Jawa Pos Radar Madiun - Langit di wilayah Almeria, Spanyol selatan, berubah gelap ketika kobaran api bergerak cepat melahap kawasan permukiman dan lahan terbuka.
Di tengah kepulan asap dan kondisi darurat, tim penyelamat terus berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang masih belum ditemukan.
Sedikitnya 12 orang meninggal dunia dan 23 lainnya dilaporkan hilang setelah kebakaran hutan besar melanda wilayah tenggara Spanyol.
Petugas pemadam kebakaran masih berusaha mengendalikan api yang menjadi salah satu kebakaran paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di negara tersebut.
Pihak Perlindungan Sipil Spanyol menyebut korban tewas ditemukan di desa Bedar, kawasan yang terdampak parah oleh kebakaran.
Identitas para korban masih dalam proses penyelidikan, namun sejumlah warga negara asing termasuk di antara korban meninggal.
Kebakaran Meluas di Wilayah Almeria
Kebakaran terjadi di wilayah Los Gallardos, Provinsi Almeria, Andalusia.
Baca Juga: Dubai Chewy Cookie Viral! Begini Resep dan Rahasia Tekstur Kenyal yang Bikin Ketagihan
Api menyebar dengan cepat sejak Kamis dan telah menghancurkan lebih dari 6.600 hektare wilayah berdasarkan laporan pejabat setempat.
Pemimpin Regional Andalusia Juanma Moreno mengatakan sedikitnya delapan orang mengalami luka-luka, termasuk empat korban yang berada dalam kondisi serius.
Dalam wawancara dengan radio Spanyol pada Jumat pagi, Moreno menyebut beberapa korban diduga merupakan warga negara Inggris yang terjebak di dalam mobil ketika berusaha melarikan diri dari kobaran api.
Mayoritas korban berasal dari luar Spanyol, terutama warga Inggris dan Belgia.
Namun, pihak berwenang masih melakukan proses identifikasi terhadap seluruh korban.
Sebagai langkah pencegahan, sebanyak 1.448 orang dari 11 lokasi telah dievakuasi untuk menghindari risiko keselamatan akibat penyebaran api.
Cuaca Panas dan Medan Sulit Hambat Pemadaman
Upaya pemadaman menghadapi tantangan besar karena kondisi cuaca yang tidak mendukung serta lokasi kebakaran yang sulit dijangkau.
Moreno mengatakan wilayah tersebut menghadapi salah satu kebakaran paling cepat berkembang dan kompleks dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Hingga 150 Toko Eks WHSmith Terancam Tutup, Restrukturisasi Disetujui Pengadilan Inggris
Ia menyebut musim panas tahun ini menjadi tantangan bagi Spanyol karena curah hujan tinggi pada musim dingin menyebabkan pertumbuhan vegetasi meningkat.
Ketika suhu panas datang, tumbuhan tersebut mengering dan menjadi bahan bakar yang membuat api lebih mudah menyebar.
Moreno menggambarkan situasi tersebut sebagai tragedi besar.
"The consequences are devastating," ujar Moreno pada Jumat, menggambarkan dampak kebakaran yang sangat menghancurkan.
Petugas darurat terus melakukan operasi pencarian dan penyelamatan untuk menemukan warga yang masih dinyatakan hilang.
Dugaan Awal Penyebab Kebakaran
Pemerintah daerah Andalusia masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kebakaran.
Namun, seorang pejabat regional sebelumnya menyatakan kebakaran kemungkinan bermula akibat tiang listrik yang roboh.
Menteri Darurat Andalusia Antonio Sanz Cabello menyebut malam sebelum penanganan kebakaran sebagai situasi yang sangat tragis dengan dampak yang berat.
Menurutnya, proses pemadaman semakin sulit karena kondisi medan yang terpencil serta terbatasnya akses bagi kendaraan dan alat berat.
Baca Juga: Program Magang Nasional 2026 Resmi Dibuka, 150 Ribu Peserta Siap Ditempatkan di 8.800 Perusahaan
Pemerintah Imbau Warga Ikuti Evakuasi
Pemerintah Andalusia meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti seluruh instruksi evakuasi dari petugas.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah bertambahnya korban akibat api yang masih sulit dikendalikan.
Hingga kini, skala penuh bencana masih terus dihitung.
Tim penyelamat masih bekerja mencari korban hilang, sementara petugas berupaya memastikan api tidak kembali meluas ke wilayah lain.
Kebakaran Almeria menjadi pengingat bahwa kombinasi perubahan cuaca ekstrem, suhu tinggi, dan kondisi lingkungan kering dapat meningkatkan risiko bencana kebakaran besar, terutama selama musim panas. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun