Jawa Pos Radar Madiun - Di balik indeks saham yang masih mencetak rekor dan tingkat pengangguran yang relatif stabil, banyak warga Amerika Serikat justru merasakan tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.
Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat membuat semakin banyak keluarga kesulitan memenuhi pengeluaran rutin, mulai dari membeli bahan makanan hingga mengisi bahan bakar kendaraan.
Temuan itu terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan Harris Poll untuk The Guardian.
Hasilnya menunjukkan mayoritas warga AS menilai negaranya sedang menghadapi krisis keterjangkauan (affordability crisis).
Hampir Seluruh Responden Rasakan Krisis Keterjangkauan
Survei menemukan 95 persen responden percaya Amerika Serikat sedang mengalami krisis biaya hidup.
Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, terutama sembako dan bensin, menjadi beban utama yang dirasakan masyarakat.
Selain itu, sekitar setengah warga Amerika mengaku mengalami kesulitan membeli kebutuhan pokok tersebut.
Pandangan terhadap kondisi ekonomi juga memburuk dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Baca Juga: Teleskop Baru NASA Siap Diluncurkan 2026, Mampukah Mengungkap Misteri Terbesar Alam Semesta?
Persepsi Ekonomi Semakin Pesimistis
Hasil survei menunjukkan:
- 57 persen responden menilai kondisi ekonomi semakin memburuk.
- Angka tersebut naik dibanding survei Februari yang mencatat 46 persen.
- Hanya 16 persen yang merasa ekonomi membaik, turun dari 28 persen pada Februari.
- Semakin banyak responden yang mengaku kondisi keuangan pribadi mereka ikut memburuk.
Perubahan persepsi ini terjadi setelah konflik Iran memicu lonjakan harga energi, termasuk harga bahan bakar.
Kekhawatiran Terjadi di Semua Kelompok Politik
Survei menunjukkan persoalan biaya hidup tidak hanya dirasakan oleh satu kelompok politik.
Baik pemilih Partai Demokrat, Partai Republik, maupun independen, sekitar separuh responden mengaku mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, dua pertiga warga Amerika, termasuk 49 persen pemilih Republik, mengaku kurang percaya pemerintah federal mampu mengatasi krisis biaya hidup yang mereka hadapi.
Dukungan terhadap Ekonomi Trump Ikut Menurun
Responden dari Partai Republik yang sebelumnya optimistis terhadap kondisi ekonomi pada masa pemerintahan Donald Trump juga mulai menunjukkan perubahan sikap.
Pada Februari:
49 persen pemilih Republik menilai ekonomi membaik.
Dalam survei terbaru:
Angka tersebut turun menjadi 27 persen.
Sementara 38 persen kini menilai ekonomi justru memburuk, naik dari 22 persen sebelumnya.
Di wilayah pedesaan, yang selama ini menjadi basis kuat Partai Republik, 64 persen responden mengatakan kondisi ekonomi semakin buruk.
Mereka juga lebih banyak menyatakan peluang kerja yang baik semakin berkurang serta tarif perdagangan berdampak negatif terhadap sektor manufaktur.
Baca Juga: Insiden Jalanan di Ho Chi Minh, Pengemudi Van Jadi Korban Perusakan Setelah Membunyikan Klakson
Harga Energi Masih Jadi Sorotan
Meski harga minyak mentah dunia mulai turun setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni lalu, harga bensin di SPBU belum kembali ke level sebelum konflik.
Situasi tersebut membuat persoalan biaya hidup tetap menjadi perhatian utama masyarakat menjelang pemilu sela (midterm elections) yang akan datang.
Demokrat Juga Hadapi Tantangan
Survei ini tidak hanya menjadi peringatan bagi Partai Republik.
Di kalangan pemilih independen yang meyakini adanya krisis keterjangkauan, 54 persen menyatakan tidak ada satu pun partai politik yang memiliki solusi meyakinkan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Hal ini menjadi tantangan bagi Partai Demokrat yang tengah berupaya menarik dukungan pemilih independen.
Lapangan Kerja Stabil, tetapi Inflasi Menekan
Di sisi lain, data pasar tenaga kerja masih menunjukkan kondisi yang relatif kuat.
Laporan terbaru Bureau of Labor Statistics mencatat rata-rata 111.000 lapangan kerja baru tercipta setiap bulan dalam tiga bulan terakhir.
Namun, kenaikan inflasi akibat konflik internasional menggerus peningkatan upah.
Pada Mei:
Inflasi tahunan mencapai 4,2 persen.
Rata-rata pendapatan per jam justru turun 0,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, sekitar setengah responden juga mengaku kesulitan membayar berbagai utang, termasuk pinjaman mahasiswa yang kini diatur melalui skema pembayaran lebih ketat.
Survei Harris Poll tersebut dilakukan secara daring terhadap 4.100 orang dewasa di Amerika Serikat pada periode 28 Mei hingga 6 Juni 2026, dengan sampel yang mewakili populasi nasional. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Sumber : The Guardian