Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Bukan Sekadar Dongeng, Hari Peri Internasional Punya Sejarah yang Menarik

Tim Magang Radar Madiun • Kamis, 25 Juni 2026 | 09:32 WIB
Gambar Ilustrasi Peri (Web-Holidays.com)
Gambar Ilustrasi Peri (Web-Holidays.com)

Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah berbagai peringatan unik yang dirayakan di seluruh dunia, tanggal 24 Juni memiliki tempat tersendiri bagi para pencinta fantasi dan cerita rakyat.

Pada hari itu, sejumlah komunitas memperingati International Fairy Day atau Hari Peri Internasional, sebuah perayaan yang terinspirasi dari dunia mitologi, legenda, dan kisah-kisah magis yang telah hidup selama berabad-abad.

Perayaan ini tidak berhubungan dengan peristiwa sejarah atau keagamaan tertentu, melainkan menjadi momen untuk mengapresiasi keberadaan peri dalam budaya populer dan cerita rakyat berbagai negara.

Sejarah International Fairy Day

Berawal dari Gagasan Seniman Fantasi

International Fairy Day diketahui diprakarsai oleh seniman fantasi Jessica Galbreth.

Ia menciptakan hari peringatan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap dunia peri yang selama ini menjadi bagian penting dalam karya seni, sastra, hingga folklore berbagai bangsa.

Baca Juga: Terinspirasi Abad ke-18, Koleksi Ini Membawa Breguet ke Era Modern

Tanggal 24 Juni dipilih karena berdekatan dengan perayaan pertengahan musim panas atau Midsummer.

Dalam berbagai kepercayaan tradisional Eropa, masa ini dipercaya sebagai waktu ketika makhluk-makhluk gaib, termasuk peri, paling aktif dan mudah berinteraksi dengan dunia manusia.

Kepercayaan tersebut juga sering dikaitkan dengan karya sastra klasik "A Midsummer Night's Dream" karya William Shakespeare yang menampilkan berbagai karakter peri dalam alur ceritanya.

Peri dalam Berbagai Budaya Dunia

Tidak Hanya Ada di Eropa

Meski identik dengan cerita rakyat Eropa, sosok yang menyerupai peri ternyata hadir di berbagai kebudayaan dunia.

Dalam tradisi Afrika, terdapat Aziza yang dikenal sebagai makhluk baik hati. Sementara dalam budaya Asia Timur,

kisah tentang rubah ajaib seperti huli jing di Tiongkok dan kitsune di Jepang sering dikaitkan dengan karakteristik yang mirip dengan peri.

Di Irlandia, terdapat kelompok makhluk supranatural bernama Aos Sí atau sídhe yang menjadi bagian penting dalam mitologi setempat.

Baca Juga: Nickelodeon Buka Jalan ke Industri Animasi, Ini Program yang Diburu Talenta Muda

Banyak Nama dan Bentuk

Sepanjang sejarah, peri dikenal dengan berbagai sebutan seperti fae, fay, fair folk, good folk, hingga people of peace.

Gambaran mereka pun beragam, mulai dari makhluk kecil bersayap hingga sosok gaib yang memiliki kekuatan luar biasa.

Beberapa makhluk mitologi yang sering dikaitkan dengan keluarga besar peri antara lain:

Keberagaman tersebut menunjukkan betapa luasnya pengaruh cerita peri dalam tradisi masyarakat dunia.

Fakta Menarik tentang Dunia Peri

Pohon yang Dianggap Sakral

Dalam sejumlah legenda Eropa, pohon rowan dan pohon ash dipercaya memiliki hubungan khusus dengan dunia peri.

Kedua pohon tersebut kerap dianggap sebagai tempat berdiamnya makhluk-makhluk gaib.

Fairy Ring yang Penuh Misteri

Salah satu fenomena alam yang paling sering dikaitkan dengan peri adalah fairy ring atau lingkaran jamur yang tumbuh membentuk pola melingkar.

Baca Juga: SATRIA-1: Satelit Raksasa yang Diam-Diam Mengubah Wajah Internet Indonesia di Wilayah 3T

Menurut cerita rakyat, lingkaran tersebut bisa menjadi simbol keberuntungan, area terlarang, bahkan portal menuju dunia lain.

Meski demikian, sains menjelaskan bahwa fenomena itu terjadi akibat pola pertumbuhan jamur di dalam tanah.

Kepercayaan pada Masa Lampau

Pada Abad Pertengahan, istilah "fairie" sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang bersifat magis atau terpesona.

Popularitas kisah peri kembali meningkat pada era Victoria dan Edwardian ketika berbagai buku, lukisan, serta karya sastra bertema fantasi berkembang pesat.

Mengapa Hari Peri Masih Dirayakan?

Meskipun peri merupakan makhluk mitologis, kisah tentang mereka tetap menarik perhatian hingga saat ini.

Cerita-cerita tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mencerminkan imajinasi, nilai budaya, serta kepercayaan masyarakat pada masa lalu.

Baca Juga: The Economist Nilai Indonesia Hadapi Risiko Fiskal dan Demokrasi di Era Prabowo

International Fairy Day menjadi pengingat bahwa legenda dan folklore masih memiliki tempat dalam kehidupan modern.

Perayaan ini juga mengajak masyarakat untuk menghargai kreativitas, seni, dan kekayaan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi para pencinta fantasi, tanggal 24 Juni bukan sekadar hari biasa. Hari itu menjadi kesempatan untuk kembali menjelajahi

dunia penuh keajaiban yang selama berabad-abad telah menginspirasi manusia melalui cerita, seni, dan budaya. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Magang Radar Madiun
#International Fairy Day #Dunia Peri #24 Juni