Jawa Pos Radar Madiun - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat menyatakan kedua pihak telah sepakat untuk menghentikan eskalasi sementara waktu dan melanjutkan jalur diplomasi.
Seorang pejabat pemerintahan AS mengatakan kedua negara akan "menahan diri untuk saat ini".
Pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Doha, Qatar, pada Selasa mendatang sebagai bagian dari upaya mencari solusi atas konflik yang kembali memanas.
AS dan Iran Tetap Lanjutkan Negosiasi
Kesepakatan untuk meredakan situasi menjadi ujian bagi memorandum kerja sama yang sebelumnya ditandatangani kedua negara.
Perjanjian tersebut membuka masa negosiasi selama 60 hari guna membahas sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran, pelonggaran beberapa pembatasan finansial, serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga: Indonesia Siapkan Spaceport Biak Mulai 2026, Langkah Besar Menuju Kemandirian Antariksa
Pembicaraan Teknis Tetap Berjalan
Pemerintah AS memastikan agenda pembicaraan teknis tidak dibatalkan meskipun terjadi baku tembak sepanjang akhir pekan.
Jalur komunikasi antarkedua negara juga disebut masih aktif untuk mencegah kesalahan perhitungan yang dapat memperburuk situasi.
Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai sikap resmi Iran terhadap pernyataan bahwa kedua pihak akan menahan diri.
Selat Hormuz Masih Jadi Titik Rawan
Meski pemerintah AS menyebut kapal-kapal dapat kembali melintas secara bebas, kondisi di Selat Hormuz belum sepenuhnya stabil.
Sebelumnya, jalur pelayaran internasional tersebut kembali terganggu setelah sebuah kapal diserang di kawasan tersebut.
Sejumlah perusahaan pelayaran memilih mengambil rute yang lebih dekat ke pesisir Oman demi mengurangi risiko keamanan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia karena menjadi lintasan sekitar seperlima distribusi minyak global.
Baca Juga: NASA Ajak Publik Ikut Terbang Bersama Roman Space Telescope, Apa Misi Besarnya?
Harga Minyak Bergerak Naik
Situasi keamanan yang belum sepenuhnya pulih mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Minyak mentah Brent naik sekitar 0,9 persen menjadi sekitar 72,20 dolar AS per barel,
sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat sekitar 1,3 persen menjadi sekitar 70,09 dolar AS per barel.
Meski mengalami kenaikan, harga minyak masih berada jauh di bawah puncaknya pada awal konflik.
Para analis menilai pemulihan distribusi energi tidak hanya bergantung pada dibukanya kembali Selat Hormuz, tetapi juga pada perbaikan infrastruktur energi yang rusak selama konflik berlangsung.
Iran Tegaskan Sikap kepada Negara Kawasan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meminta negara-negara di kawasan Timur Tengah tidak mengizinkan wilayah maupun fasilitas mereka digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran.
Dalam waktu yang sama, Iran juga menilai penyelesaian konflik di Lebanon harus menjadi bagian dari kesepakatan akhir dengan Amerika Serikat.
Baca Juga: Teleskop Baru NASA Siap Diluncurkan 2026, Mampukah Mengungkap Misteri Terbesar Alam Semesta?
Pernyataan tersebut muncul ketika bentrokan antara Israel dan Hezbollah masih berlangsung dan dinilai dapat menghambat proses perdamaian di kawasan.
Tidak Ada Serangan yang Mengenai Target AS
Pejabat militer Amerika Serikat menyatakan seluruh rudal dan drone yang diluncurkan Iran berhasil dicegat, gagal mencapai sasaran, atau jatuh sebelum mengenai target yang dituju.
Pihak AS juga memastikan tidak ada korban maupun kerusakan pada fasilitas militer Amerika dalam serangan terbaru tersebut.
Meski begitu, insiden ini menunjukkan situasi keamanan di Timur Tengah masih sangat rapuh.
Pertemuan lanjutan di Doha dipandang menjadi momentum penting untuk menentukan apakah kedua negara mampu menjaga proses diplomasi atau kembali terjebak dalam eskalasi konflik bersenjata. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun