Jawa Pos Radar Madiun - Ketegangan kembali memuncak di Laut China Selatan usai kapal-kapal China dan Filipina terlibat bentrokan fisik di kawasan Second Thomas Shoal (dikenal Filipina sebagai Ayungin Shoal) pada Senin (20/7/2026).
Insiden ini disebut sebagai konfrontasi paling dramatis di kawasan tersebut sejak Juni 2024.
Ketika seorang penyelam tempur Angkatan Laut Filipina kehilangan ibu jarinya dalam insiden serupa.
Versi Filipina: Kepala Pelaut Dipukul Tongkat Kayu
Berdasarkan keterangan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), sebuah kapal karet China Coast Guard berisi delapan personel mendekati kapal BRP Sierra Madre.
Kapal perang tua yang sengaja dikandaskan Filipina di Second Thomas Shoal sejak 1999 sebagai penanda klaim wilayah, sembari mengambil foto dan video.
Baca Juga: 15 Orang Ditangkap, Begini Kronologi Kerusuhan Suporter Argentina usai Kalah dari Spanyol
Ketika dua kapal Angkatan Laut Filipina bergerak mengusir kapal China tersebut, personel China dituding bereaksi dengan menyerang pelaut Filipina menggunakan tongkat kayu.
Hingga mengenai kepala salah satu personel dan merusak salah satu kapal karet Filipina.
Versi China: Filipina Menyerang Lebih Dulu
China Coast Guard membantah tudingan tersebut dan menyebut kronologi sebaliknya.
Menurut mereka, dua kapal karet Filipina yang diluncurkan dari BRP Sierra Madre mengabaikan peringatan berulang, mendekat secara berbahaya, dan menabrak kapal patroli China dari arah depan.
China menuding personel Filipina lebih dulu menggunakan dayung dan tongkat panjang untuk menyerang petugas penegak hukum mereka.
Sementara pihaknya mengklaim hanya merespons dengan penuh pengendalian diri lewat peringatan dan langkah countermeasure yang proporsional.
Baca Juga: Bukan Cuma di Buenos Aires, Kericuhan Suporter Argentina Juga Pecah di Rio de Janeiro
Rekaman Video yang Beredar Luas
Video yang dirilis pihak militer Filipina memperlihatkan sebuah kapal putih menabrak kapal karet hitam yang lebih kecil.
Dengan personel dari kapal yang lebih besar terlihat memukul awak kapal lain menggunakan benda menyerupai tongkat putih.
Sementara itu, kru di kapal yang lebih kecil tampak melawan balik menggunakan dayung mereka sebelum akhirnya menjauh dari lokasi.
Terjadi Bersamaan dengan Pertemuan ASEAN
Menariknya, insiden ini terjadi hampir bersamaan dengan agenda pertemuan tingkat tinggi para menteri luar negeri ASEAN di Manila, yang turut dihadiri Menteri Luar Negeri China, Wang Yi.
Baca Juga: Bukan Lagi Soal 5G, Persaingan AS-China Kini Bergeser ke Kabel Internet Bawah Laut
Filipina melalui satuan tugas khusus perairan sengketa menyebut tindakan ini sebagai bentuk agresi yang tidak dapat diterima dan berpotensi meningkatkan risiko kesalahan perhitungan berbahaya di laut.
Sekaligus mendesak China Coast Guard segera menghentikan tindakan berbahaya dan ilegal yang mengancam keselamatan jiwa serta stabilitas kawasan.
Latar Belakang Sengketa yang Terus Berlanjut
Second Thomas Shoal sendiri berada dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil laut milik Filipina.
Namun China turut mengklaim kawasan tersebut sebagai bagian dari wilayahnya dengan sebutan Renai Reef.
Insiden semacam ini bukan kali pertama terjadi sebelumnya pada Juni 2024, Filipina bahkan pernah menuding China Coast Guard bertindak "seperti bajak laut" usai personel bersenjata pisau dan tombak menaiki kapal resupply Filipina di lokasi yang sama. (*)
*Dwiki Dermawan, Univeritas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun