Di Balik Euforia Piala Dunia, Inggris Waspadai Lonjakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 22:17 WIB
Women’s Aid has launched an awareness campaign, The Other Kick Off, signifying when an abuser is likely to come home from a match. (The Guardian)
Women’s Aid has launched an awareness campaign, The Other Kick Off, signifying when an abuser is likely to come home from a match. (The Guardian)

Jawa Pos Radar Madiun - Gemuruh sorak di stadion dan pesta kemenangan biasanya menjadi warna utama setiap Piala Dunia.

Namun, di balik kemeriahan itu, aparat penegak hukum di Inggris dan Wales justru bersiap menghadapi ancaman lain yang tak kalah serius: meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menjelang bergulirnya turnamen Piala Dunia 2026, Crown Prosecution Service (CPS) atau lembaga penuntutan Inggris memperingatkan bahwa laporan kekerasan domestik cenderung meningkat selama kompetisi berlangsung.

Masyarakat, khususnya korban, diminta tidak ragu melapor karena pelaku akan diproses sesuai hukum.

H2: Jaksa Prediksi Kasus KDRT Meningkat Selama Piala Dunia

CPS menyebut turnamen sepak bola besar selama ini kerap diikuti peningkatan laporan kekerasan dalam rumah tangga.

Karena itu, aparat kepolisian dan jaksa telah menyiapkan langkah untuk menangani kasus yang muncul selama Piala Dunia berlangsung.

National Stalking Lead CPS, Olivia Rose, mengatakan pihaknya ingin memastikan para pelaku mengetahui bahwa tindakan mereka tidak akan ditoleransi.

"We often see more domestic abuse cases around major football tournaments like these."

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan membawa pelaku ke meja hijau apabila terbukti melakukan tindak pidana.

Baca Juga: NASA Batalkan Rencana Modul Inti ISS, Industri Antariksa Komersial Akhirnya Menang

"The point that we want to get across is that those responsible will be held accountable, and that we won’t hesitate to bring them to justice."

H2: Sepak Bola Bukan Penyebab, Tetapi Bisa Memperburuk Situasi

Olivia Rose menekankan bahwa pertandingan sepak bola bukan penyebab kekerasan dalam rumah tangga.

Namun, konsumsi alkohol dan emosi yang memuncak selama pertandingan dapat memperburuk situasi yang sebelumnya sudah bermasalah.

"We know that football doesn’t cause domestic abuse, but alcohol and heightened emotions can make it worse."

Data terbaru CPS menunjukkan sekitar empat dari lima perkara kekerasan domestik yang diajukan polisi berhasil berlanjut ke tahap penuntutan.

Menurut Rose, angka tersebut menunjukkan keseriusan aparat dalam menangani kasus KDRT.

H2: Korban Diminta Tidak Takut Melapor

Selain mengingatkan pelaku, CPS juga mengajak korban untuk mencari bantuan dan melaporkan kekerasan yang dialami kepada kepolisian.

Rose mengakui bahwa melaporkan kekerasan bukan keputusan yang mudah. Namun ia memastikan setiap laporan akan ditangani secara serius.

"We want victims to know that support is out there for them, and that we understand how difficult it is, it can be, to report domestic abuse, but if they do come forward, that they will be taken seriously."

Baca Juga: Casio WS-1800-1AV: Jam Tangan Digital Sporty dengan Baterai 10 Tahun dan Timer Multifungsi

H2: Kampanye Khusus Diluncurkan Selama Piala Dunia

Organisasi Women's Aid meluncurkan kampanye bertajuk The Other Kick Off untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kekerasan dalam rumah tangga selama turnamen berlangsung.

Kampanye tersebut menggambarkan "kick-off" lain, yakni waktu ketika pelaku diduga pulang ke rumah setelah menyaksikan pertandingan dan berpotensi melakukan kekerasan.

Veronica Oakeshott dari Women's Aid mengatakan Piala Dunia menjadi momentum penting untuk mengingatkan korban bahwa layanan bantuan selalu tersedia.

H2: Penelitian Tunjukkan Angka KDRT Memang Naik

Penelitian dari Lancaster University menemukan adanya peningkatan laporan KDRT ketika tim nasional Inggris bertanding.

H3: Temuan Penelitian
Kasus meningkat 26 persen ketika Inggris menang atau bermain imbang.
Kasus meningkat 38 persen ketika Inggris kalah.

Sementara itu, National Police Chiefs' Council (NPCC) mencatat lebih dari 300 laporan tindak kekerasan domestik selama Euro 2024 yang menurut korban berkaitan dengan pertandingan sepak bola.

Assistant Commissioner Louisa Rolfe mengatakan kepolisian akan bekerja sama dengan jaksa untuk melindungi korban dan memastikan pelaku diproses hukum.

Baca Juga: Remaja Ciptakan Filter Knalpot Murah yang Diklaim Pangkas Emisi Hingga 74 Persen

"Our priority throughout the tournament is to support and protect anyone who may be at risk of domestic abuse."

H2: Organisasi Perlindungan Korban Ingatkan Jangan Salahkan Sepak Bola

Lembaga perlindungan korban Refuge mengingatkan bahwa kekerasan domestik sepenuhnya merupakan tanggung jawab pelaku, bukan akibat olahraga atau hasil pertandingan.

Head of Policy and Public Affairs Refuge, Ellie Butt, menegaskan:

"But no matter whether a team wins, draws or loses, football doesn’t cause abuse – abusers do."

Refuge juga berharap komitmen aparat dalam menindak pelaku selama Piala Dunia tidak hanya berlangsung ketika turnamen digelar, melainkan terus diterapkan sepanjang tahun. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : The Guardian
world cup 2026 KDRT kekerasan dalam rumah tangga Inggris Piala Dunia 2026