Jawa Pos Radar Madiun - Sebuah insiden penembakan mengguncang lingkungan pendidikan di Kota Tacloban, Filipina, pada Senin (22/6/2026).
Dua siswa yang masih berusia remaja diduga melepaskan tembakan di dalam sekolah menengah atas hingga menyebabkan tiga pelajar meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa ini memicu perhatian luas karena kasus penembakan di sekolah tergolong jarang terjadi di negara tersebut.
Tiga Korban Meninggal dan Tujuh Terluka
Menurut keterangan kepolisian, penembakan terjadi di San Jose National High School, sebuah sekolah negeri yang memiliki lebih dari 1.500 siswa.
Kedua pelaku yang berusia 14 dan 15 tahun diketahui juga merupakan siswa di sekolah yang sama.
Baca Juga: Madiun Berkilau! Ini Deretan Event Meriah yang Siap Ramaikan Hari Jadi ke-108 Kota Madiun
Kepala Kepolisian Regional, Brigadir Jenderal Jason Capoy, mengatakan bahwa tiga siswa tewas dalam insiden tersebut, sementara tujuh lainnya mengalami luka-luka dan mendapatkan penanganan medis.
Sebagian besar korban yang meninggal maupun terluka merupakan siswi perempuan.
Polisi Selidiki Dugaan Motif Perundungan
Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap motif pasti di balik aksi tersebut.
Namun, berdasarkan pemeriksaan awal, kedua pelaku mengaku kerap menjadi korban perundungan di sekolah.
Pihak kepolisian belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai dugaan perundungan tersebut dan masih mengumpulkan berbagai keterangan dari saksi maupun pihak sekolah.
Pelaku Menggunakan Dua Senjata Api
Dalam aksinya, kedua remaja tersebut menggunakan senjata yang berbeda.
- Pelaku berusia 14 tahun diduga memakai pistol kaliber 9 mm.
- Pelaku berusia 15 tahun menggunakan revolver kaliber 38.
Polisi mengungkapkan bahwa pistol 9 mm tersebut diperoleh dari seorang kerabat pelaku yang berprofesi sebagai anggota kepolisian.
Baca Juga: Emas Melemah ke Rp2,46 Juta per Gram, Investor Mulai Mengincar Peluang Baru
Kerabat tersebut kini turut diperiksa untuk mengetahui bagaimana senjata itu bisa berada di tangan pelaku.
Selain itu, aparat menemukan sedikitnya 40 selongsong peluru di lokasi kejadian.
Penyerangan Terjadi di Lebih dari Satu Ruang Kelas
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, para pelaku tidak hanya melakukan penembakan di satu lokasi.
Setelah melepaskan tembakan di ruang kelas pertama, sejumlah siswa berusaha menyelamatkan diri.
Kedua pelaku kemudian diduga mengejar beberapa korban hingga memasuki ruangan lain.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana panik di dalam sekolah.
Sejumlah siswa terlihat bersembunyi di bawah meja sambil menangis dan berteriak ketika suara tembakan terdengar dari luar kelas.
Kedua Pelaku Berhasil Diamankan
Salah satu pelaku langsung ditangkap di area sekolah setelah kejadian berlangsung.
Sementara pelaku lainnya sempat melarikan diri dan bersembunyi di sebuah rumah di sekitar lokasi.
Berkat informasi dari warga, polisi berhasil menemukan dan menangkap pelaku yang melarikan diri tersebut tidak lama setelah insiden terjadi.
Baca Juga: Inilah Wajah Pemkab Ponorogo: Bupati Diciduk KPK, Proyeknya Banjir Catatan BPK Pula
Karena masih berstatus anak di bawah umur, keduanya akan diserahkan kepada petugas kesejahteraan sosial pemerintah setelah proses penyelidikan selesai.
Presiden Filipina Minta Investigasi Menyeluruh
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., memerintahkan penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut.
Pemerintah juga meminta aparat keamanan meningkatkan pengamanan di sekolah, tempat kerja, dan ruang publik lainnya.
Pemerintah menyatakan duka mendalam kepada keluarga korban dan menegaskan komitmen untuk mengungkap seluruh fakta terkait peristiwa tersebut.
Kasus Penembakan Sekolah Masih Tergolong Langka
Meski kejahatan yang melibatkan senjata api masih menjadi tantangan di Filipina akibat peredaran senjata ilegal, kasus penembakan di lingkungan sekolah relatif jarang terjadi.
Salah satu kasus besar sebelumnya terjadi pada 2022 ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di sebuah universitas di wilayah metropolitan Manila dan menewaskan tiga orang sebelum akhirnya ditangkap aparat.
Insiden terbaru di Tacloban kini menjadi salah satu tragedi sekolah paling mematikan yang terjadi di Filipina dalam beberapa tahun terakhir. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun