Jawa Pos Radar Madiun - Upaya mengurangi emisi kendaraan bermotor terus melahirkan berbagai inovasi baru.
Kali ini, perhatian dunia tertuju pada dua siswa sekolah menengah asal Pennsylvania, Amerika Serikat, yang berhasil mengembangkan filter knalpot berbasis mikroalga dengan biaya produksi kurang dari 30 dolar AS.
Teknologi bernama Go Green itu diklaim mampu menekan emisi karbon hingga lebih dari 74 persen sekaligus meningkatkan kadar oksigen pada gas buang kendaraan.
Temuan tersebut menarik perhatian karena menawarkan solusi yang relatif murah untuk mengatasi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi.
Dikembangkan Dua Siswa SMA dengan Teknologi Mikroalga
Filter Go Green merupakan hasil karya Rohan Kapoor dan Jack Reichert, dua pelajar berusia 18 tahun dari Unionville High School, Pennsylvania.
Keduanya mengembangkan perangkat yang memanfaatkan kemampuan fotosintesis mikroalga untuk mengolah karbon dioksida (CO2) menjadi oksigen.
Baca Juga: BMW Perkuat Transformasi Mobilitas Masa Depan Lewat Inovasi Kendaraan Listrik dan Teknologi Modern
Berbeda dengan filter knalpot konvensional yang hanya menyaring partikel polutan, perangkat ini dirancang untuk mengubah gas karbon dioksida menjadi biomassa sekaligus menghasilkan oksigen melalui proses biologis.
Hasil Pengujian Tunjukkan Penurunan Emisi Signifikan
Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan pada kendaraan dalam kondisi menyala, filter tersebut menunjukkan penurunan kadar karbon dioksida dari sekitar 14,1 persen menjadi 2,8 persen.
Pada saat yang sama, kadar oksigen meningkat dari 0,77 persen menjadi 10,4 persen.
Para penemu menyebut teknologi tersebut mampu mengurangi emisi karbon kendaraan hingga sekitar 74,25 persen, sehingga berpotensi menjadi salah satu alternatif pengendalian polusi udara.
Cara Kerja Filter Go Green
Perangkat dipasang langsung pada ujung knalpot kendaraan menggunakan sistem penjepit sehingga mudah diaplikasikan tanpa mengubah struktur kendaraan.
Di dalam filter terdapat beberapa komponen utama yang bekerja secara bersamaan, antara lain:
- Mikroalga sebagai penyerap karbon dioksida.
- Air yang menjadi media pertumbuhan alga.
- Jaring aluminium untuk menjaga posisi alga tetap stabil.
- Lampu LED putih yang membantu proses fotosintesis meski minim cahaya.
Baca Juga: €60 Juta untuk Nico Paz: Como Resmi Beli Wonderkid Real Madrid, Los Blancos Siapkan Buyback Mahal
Gas buang kendaraan dialirkan melewati ruang berisi mikroalga. Selanjutnya, mikroalga menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi biomassa serta melepaskan oksigen ke udara.
Berawal dari Pengalaman Pribadi dan Riset Ilmiah
Ide pengembangan filter ini muncul dari pengalaman pribadi Jack Reichert yang kehilangan rekan debatnya saat Badai Ian, bencana yang dikaitkan dengan dampak perubahan iklim.
Di sisi lain, Rohan Kapoor terinspirasi oleh penelitian Profesor MIT Isaac Berzin mengenai kemampuan mikroalga dalam menyerap karbon secara efisien.
Kedua inspirasi tersebut kemudian dipadukan menjadi proyek ilmiah yang berkembang menjadi prototipe filter Go Green.
Raih Penghargaan dan Mulai Dilirik Berbagai Pihak
Inovasi ini telah memperoleh sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya juara World Series of Innovation, State Invention Convention, serta Grand Prize T-Mobile Changemaker Challenge 2023.
Selain itu, konsep tersebut juga dipresentasikan dalam Intel International Science Fair yang diikuti lebih dari 1.500 peserta dari berbagai negara.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) turut menunjukkan ketertarikan terhadap teknologi tersebut dan membuka peluang kerja sama untuk pengembangan lebih lanjut.
Masih Hadapi Tantangan Menuju Produksi Massal
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, filter Go Green masih memerlukan penyempurnaan sebelum diproduksi secara luas.
Baca Juga: Ringan dan Ganas: Rotwild R.XX Hadirkan eMTB Full Power 20 kg dengan Avinox M2S yang Super Bertenaga
Beberapa tantangan yang masih dihadapi meliputi:
- Ketahanan perangkat terhadap suhu tinggi dari gas buang kendaraan.
- Ukuran prototipe yang masih relatif besar.
- Penggantian material tertentu agar tidak menghasilkan emisi tambahan.
- Optimalisasi efisiensi fotosintesis dalam berbagai kondisi penggunaan.
Saat ini kedua penemu bekerja sama dengan perusahaan manufaktur untuk mengembangkan desain yang lebih praktis sekaligus mengurus proses paten atas teknologi tersebut.
"This innovation represents a paradigm shift in how we approach vehicular pollution."
Berpotensi Diterapkan Lebih Luas
Selain kendaraan pribadi, teknologi berbasis mikroalga tersebut dinilai memiliki peluang diterapkan pada transportasi umum, kawasan industri hingga ruang perkotaan yang memiliki tingkat polusi tinggi.
Bahkan, sekitar 500 unit filter Go Green dilaporkan telah mulai digunakan di Indonesia sebagai bagian dari tahap implementasi awal.
Ke depan, pengembang berharap teknologi ini dapat membantu menekan emisi karbon global secara lebih luas apabila berhasil diproduksi secara massal. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun