Jawa Pos Radar Madiun - Seorang kiper asal Jalur Gaza, Saleem Khader Al-Ashqar (32), dilaporkan tewas ditembak pasukan Israel pada akhir Juni 2026 di wilayah Al-Qarara, timur laut Khan Younis, Gaza selatan.
Menurut keterangan Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), penjaga gawang klub Khadamat Khan Younis itu,
tengah dalam perjalanan menggunakan sepeda motor untuk mengisi ulang tabung gas demi kebutuhan memasak keluarganya ketika insiden penembakan terjadi.
Detik-Detik Terakhir yang Menyayat Hati
Berdasarkan sejumlah laporan, Al-Ashqar terkena tembakan yang bersarang di bagian perutnya saat melintasi area yang tengah dijaga tank militer Israel.
Ia segera dilarikan ke rumah sakit, namun tim medis tak mampu menyelamatkan nyawanya akibat pendarahan internal parah,
yang mengenai lambung, usus, hati, dan pankreasnya diperparah dengan keterbatasan alat medis, stok darah, dan listrik di rumah sakit setempat akibat kondisi perang yang berkepanjangan.
Baca Juga: Lebih dari 50 Serangan dalam Sepekan, Krisis Kemanusiaan di Palestina Kian Mengkhawatirkan
Ironisnya, kepergian Al-Ashqar terjadi hanya lima bulan setelah ia menikah.
Ia meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung anak pertama mereka.
Al-Ashqar juga tercatat sebagai satu-satunya anak laki-laki di antara tujuh saudara perempuannya.
Latar Belakang Kariernya di Lapangan Hijau
Sepanjang kariernya, Al-Ashqar sempat membela sejumlah klub di Jalur Gaza, termasuk Al-Aqsa Sports Club dan Al-Masdar Sports Club,
sebelum akhirnya menetap di Khadamat Khan Younis.
Ia dikenal luas di komunitas sepak bola Gaza sebagai kiper yang punya moral tinggi serta kepribadian rendah hati yang disukai rekan-rekannya.
Bagian dari Rentetan Korban di Dunia Olahraga Gaza
Kematian Al-Ashqar menambah panjang daftar korban dari kalangan atlet Palestina sejak konflik Gaza pecah pada Oktober 2023.
Baca Juga: Teori Konspirasi Lama Bangkit Lagi, Kebakaran Hutan di Argentina Seret Nama Turis Israel
Menurut data PFA, jumlah tokoh olahraga Palestina yang tewas kini mencapai 1.009 orang,
termasuk 567 di antaranya berasal dari komunitas sepak bola mulai dari pemain, pelatih, wasit, hingga staf administrasi.
Sekretaris Jenderal Persatuan Media Olahraga Palestina, Mustafa Siam, menyebut kematian Al-Ashqar,
sebagai cerminan dari beban berat yang dipikul sektor olahraga Palestina, seiring rusaknya banyak stadion dan fasilitas olahraga selama perang berlangsung.
Kecaman dan Tuntutan terhadap FIFA
Kabar duka ini turut memicu gelombang belasungkawa dan kecaman dari berbagai pihak, termasuk klub asal Chili, Deportivo Palestino,
yang menyampaikan rasa duka mendalam sekaligus menyerukan keadilan dan perdamaian. Sejumlah pihak, termasuk paman Al-Ashqar,
turut mengkritik FIFA dan badan sepak bola internasional lainnya karena dianggap belum mengambil langkah konkret terkait situasi yang menimpa komunitas olahraga di Gaza.
Momentum ini terasa makin ironis karena bertepatan dengan berlangsungnya Piala Dunia FIFA 2026,
di mana sejumlah suporter di berbagai laga sempat menunjukkan aksi solidaritas untuk Palestina.
Hingga artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak militer Israel terkait insiden penembakan spesifik yang menewaskan Al-Ashqar. (*)
*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun