Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Rahasia di Balik The Odyssey: Bagaimana Perempuan Membentuk Nasib Odysseus

Tim Content Writer Radar Madiun • Minggu, 12 Juli 2026 | 21:21 WIB
Mosaik kuno yang menggambarkan pertemuan Odysseus dengan para Siren dalam The Odyssey, salah satu kisah yang menunjukkan peran perempuan dalam membentuk perjalanan dan nasib sang pahlawan. (BBC)
Mosaik kuno yang menggambarkan pertemuan Odysseus dengan para Siren dalam The Odyssey, salah satu kisah yang menunjukkan peran perempuan dalam membentuk perjalanan dan nasib sang pahlawan. (BBC)

Jawa Pos Radar Madiun - Selama ribuan tahun, The Odyssey dikenal sebagai kisah perjalanan heroik Odysseus, prajurit Yunani yang berusaha kembali ke Kerajaan Ithaca setelah Perang Troya.

Namun, di balik cerita tentang keberanian, peperangan, dan petualangan melintasi lautan, terdapat sisi lain yang sering terabaikan: peran besar perempuan dalam menentukan arah perjalanan sang pahlawan.

Puisi epik berusia sekitar 2.800 tahun karya Homer ini bukan sekadar cerita tentang seorang pria yang menaklukkan berbagai rintangan.

Kisah tersebut juga menggambarkan bagaimana perempuan, mulai dari dewi, nimfa, penyihir, hingga manusia biasa, menggunakan kecerdikan, strategi, dan pengaruh untuk membentuk nasib Odysseus.

Bahkan, banyak peristiwa penting dalam perjalanan Odysseus terjadi karena campur tangan tokoh-tokoh perempuan yang ia temui sepanjang perjalanan.

Odysseus dan Perjalanan Panjang Menuju Ithaca

The Odyssey mengisahkan perjalanan Odysseus setelah bertahun-tahun berperang dalam Perang Troya.

Ia harus menghadapi berbagai ancaman selama perjalanan pulang yang berlangsung selama satu dekade.

Baca Juga: Teleskop Baru NASA Siap Diluncurkan 2026, Mampukah Mengungkap Misteri Terbesar Alam Semesta?

Cerita dimulai in medias res, yaitu langsung berada di tengah kejadian. Saat itu, Odysseus berada di Pulau Ogygia bersama nimfa Calypso selama tujuh tahun.

Meskipun dikenal sebagai pahlawan perang, Odysseus digambarkan berada dalam kondisi tidak berdaya.

Ia bahkan membutuhkan bantuan para dewa agar dapat meninggalkan pulau tersebut.

Calypso memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan Odysseus.

Sang pahlawan sendiri mengakui bahwa kecantikan Calypso melebihi istrinya, Penelope, karena Calypso adalah sosok abadi sementara Penelope hanyalah manusia.

Penelope, Perempuan yang Menjaga Kerajaan Ithaca

Jika Odysseus berjuang melawan berbagai bahaya di laut, Penelope menghadapi tantangan yang tidak kalah berat di rumah.

Selama suaminya tidak kembali, sebanyak 108 pelamar datang ke istana Ithaca dan berusaha menikahinya demi mendapatkan posisi sebagai raja baru.

Namun, Penelope tidak tinggal diam.

Ia menggunakan kecerdikan untuk menunda keputusan dengan membuat kain kafan bagi ayah mertuanya, Laertes.

Pada siang hari ia menenun kain tersebut, tetapi pada malam hari ia diam-diam membongkar hasil tenunannya.

Baca Juga: Bingung Mau Minum Apa untuk Bisa Kembalikan Mood Ceriamu? Solusinya Minum Matcha

Strategi ini membuat para pelamar tidak mengetahui bahwa pekerjaan tersebut tidak pernah selesai.

Kecerdikan Penelope menjadi faktor penting karena keberhasilannya mempertahankan posisi sebagai ratu menentukan apakah Odysseus masih memiliki kesempatan untuk mengambil kembali kerajaannya.

Athena, Dewi Strategi yang Membantu Odysseus

Tokoh perempuan penting lainnya adalah Athena, dewi kebijaksanaan dan strategi dalam mitologi Yunani.

Athena menjadi pendukung utama Odysseus. Ia membantu sang pahlawan sejak Perang Troya dan kemudian mendorong agar ia dapat kembali ke Ithaca.

Ketika Odysseus tiba di wilayah bangsa Phaeacia dalam kondisi lemah, Athena menggunakan kecerdasannya untuk menyamarkan kelemahannya dan membuatnya terlihat lebih berwibawa.

Berkat bantuan tersebut, Odysseus berhasil mendapatkan kepercayaan masyarakat Phaeacia yang kemudian memberikan perlindungan, harta, dan bantuan perjalanan pulang.

Menariknya, dalam banyak kemunculannya, Athena sering menyamar sebagai laki-laki.

Ia tampil sebagai tokoh seperti Mentes, seorang raja yang bersahabat dengan Ithaca, atau sebagai utusan laki-laki.

Baca Juga: NASA Ajak Publik Ikut Terbang Bersama Roman Space Telescope, Apa Misi Besarnya?

Hal tersebut menunjukkan pandangan dunia dalam cerita kuno, bahwa laki-laki memiliki kekuasaan secara terbuka, sementara perempuan sering memengaruhi peristiwa melalui strategi tersembunyi.

Sirene dan Circe, Ujian bagi Seorang Pahlawan

Dalam perjalanan pulangnya, Odysseus bertemu berbagai sosok perempuan yang tidak hanya menjadi ancaman, tetapi juga memberikan pelajaran.

Salah satunya adalah para Sirene, makhluk yang dikenal memiliki nyanyian indah tetapi mematikan.

Suara mereka mampu membuat para pelaut kehilangan kendali hingga menuju kematian.

Odysseus sebenarnya ingin mendengar nyanyian tersebut.

Untuk menghindari godaan, ia meminta anak buahnya mengikat dirinya pada tiang kapal agar tidak dapat melompat menuju sumber suara.

Selain Sirene, Odysseus juga bertemu Circe, seorang penyihir cantik yang mampu mengubah manusia menjadi hewan menggunakan ramuan dan sihir.

Circe awalnya menjadi ancaman karena mengubah beberapa anak buah Odysseus menjadi babi.

Namun, kemudian ia juga membantu Odysseus dengan memberikan petunjuk penting untuk melanjutkan perjalanan menuju dunia bawah.

Baca Juga: Bukan Sekedar Sepatu Tinggi, Inilah Fakta Menarik tentang High Heels dan Cara Memilihnya

Perempuan sebagai Cermin Kelemahan dan Kemanusiaan Odysseus

Berbagai tokoh perempuan dalam The Odyssey tidak hanya berfungsi sebagai penghalang perjalanan Odysseus.

Mereka menjadi bagian penting yang menguji karakter sang pahlawan.

Odysseus bukanlah tokoh sempurna.

Ia dikenal cerdas, penuh strategi, dan mampu menipu lawan, tetapi ia juga mudah tergoda oleh dunia baru yang ia temui.

Sifat inilah yang membuatnya berbeda dari gambaran pahlawan klasik yang selalu kuat dan tidak memiliki kelemahan.

Seperti yang digambarkan dalam terjemahan Emily Wilson, Odysseus adalah "a complicated man" atau sosok manusia yang penuh kerumitan.

Ia menjadi pahlawan bukan karena tidak pernah gagal, melainkan karena mampu menghadapi konflik dalam dirinya sendiri.

The Odyssey Tetap Relevan hingga Saat Ini

Meski berasal dari Yunani kuno, The Odyssey masih menarik perhatian pembaca modern karena menghadirkan tema yang dekat dengan kehidupan manusia: kekuasaan, identitas, godaan, kehilangan, dan perjuangan menemukan jalan pulang.

Kisah ini juga menunjukkan bahwa perjalanan seorang pahlawan tidak selalu dibentuk oleh kekuatan fisik.

Dalam dunia Odysseus, kecerdikan dan pengaruh perempuan memiliki peran besar dalam menentukan akhir cerita.

Dengan berbagai interpretasi baru, termasuk adaptasi film terbaru, The Odyssey terus membuktikan bahwa kisah berusia ribuan tahun masih mampu berbicara kepada generasi modern. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
The Odyssey Mitologi Yunani Peran Perempuan dalam Sastra art