Jawa Pos Radar Madiun - Perjalanan ziarah puluhan biksu di Provinsi Mukdahan, Thailand,
berakhir tragis setelah sebuah mobil pikap menghantam rombongan yang sedang berjalan kaki di tepi jalan, Kamis (2/7/2026).
Insiden tersebut menewaskan sembilan biksu, sementara belasan korban lainnya mengalami luka dengan berbagai tingkat keparahan.
Berdasarkan keterangan kepolisian setempat, kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan itu
dikemudikan oleh seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang merupakan penyandang disabilitas.
Aparat masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Baca Juga: SUNRA Pamer Kekuatan di Wuxi 2026, Motor Listrik Terbarunya Jadi Sorotan
Korban Tewas dan Belasan Lainnya Terluka
Saat kejadian, sekitar 35 biksu bersama lima pengikut sedang melakukan perjalanan ziarah sambil melantunkan doa dan mantra meditasi.
Tiba-tiba, sebuah mobil pikap melaju kencang ke arah rombongan hingga menabrak mereka.
Salah seorang biksu yang selamat, Phra Sompong, mengaku berhasil menghindar beberapa saat sebelum kendaraan menghantam rombongan.
"Tiba-tiba truk itu menabrak dengan kecepatan penuh dan menabrak kami," ujarnya.
Lima biksu dilaporkan meninggal di lokasi kejadian. Empat korban lainnya meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit.
Selain itu, tiga biksu berada dalam kondisi kritis, lima orang mengalami luka berat,
sementara korban lain menderita luka ringan dan masih menjalani perawatan medis.
Rumah Sakit Mukdahan bahkan sempat mengeluarkan permintaan donor darah guna membantu penanganan para korban.
Baca Juga: Sensus Ekonomi di Kota Madiun Baru 15,5 Persen, BPS Akui Petugas Terkendala Aplikasi
Polisi Selidiki Peran Pengemudi Anak
Hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa pengemudi mobil adalah seorang bocah berusia 11 tahun yang sedang berada sendirian di rumah karena tidak masuk sekolah akibat sakit.
Anak tersebut diduga mengambil kendaraan milik keluarganya tanpa izin sebelum akhirnya kehilangan kendali.
Kepolisian masih melakukan pemeriksaan forensik terhadap kendaraan sekaligus mengkaji langkah hukum yang dapat ditempuh.
Proses tersebut menjadi perhatian karena pengemudi masih di bawah umur sekaligus merupakan anak berkebutuhan khusus.
Sementara itu, Gubernur Mukdahan Worayan Bunnarat mengimbau masyarakat agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama terkait akses terhadap kendaraan bermotor.
Menurutnya, tragedi ini menjadi pengingat penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun