Konflik Baru, Apakah Pixar Berhasil Menghidupkan Keajaiban Lama?
Kondisi Gaza Masih Memprihatinkan
Di Jalur Gaza, tantangan kemanusiaan masih sangat besar meskipun gencatan senjata telah diumumkan sebelumnya.
Ribuan keluarga masih tinggal di tenda darurat, sekolah, atau bangunan rusak karena minimnya alternatif tempat tinggal yang aman.
Pengungsian dan Korban Masih Bertambah
Pada 16 hingga 17 Mei, lebih dari 150 keluarga mengungsi dari wilayah timur Khan Younis dan Kota Gaza akibat pergerakan tank serta serangan udara.
Serangan yang terjadi pada 18 Mei di Kamp Jabalya juga dilaporkan merusak puluhan tenda pengungsi dan memaksa banyak keluarga kembali berpindah tempat.
Data otoritas kesehatan Gaza menunjukkan bahwa antara 12 hingga 20 Mei:
- 24 warga Palestina tewas.
- 159 orang mengalami luka-luka.
- Ancaman Kesehatan dan Sanitasi
Persoalan kemanusiaan di Gaza tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga kesehatan masyarakat.
Keterbatasan bahan bakar dan oli mesin menghambat operasional fasilitas air bersih serta pengelolaan limbah.
Akibatnya, risiko banjir, penyebaran penyakit, serta peningkatan populasi tikus dan serangga menjadi semakin tinggi.
Untuk mengurangi dampak tersebut, organisasi kemanusiaan meluncurkan program pengendalian hama di lebih dari 1.700 lokasi di seluruh Gaza.
Baca Juga: 1.015 Rumah Tidak Layak Huni di Ngawi Direhab, Anggaran Tembus Rp 20,3 Miliar
Program ini mencakup penyemprotan pestisida, pengendalian tikus, serta edukasi kesehatan bagi masyarakat.
Bantuan Kemanusiaan Masih Menghadapi Hambatan
Penyaluran bantuan ke Gaza juga belum berjalan optimal. Berdasarkan data logistik kemanusiaan,
hanya sekitar setengah dari truk bantuan yang berasal dari Mesir dapat menurunkan muatannya di perlintasan Kerem Shalom selama paruh pertama Mei.
Meski demikian, berbagai lembaga kemanusiaan terus mendistribusikan bantuan pangan, layanan kesehatan, perlindungan anak, serta dukungan psikososial bagi warga yang terdampak konflik.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, organisasi kemanusiaan menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat Palestina masih sangat besar,
sementara akses bantuan tetap menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya merespons krisis yang terus berlangsung. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun