Malam ke-10 Serangan AS ke Iran, Situasi Timur Tengah Kian Memanas

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 10:06 WIB
Vehicles drive past a monument depicting the clenched fist of the late Iranian supreme leader, Ayatollah Ali Khamenei, who was killed in a US and Israeli strike on February 28, in Islamic Revolution Square in Tehran, on July 19, 2026 (Al Jazeera)
Vehicles drive past a monument depicting the clenched fist of the late Iranian supreme leader, Ayatollah Ali Khamenei, who was killed in a US and Israeli strike on February 28, in Islamic Revolution Square in Tehran, on July 19, 2026 (Al Jazeera)

Jawa Pos Radar Madiun - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat tanpa tanda-tanda mereda.

Memasuki malam ke-10 berturut-turut, militer Amerika kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran.

Di sisi lain, Teheran mengaku telah membalas dengan menargetkan fasilitas militer Amerika di kawasan Teluk.

Situasi yang semakin memanas juga mulai berdampak pada jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.

AS Kembali Serang Sejumlah Wilayah di Iran

Amerika Serikat melanjutkan operasi militernya pada Senin (21/7) malam waktu setempat. Media Iran melaporkan terdengar ledakan di beberapa wilayah, antara lain:

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang disebut digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

"designed to further degrade Iranian military capabilities used to attack commercial shipping in the Strait of Hormuz".

Baca Juga: Pria Thailand Bawa Uang Tunai Rp6,3 Miliar ke Indonesia, Berakhir Diamankan Bea Cukai

Iran Klaim Membalas Serangan

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal darat ke darat yang diklaim menyasar sistem rudal HIMARS milik Amerika Serikat di Camp Arifjan, Kuwait.

Hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan maupun korban akibat klaim serangan tersebut.

Kapal Tanker Kembali Jadi Sasaran

Ketegangan di kawasan juga berdampak pada jalur pelayaran internasional.

Pada Senin, dua kapal tanker minyak milik perusahaan Yunani dilaporkan terkena serangan saat melintasi Selat Hormuz.

Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan sebuah kapal tanker lainnya terkena serangan di dekat pelabuhan Limah, Oman.

Insiden tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan distribusi energi dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur ekspor minyak terpenting secara global.

Trump Ancam Iran dengan Balasan Lebih Keras

Sebelum operasi militer kembali dilakukan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan peringatan melalui media sosial bahwa setiap serangan terhadap personel militer Amerika akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Baca Juga: American Express Raih Peringkat Pertama Aplikasi dan Situs Kartu Kredit Terbaik Versi JD Power 2026

Pernyataan itu muncul setelah dua tentara Amerika dilaporkan tewas dan satu lainnya hilang akibat serangan rudal Iran yang menghantam pangkalan militer di Yordania pada Jumat lalu.

Seorang personel militer Amerika lainnya juga dilaporkan tewas di Irak utara.

Trump juga kembali menegaskan bahwa serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz akan memicu respons militer yang lebih kuat dari Washington.

Houthi Umumkan Blokade terhadap Arab Saudi

Di tengah meningkatnya konflik, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade terhadap Arab Saudi.

Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik Yaman yang relatif mereda dalam empat tahun terakhir berpotensi kembali memanas.

Kondisi ini juga dinilai dapat mengganggu keamanan pelayaran di Laut Merah, salah satu jalur perdagangan internasional yang strategis.

Ketegangan Timur Tengah Terus Meningkat

Rangkaian serangan selama sepuluh malam berturut-turut menunjukkan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin intens.

Selain berpotensi memperluas konfrontasi militer di kawasan, situasi ini juga meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan internasional, khususnya di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Sejumlah pihak internasional kini terus memantau perkembangan terbaru karena konflik tersebut dinilai dapat berdampak pada stabilitas kawasan maupun pasokan energi global. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : Al Jazeera
timur tengah amerika serikat iran selat hormuz