Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah persaingan eksplorasi antariksa pada era 1960-an, para insinyur tidak hanya berlomba menciptakan roket yang lebih canggih,
tetapi juga berani membayangkan sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Salah satu gagasan paling ambisius datang melalui proyek Sea Dragon, sebuah roket berukuran raksasa yang dirancang untuk diluncurkan langsung dari lautan.
Meski tak pernah memasuki tahap operasional, konsep ini hingga kini masih dikenang sebagai salah satu desain paling revolusioner dalam sejarah penerbangan antariksa.
Sea Dragon Dirancang untuk Membawa Muatan Super Besar
Sea Dragon merupakan konsep roket yang dikembangkan oleh insinyur Amerika, Robert Truax, saat bekerja di Aerojet.
Berbeda dengan kebanyakan roket yang mengutamakan efisiensi tinggi, Sea Dragon justru mengusung pendekatan sederhana dengan tujuan utama memangkas biaya produksi dan operasional.
Roket ini dirancang memiliki ukuran yang sangat besar, yakni sekitar 490 kaki (149 meter) dengan diameter 75 kaki (23 meter). Dimensinya bahkan melampaui sebagian besar roket modern yang pernah dibuat.
Baca Juga: BMW Perkuat Transformasi Mobilitas Masa Depan Lewat Inovasi Kendaraan Listrik dan Teknologi Modern
Keunggulan utamanya adalah kemampuan membawa hingga 550 metrik ton muatan ke orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO). Kapasitas tersebut baru mampu didekati oleh beberapa proyek roket generasi terbaru.
Diluncurkan Langsung dari Laut
Konsep Peluncuran yang Tidak Biasa
Salah satu aspek paling unik dari Sea Dragon adalah metode peluncurannya. Alih-alih menggunakan landasan peluncuran permanen di daratan, roket ini dirancang untuk diberangkatkan dari lautan.
Setelah seluruh proses perakitan selesai di fasilitas pesisir, Sea Dragon akan ditarik menuju lokasi peluncuran menggunakan kapal.
Di lokasi tersebut, tangki pemberat di bagian bawah roket diisi air hingga badan roket berdiri tegak secara vertikal di permukaan laut.
Metode ini dipilih untuk mengurangi kebutuhan pembangunan fasilitas peluncuran yang sangat mahal sekaligus memanfaatkan ruang terbuka di lautan.
Selain itu, bahan bakar kriogenik seperti oksigen cair (LOX) dan hidrogen cair (LH2) direncanakan diproduksi langsung di lokasi peluncuran melalui proses elektrolisis.
Baca Juga: GODA Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik Aman dan Cerdas untuk Masyarakat Indonesia
Mengutamakan Desain Sederhana demi Menekan Biaya
Dibangun Menggunakan Material Murah
Robert Truax mengembangkan filosofi desain yang menekankan kesederhanaan dibandingkan teknologi yang terlalu rumit.
Karena itu, Sea Dragon dijuluki sebagai "big dumb booster" atau "booster besar yang sederhana".
Roket ini dirancang menggunakan lembaran baja setebal sekitar 8 milimeter, material yang umum digunakan industri perkapalan.
Bahkan proses pembuatannya direncanakan melibatkan galangan kapal, bukan fasilitas manufaktur antariksa khusus.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat:
- Menekan biaya produksi.
- Mempermudah proses manufaktur.
- Mengurangi kompleksitas perawatan.
- Meningkatkan keandalan sistem.
Sebagian struktur roket juga dirancang agar dapat dipulihkan dan digunakan kembali setelah peluncuran.
Mesin Tahap Pertama Berkekuatan Luar Biasa
Sea Dragon menggunakan dua tahap peluncuran.
Tahap pertama dibekali sebuah mesin raksasa yang menghasilkan daya dorong sekitar 79 juta pound.
Mesin tersebut menggunakan kombinasi bahan bakar RP-1 (minyak tanah kelas roket) dan oksigen cair (LOX).
Mesin ini diperkirakan bekerja selama sekitar 81 detik, membawa roket mencapai ketinggian sekitar 25 mil sebelum tahap pertama terpisah.
Baca Juga: The Watch Co Hadirkan Koleksi Jam Tangan Original dengan Garansi Resmi dan Diskon Menarik
Tahap Kedua Membawa Roket Menuju Orbit
Tahap kedua menggunakan mesin berbahan bakar hidrogen cair (LH2) dan oksigen cair (LOX) dengan daya dorong sekitar 13 juta pound.
Mesin tersebut dirancang beroperasi selama kurang lebih 260 detik. Untuk meningkatkan efisiensi di luar atmosfer, nozzle mesin dapat mengembang selama penerbangan sehingga menghasilkan performa yang lebih optimal.
Desain hidung tahap pertama bahkan dibuat agar dapat masuk ke dalam ruang mesin tahap kedua guna menghemat ruang dan mengurangi tinggi keseluruhan roket.
Biaya Peluncuran Diproyeksikan Lebih Murah
Meski memiliki ukuran luar biasa besar, Sea Dragon justru dirancang agar biaya pengangkutan muatan ke orbit menjadi jauh lebih rendah dibandingkan teknologi pada masanya.
Dalam estimasi tahun 1963, biaya pengiriman muatan diperkirakan berada di kisaran US$59 hingga US$600 per kilogram, angka yang dinilai sangat kompetitif untuk era tersebut.
Kajian yang dilakukan oleh TRW (Space Technology Laboratories, Inc.) juga menyatakan bahwa desain serta estimasi biaya proyek ini cukup realistis.
Namun, perubahan prioritas anggaran NASA menyebabkan pengembangan berbagai proyek peluncur superberat dihentikan, termasuk Sea Dragon yang akhirnya tidak pernah memasuki tahap pembangunan.
Baca Juga: Bingung Mau Minum Apa untuk Bisa Kembalikan Mood Ceriamu? Solusinya Minum Matcha
Tetap Hidup dalam Budaya Populer
Walaupun hanya menjadi konsep, Sea Dragon tetap mendapat tempat dalam dunia hiburan.
Roket ini muncul dalam serial For All Mankind produksi Apple TV+, yang mengisahkan sejarah alternatif ketika perlombaan antariksa terus berlangsung.
Dalam serial tersebut, Sea Dragon digambarkan sebagai kendaraan logistik utama untuk memasok koloni manusia di Bulan, memperlihatkan bagaimana konsep ini masih dianggap relevan sebagai inspirasi teknologi masa depan.
Warisan Sea Dragon Masih Menginspirasi
Sea Dragon memang tidak pernah lepas landas, tetapi konsepnya menunjukkan bagaimana keberanian berpikir di luar kebiasaan mampu menghasilkan ide yang tetap menginspirasi puluhan tahun kemudian.
Pendekatan peluncuran dari laut, penggunaan material sederhana, hingga fokus pada efisiensi biaya menjadi bukti
bahwa inovasi tidak selalu bergantung pada teknologi paling rumit, melainkan pada keberanian merancang solusi yang berbeda dari zamannya. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun