Jawa Pos Radar Madiun - Perjalanan bisnis ratusan toko bekas jaringan ritel WHSmith di Inggris memasuki fase baru.
Kurang dari setahun sejak berganti kepemilikan dan nama menjadi TG Jones, perusahaan kini harus mengambil langkah besar untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.
Pengadilan Tinggi Inggris akhirnya menyetujui rencana restrukturisasi yang memungkinkan penutupan hingga 150 gerai sebagai bagian dari upaya penyelamatan perusahaan.
Keputusan tersebut diambil setelah manajemen meyakinkan pengadilan bahwa kondisi keuangan perusahaan berada dalam situasi yang sangat kritis.
Tanpa persetujuan restrukturisasi, bisnis disebut berisiko kehabisan dana operasional dalam waktu singkat.
Pengadilan Setujui Penutupan Hingga 150 Gerai
Persetujuan Pengadilan Tinggi membuka jalan bagi Modella Capital, pemilik TG Jones, untuk menjalankan rencana pemulihan bisnis secara menyeluruh.
Baca Juga: Kasus Koper Misterius di Thailand Terungkap, Pria Australia Didakwa Atas Kematian Remaja 17 Tahun
Saat ini TG Jones masih mengoperasikan 451 toko dengan sekitar 4.700 karyawan di seluruh Inggris.
Namun setelah restrukturisasi diterapkan, jumlah toko diperkirakan akan menyusut menjadi sekitar 302 gerai,
bergantung pada keputusan para pemilik bangunan terkait kelanjutan kontrak sewa.
Jaringan toko perjalanan milik WHSmith yang berada di bandara, stasiun kereta, dan lokasi transportasi lainnya
tidak termasuk dalam proses ini karena tetap dimiliki perusahaan lama beserta hak penggunaan merek WHSmith.
Perusahaan Mengaku Hampir Kehabisan Dana
Dalam persidangan, pihak TG Jones mengungkapkan bahwa perusahaan menghadapi tekanan likuiditas yang serius.
Kuasa hukum perusahaan menjelaskan bisnis hampir mengalami kekurangan kas sekitar 8 juta pound sterling pada pekan yang sama apabila restrukturisasi tidak disetujui.
Baca Juga: Puluhan Korban Masih Ditemukan Hidup, Misi Penyelamatan Gempa Venezuela Berpacu dengan Waktu
Sebelumnya, perusahaan masih dapat bertahan berkat suntikan pinjaman senilai 10 juta pound sterling dari Modella Capital serta penundaan pembayaran sejumlah kewajiban, termasuk pajak.
Manajemen juga menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh penurunan penjualan dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, perusahaan mengaku kehilangan keuntungan setelah tidak lagi dapat menggunakan nama dagang WHSmith usai proses akuisisi.
Pemotongan Sewa Jadi Bagian Strategi Penyelamatan
Selain menutup ratusan gerai, restrukturisasi juga mencakup perubahan besar terhadap biaya operasional perusahaan.
Beberapa langkah yang akan diterapkan meliputi:
- Penutupan hingga 150 toko.
- Sekitar 120 pemilik properti tidak menerima pembayaran sewa hingga tiga tahun.
- Pengurangan nilai sewa untuk ratusan toko lain sebesar 15–75 persen.
- Penghematan biaya akan dialokasikan untuk memperbaiki toko yang tetap beroperasi.
Menurut Modella Capital, strategi tersebut diperlukan agar perusahaan dapat kembali berinvestasi pada jaringan toko yang masih memiliki prospek.
Sempat Ditentang Pemilik Properti
Rencana restrukturisasi awalnya mendapat penolakan dari sejumlah pemilik bangunan,
termasuk British Land, yang menilai skema tersebut memberikan beban tidak seimbang kepada para kreditur.
Namun setelah perusahaan menawarkan sejumlah penyesuaian dalam proposalnya, keberatan tersebut akhirnya dicabut sehingga proses persetujuan dapat dilanjutkan.
Hakim Pengadilan Tinggi, Mr Justice Hildyard, menyatakan restrukturisasi memang membawa konsekuensi besar bagi banyak pihak, khususnya pemilik properti.
Meski demikian, ia menilai langkah tersebut merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan kemungkinan perusahaan masuk ke proses administrasi atau mengalami kebangkrutan.
Baca Juga: AS dan Iran Sepakat Redam Ketegangan, Tapi Baku Tembak di Selat Hormuz Masih Bayangi Perdamaian
Perusahaan Optimistis Jalankan Transformasi
Chief Executive TG Jones, Alex Willson, menyambut baik putusan pengadilan dan menyebut keputusan tersebut menjadi momentum penting bagi masa depan perusahaan.
Ia mengatakan, "This decision allows us to move ahead with our turnaround strategy."
Willson juga menambahkan, "The plan protects the substantial core of the store estate and makes TG Jones a stronger, more sustainable business."
Menurutnya, restrukturisasi akan membantu perusahaan mempertahankan sebagian besar jaringan toko sekaligus menciptakan fondasi bisnis yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan industri ritel yang terus berubah.
Dengan disetujuinya rencana penyelamatan ini, TG Jones berharap dapat memperbaiki kondisi keuangan perusahaan melalui efisiensi operasional dan investasi pada toko-toko yang masih berpotensi berkembang.
Langkah tersebut menjadi salah satu upaya terbesar di sektor ritel Inggris dalam beberapa tahun terakhir
untuk mempertahankan bisnis di tengah tekanan ekonomi dan perubahan perilaku konsumen. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun