Elon Musk Kembali Jadi Sorotan, Film Kontroversial Ini Memicu Perdebatan di Eropa

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 20:27 WIB
Critics say Musk amplified anti-immigration rhetoric during violent riots in Belfast (BBC)
Critics say Musk amplified anti-immigration rhetoric during violent riots in Belfast (BBC)

Jawa Pos Radar Madiun - Sebuah film laga dengan jalan cerita penuh kekerasan mendadak menjadi bahan perbincangan internasional.

Bukan semata karena isi ceritanya, melainkan karena dukungan langsung dari Elon Musk yang membuat film tersebut menjangkau jutaan penonton hanya dalam hitungan hari.

Di balik promosi itu, muncul perdebatan mengenai pengaruh miliarder teknologi tersebut terhadap wacana politik dan isu imigrasi di Eropa.

Film berjudul Citizen Vigilante karya sutradara Jerman Uwe Boll menjadi sorotan setelah Musk membagikannya secara gratis melalui platform X selama 48 jam pada akhir Juni.

Langkah tersebut membuat film itu sempat masuk jajaran tontonan populer di sejumlah layanan streaming seperti Apple dan Amazon.

Film Sarat Kekerasan Picu Kontroversi

Citizen Vigilante mengisahkan seorang warga Amerika yang melakukan aksi main hakim sendiri di sebuah negara Eropa.

Dalam cerita tersebut, tokoh utama membunuh puluhan aparat penegak hukum, anggota kelompok kriminal, keluarga pengungsi, hingga warga sipil dengan dalih memerangi imigran Muslim dan pejabat pemerintah yang dianggap "woke".

Baca Juga: Usai Laka Maut, Dishub Madiun Bakal Pasang Guardrail dan Lampu Jalan di Segulung

Sebelum mendapat perhatian luas, film tersebut sempat tidak memperoleh klasifikasi tayang dari regulator perfilman Jerman. Namun setelah dipromosikan Musk, popularitasnya meningkat drastis.

Pada salah satu unggahannya di X, Musk juga membagikan ulang sebuah komentar yang menyebut aksi pembunuhan oleh tokoh utama sebagai "moderate response" terhadap kejahatan yang dilakukan imigran. Unggahan itu memicu kritik karena dianggap melegitimasi kekerasan.

Sorotan terhadap Aktivitas Politik Elon Musk

Dukungan terhadap film tersebut dinilai sebagai bagian dari keterlibatan Musk yang semakin aktif dalam isu politik Eropa, terutama yang berkaitan dengan imigrasi dan kelompok sayap kanan.

Georgios Samaras, akademisi King's College London yang meneliti politik sayap kanan, menilai langkah Musk bukan sekadar aktivitas di media sosial.

"This is a crusade," says Georgios Samaras, an assistant professor of public policy at King's College London who studies the European and US far right.

"Musk uses the power he has to amplify the ideas that he thinks should dominate society. He knows he has the money and he knows he has the influence."

Menurut sejumlah pengamat, kepemilikan platform X membuat Musk memiliki ruang yang sangat besar untuk menyebarkan pandangan politik maupun memperkuat suara tokoh-tokoh yang memiliki ideologi serupa.

Baca Juga: Sering Terjadi Kecelakaan, Warga Minta Pagar Pengaman di Tikungan Tajam Segulung Madiun

X Disebut Memperkuat Narasi Sayap Kanan

Sejak mengambil alih Twitter pada 2022 dan mengubahnya menjadi X, Musk melonggarkan berbagai kebijakan moderasi konten.

Kebijakan tersebut dinilai sejumlah pihak membuat berbagai teori konspirasi dan narasi kelompok ekstrem lebih mudah menyebar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Musk diketahui beberapa kali mengunggah maupun membagikan ulang konten mengenai isu ras, imigrasi, dan identitas kulit putih.

Ia juga pernah memberikan dukungan kepada sejumlah politisi dan partai sayap kanan di Prancis, Jerman, Belanda, Austria, hingga Inggris.

BBC mencatat bahwa Musk juga ikut menyebarkan unggahan mengenai aksi demonstrasi di Irlandia Utara setelah insiden penikaman yang melibatkan seorang warga Sudan.

Unggahannya kemudian menuai kritik karena dianggap memperkeruh situasi di tengah kerusuhan yang terjadi.

Istilah "Remigration" Kembali Mengemuka

Salah satu istilah yang belakangan sering digunakan Musk adalah "remigration", yaitu konsep yang mengusulkan deportasi massal terhadap imigran.

Dalam bentuk paling ekstrem, istilah tersebut dikaitkan dengan gagasan pemindahan paksa orang-orang nonkulit putih atau keturunan asing, termasuk mereka yang lahir dan besar di negara Eropa.

Para peneliti menyebut penyebaran istilah tersebut berpotensi mendorong meningkatnya sentimen antiimigran.

Ben Tarnoff, salah satu penulis buku Muskism: A Guide for the Perplexed, menilai pandangan Musk mengenai Eropa dipengaruhi keyakinan bahwa benua tersebut sedang kehilangan identitas budaya akibat multikulturalisme.

Baca Juga: Bulog Siapkan Beras SPHP Premium, Masih Digodok Bersama Bapanas

Kritik Terhadap Film Terus Bermunculan

Meski berhasil menarik perhatian publik, Citizen Vigilante justru mendapat penilaian negatif dari banyak kritikus film.

Variety menyebut film tersebut sebagai karya yang "astonishingly bad", sementara sejumlah komentator konservatif Amerika juga mengkritiknya karena dianggap mengandung unsur propaganda.

Dalam wawancara dengan The Economist, Musk tetap mempertahankan keputusannya mempromosikan film tersebut.

"It's a movie and it's worth watching."

Ia juga menyatakan tidak menganggap Eropa sebagai "hell hole", tetapi tetap berpendapat bahwa kasus pemerkosaan dan pembunuhan telah meningkat di sejumlah wilayah.

Kontroversi ini kembali menegaskan bahwa pengaruh Elon Musk kini tidak hanya berasal dari bisnis teknologi yang ia pimpin, tetapi juga dari perannya dalam membentuk percakapan publik mengenai politik, imigrasi, dan kebebasan berekspresi di media sosial. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : BBC
Citizen Vigilante Politik Eropa Imigrasi Eropa elon musk Berita internasional