Jawa Pos Radar Madiun - Di kedalaman alam semesta yang luas, sebuah lubang hitam supermasif di pusat galaksi J1007+3540 telah bangkit dari tidur panjangnya yang berlangsung sekitar 100 juta tahun.
Setelah periode sunyi total, lubang hitam raksasa ini kembali aktif dan meluncurkan jet plasma magnetik yang membentang hampir 1 juta tahun cahaya melintasi ruang antargalaksi.
Penemuan ini digambarkan para astronom sebagai "gunung berapi kosmik" yang kembali meletus setelah berabad-abad tenang.
Setiap galaksi besar di alam semesta yang dapat diamati diyakini memiliki lubang hitam supermasif di pusatnya.
Kebanyakan waktu, lubang hitam ini dalam keadaan dorman, hanya menyerap sedikit materi dan tidak menghasilkan jet yang terlihat.
Baca Juga: NASA Batalkan Rencana Modul Inti ISS, Industri Antariksa Komersial Akhirnya Menang
Namun, kadang-kadang, mereka memasuki fase aktif di mana materi jatuh ke disk akresi dalam jumlah besar, menghasilkan jet plasma relativistik yang kuat.
Detail Penemuan yang Luar Biasa
Galaksi J1007+3540 terletak di pusat gugusan galaksi WHL J1007+3540, berjarak ratusan juta tahun cahaya dari Bumi.
Pengamatan menggunakan teleskop radio LOFAR dan uGMRT mengungkap dua struktur plasma yang berbeda.
Lobus luar yang samar dan tua berusia sekitar 240 juta tahun menandakan aktivitas masa lalu.
Sementara jet dalam yang lebih cerah dan kompak berusia sekitar 140 juta tahun menunjukkan aktivitas baru yang sedang berlangsung.
Struktur ini menunjukkan lubang hitam sempat dorman selama sekitar 100 juta tahun sebelum kembali aktif.
Baca Juga: Teleskop Baru NASA Siap Diluncurkan 2026, Mampukah Mengungkap Misteri Terbesar Alam Semesta?
Jet baru ini bertabrakan dengan gas panas di gugusan galaksi, menyebabkan distorsi dan pembengkokan yang terlihat jelas dalam citra radio.
Interaksi dengan Lingkungan Sekitar
Jet yang baru diluncurkan tidak menyebar dengan bebas. Tekanan tinggi dari medium intragugus galaksi (intracluster medium) yang panas memengaruhi arah dan bentuk jet tersebut.
Lobus utara terlihat tertekan dan melengkung, sementara jet selatan membentuk pola S yang memanjang.
Interaksi ini menunjukkan bahwa bentuk struktur radio galaksi tidak hanya ditentukan oleh lubang hitam pusat, tapi juga oleh lingkungan sekitarnya.
Penemuan ini memberikan bukti langsung bahwa lubang hitam supermasif bisa mengalami siklus aktif dan dorman berulang kali selama umur galaksinya.
Baca Juga: NASA Ajak Publik Ikut Terbang Bersama Roman Space Telescope, Apa Misi Besarnya?
Periode dorman selama 100 juta tahun adalah salah satu yang terpanjang yang pernah diamati, memberikan wawasan baru tentang mekanisme restart aktivitas lubang hitam.
Implikasi bagi Astronomi
Observasi ini menyelesaikan perdebatan lama tentang apakah lubang hitam individu mengalami siklus aktif-dorman.
Citra tunggal yang menunjukkan lobus lama dan jet baru secara bersamaan menjadi bukti visual yang kuat.
Temuan ini juga menekankan pentingnya teleskop radio sensitif seperti LOFAR dan GMRT dalam mempelajari fenomena kosmik jarak jauh.
Bagi komunitas ilmiah, penemuan ini membuka pintu untuk penelitian lebih lanjut tentang evolusi galaksi dan peran lubang hitam supermasif di dalamnya.
"Seperti menyaksikan gunung berapi kosmik meletus lagi setelah berabad-abad tenang," ujar Shobha Kumari, pemimpin tim peneliti.
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa alam semesta penuh kejutan dan terus berubah, bahkan pada skala waktu yang melampaui imajinasi manusia. (*)
*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun