Jawa Pos Radar Madiun - Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki babak baru. Saat dunia masih menyoroti meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, ancaman kini meluas ke jalur pelayaran internasional.
Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global ikut terdampak setelah kelompok Houthi mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi.
Di saat yang hampir bersamaan, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran.
Perkembangan ini semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi dunia dan potensi gangguan terhadap perdagangan internasional.
Houthi Klaim Serang Dua Kapal Tanker Saudi
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Mereka menyebut kedua kapal tersebut adalah Encelia dan Layla.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan dilakukan menggunakan drone dan rudal karena kedua kapal tersebut disebut melanggar blokade laut yang diberlakukan kelompok itu.
Dalam pernyataannya, Saree menegaskan operasi laut akan terus berlanjut dan mengatakan pihaknya akan tetap "enforcing the 'siege for a siege' equation".
Meski demikian, klaim mengenai serangan terhadap kapal Layla maupun keterlibatan Houthi secara keseluruhan masih belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Baca Juga: Strawberry Moon 2026 Muncul Akhir Juni, Ini Waktu Terbaik Menyaksikan Fenomena Langit yang Memukau
Kapal Tanker Terbakar di Laut Merah
Lembaga UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah proyektil tak dikenal menghantam kapal tanker Saudi sekitar 130 kilometer dari Al Shuqaiq pada pukul 20.00 GMT.
Serangan tersebut memicu kebakaran di atas kapal, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, perusahaan manajemen risiko maritim Vanguard juga melaporkan bahwa kapal tanker Encelia menjadi sasaran serangan.
Amerika Serikat Luncurkan Serangan Baru ke Iran
Tak lama setelah insiden di Laut Merah, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan peluncuran serangan baru atas arahan Presiden Donald Trump.
Serangan itu disebut menyasar berbagai fasilitas militer Iran, meliputi:
- Kapabilitas maritim
- Gudang rudal
- Gudang drone
- Pos pengawasan pesisir
- Sistem pertahanan udara
CENTCOM menyatakan operasi tersebut dilakukan untuk "further degrade Iran's ability to threaten civilian mariners and commercial vessels transiting regional waters".
Media pemerintah Iran kemudian melaporkan dua orang tewas akibat serangan yang terjadi di wilayah selatan negara tersebut.
Baca Juga: Sagrada Família Masuki Babak Baru, Menara Yesus Kristus Rampung Tepat Seabad Setelah Gaudí Wafat
Situasi di Selat Hormuz Semakin Memanas
Selain meningkatnya ketegangan di Laut Merah, situasi di Selat Hormuz juga memburuk.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim selat tersebut telah "completely closed" setelah terjadi ledakan di jalur pelayaran.
Media pemerintah Iran melaporkan:
- Tiga kapal tanker dihentikan.
- Satu kapal tanker terbakar.
- Dua kapal lainnya memilih berbalik arah setelah mencoba melintasi jalur yang disebut telah dipasangi ranjau.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah memperingatkan Iran bahwa Amerika Serikat akan menyerang jembatan maupun pembangkit listrik Iran apabila kapal-kapal di Selat Hormuz kembali menjadi sasaran serangan.
Sebagai tanggapan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan akan adanya respons "eye for an eye" terhadap setiap serangan yang ditujukan kepada Iran.
Bab al-Mandab Ikut Ditutup Houthi
Sebelumnya, Houthi telah mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi.
Seorang pejabat media kelompok tersebut mengatakan mereka menutup Selat Bab al-Mandab, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu lintasan perdagangan laut tersibuk di dunia.
Langkah tersebut memperbesar risiko terganggunya distribusi minyak internasional, terlebih ketika Selat Hormuz juga menghadapi situasi yang tidak stabil.
Menurut Houthi, sekitar sepuluh kapal telah dipaksa mundur akibat kebijakan tersebut. Hingga kini, sedikitnya tujuh kapal tanker diketahui berbalik arah di dekat perairan Yaman.
Baca Juga: 74 Tahun Jadi Misteri, Bangkai Pesawat Pan Am Ini Akhirnya Ditemukan di Dasar Atlantik
Negosiasi Perdamaian Kembali Mandek
Meningkatnya eskalasi juga memperburuk upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebelumnya, kedua negara sempat menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada Juni untuk menghentikan operasi militer, membuka kembali Selat Hormuz, serta menyusun kesepakatan mengakhiri perang dalam waktu 60 hari.
Namun, sekitar tiga pekan setelah kesepakatan tersebut ditandatangani, Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah "over" setelah Iran dituduh menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, yang kemudian dibalas dengan serangan Amerika Serikat.
Dengan situasi yang kini melibatkan Selat Hormuz dan Bab al-Mandab sekaligus, pelayaran internasional menghadapi tekanan yang semakin besar.
Jalur distribusi minyak dunia berada dalam kondisi rawan, sementara pasar energi global terus memantau perkembangan konflik yang berpotensi memicu gejolak harga minyak dalam waktu dekat. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : BBC