Jawa Pos Radar Madiun - Dentuman ledakan kembali memecah keheningan malam di Ukraina.
Ketika warga masih berusaha bertahan dari serangan udara yang terus berulang, rudal dan drone kembali menghantam sejumlah wilayah.
Di saat yang sama, Ukraina melancarkan serangan balasan ke armada Rusia di Laut Hitam, menandai babak baru meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
Sedikitnya delapan orang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan Rusia yang terjadi semalam hingga Rabu (15/7) pagi.
Korban tersebar di beberapa wilayah, sementara serangan balasan Ukraina diklaim berhasil menyasar puluhan kapal Rusia di Laut Hitam.
Odesa Kembali Jadi Sasaran Serangan
Wilayah pelabuhan Odesa menjadi salah satu daerah yang paling terdampak.
Kepala Administrasi Militer Odesa, Oleh Kiper, mengatakan tiga orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka setelah serangan drone dan rudal menghantam kawasan tersebut.
Baca Juga: BMW i5 Resmi Hadir, Sedan Listrik Premium dengan Jarak Tempuh Hingga 582 Km
Menurut Kiper, sebuah rudal Rusia menghantam bangunan apartemen bertingkat yang dihuni warga sipil.
Selain itu, sebuah bangunan nonhunian dan jaringan pipa gas juga mengalami kerusakan.Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengakui telah menyerang Odesa.
Moskow menyatakan sasaran mereka adalah infrastruktur pelabuhan yang disebut digunakan untuk membongkar bahan bakar minyak dan pelumas.
Korban Bertambah di Sumy dan Wilayah Lain
Tak hanya Odesa, serangan juga terjadi di berbagai daerah lain.
Di Kota Sumy, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 17 lainnya terluka akibat serangan bom udara berpemandu.
Informasi tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Wali Kota Sumy, Artem Kobzar.
Korban jiwa lainnya dilaporkan berasal dari wilayah Dnipropetrovsk dan Zaporizhzhia, sehingga total korban tewas akibat rangkaian serangan mencapai delapan orang.
PBB Soroti Meningkatnya Korban Sipil
Laporan terbaru Misi Pemantauan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Ukraina menunjukkan bahwa sepanjang Juni lalu sedikitnya 293 warga sipil tewas dan 1.990 lainnya terluka.
Baca Juga: GODA Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik Aman dan Cerdas untuk Masyarakat Indonesia
PBB menyebut penggunaan rudal jarak jauh dan drone masih menjadi penyebab utama jatuhnya korban sipil, dengan sekitar 45 persen kematian berasal dari serangan menggunakan kedua jenis senjata tersebut.
Sebagian besar korban berada jauh dari garis depan, termasuk di kota-kota besar seperti Kyiv dan Dnipro.
Ukraina Klaim Hantam 20 Kapal Rusia
Di tengah gempuran Rusia, militer Ukraina menyatakan telah melancarkan operasi drone ke Laut Hitam.
Menurut pihak militer, sebanyak 20 kapal Rusia berhasil menjadi sasaran, termasuk 17 kapal tanker minyak.
Operasi ini disebut sebagai bagian dari upaya mengganggu jalur logistik dan distribusi energi Rusia.
Serangan tersebut terjadi setelah Ukraina dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan operasi terhadap kapal-kapal Rusia di sekitar Laut Azov dan Laut Hitam.
Menurut Reuters, serangan terhadap armada Rusia telah memaksa Moskow membatasi aktivitas pelayaran di Laut Azov.
Jalur ini diketahui menangani sekitar seperempat ekspor gandum Rusia.
Baca Juga: 10 Rekomendasi Sabun Wangi Terbaik, Palmolive Aroma Therapy Sensual Bikin Mandi Serasa Spa Mahal
Odesa Tetap Menjadi Target Strategis
Dalam beberapa hari terakhir, Rusia terus menggencarkan serangan ke kawasan pelabuhan laut dalam di wilayah Odesa.
Pelabuhan tersebut memiliki peran penting bagi perekonomian Ukraina selama perang karena menjadi jalur utama ekspor gandum dan berbagai komoditas lainnya.
Di sisi lain, Rusia menyebut serangan mereka ditujukan pada fasilitas yang berkaitan dengan aktivitas militer dan pengangkutan logistik.
Ukraina Hadapi Dinamika Politik
Di tengah eskalasi perang, Ukraina juga menghadapi perubahan politik di tingkat pemerintahan.
Presiden Volodymyr Zelensky telah memberhentikan Perdana Menteri Yulia Svyrydenko yang belum genap satu tahun menjabat.
Parlemen Ukraina menyetujui pengunduran dirinya pada Selasa (14/7), meski sejumlah anggota parlemen mempertanyakan alasan pergantian tersebut.
Baca Juga: Malam itu Madiun Berubah Jadi Panggung Raksasa, Ada Apa di Balik Spektra Carnival 2026?
Kepala perusahaan energi negara Naftogaz, Serhiy Koretskyi, disebut sebagai kandidat kuat pengganti Svyrydenko.
Parlemen dijadwalkan melakukan pemungutan suara terkait penunjukan tersebut pada Kamis.
Pada hari yang sama, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen tiba di Kyiv untuk membahas kerja sama industri pertahanan antara Uni Eropa dan Ukraina serta proses aksesi Ukraina ke Uni Eropa.
Perang Rusia-Ukraina yang dimulai sejak invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022 hingga kini masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda mereda. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : BBC